CHEEKY ROMANCE_YOONHAE VER. (7)


 

 Gambar

 

 

 

Author : Nana Lee

 

Novel Karya : Kim Eun Jeong

 

Cast :

 

    1.        So Yoon Pyo a.k.a Lee Donghae

    2.        Yoo Chae a.k.a Im Yoon Ah

    3.        Ki So Yeong a.k.a Kwon Yuri

    4.        Oh Hye Rong a.k.a Hwang Tiffany

    5.        Kim Dae Joon a.k.a Lee Hyukjae

    6.        Yoo Gyu a.k.a Im Sehun

    7.        Lim Eun Yi a.k.a Choi Sulli

    8.        Kang Hee Jae a.k.a Xi Luhan

    9.        PD Nam Guk Hyeok a.k.a PD Cho Kyu Hyun

 10.        Eun Sang a.k.a Byun Baekhyun

  11.        Suster Lee a.k.a Suster Kim Taeyeon

 

.

.

 

.

.

 

PREVIOUS CHAPTER

 

 

“Apa yang terjadi?”

 

“Ibu ini diprediksi akan melahirkan dua bulan lagi. Tapi sejak subuh ia mengeluh perutnya sakit. Kepalanya juga sakit,” Suster Kim buru-buru memberikan penjelasan pada Donghae.

 

“Sepertinya ia mengalami keracunan kehamilan,” seorang dokter koas menambahkan dengan cepat.

 

“Periksa dulu golongan darah, tekanan darah, lalu oksigen didalam kandungannya !” Donghae segera memberi perintah pada Suster Kim.

 

“Ada apa?”

 

Donghae menoleh dan terkejut melihat Yoona muncul dibelakangnya dengan membawa mikrofon di tangannya. Dasar tadi katanya mau berhenti bekerja.

 

“Sepertinya keracunan kehamilan,” Donghae menyahut dengan asal.

 

“Memang gejalanya seperti apa?”

 

Menyebalkan sekali. Apa aku harus menjawab dengan ramah di situasi seperti ini?

 

“Cari saja di internet !” Donghae mengeryitkan dahinya dengan sebal dan berteriak pada Yoona. Kemudian ia kembali berkata pada salah satu perawat disana, “Siapkan kamar operasi.”

 

 

 

CHAPTER 7.

.

.

.

Yoona sebenarnya sudah ingin mencabik cabik orang itu, tetapi saat mendengarnya berkata ‘syukurlah masih bisa bekerja sebagai reporter’, ia rasanya kehilangan kata-kata. Karena toh pada akhirnya ia kembali pada pekerjaanya semula. Namun, jika ia harus bekerja sama dengan dokter itu, julukan ‘ibu hamil nasional’ itu sepertinya tidak akan lepas dari dirinya. Setelah mengetahui ia akan bekerja sama dengan dokter gila itu, rasanya hal ini benar benar tidak masuk akal baginya. Itulah sebabnya ia mengatakan tidak sanggup  menjalankan pekerjaan ini dan berbalik meninggalkannya. Namun, tiba tiba suasana lobi mendadak ramai. Melihat situasi itu, PD Cho langsung memerintahkan Baekhyun untuk menyalakan kameranya dan menyodorkan mikrofon pada Yoona yang sedang berdiri dengan tatapan kosong.

 

Yoona di dorong oleh PD Cho sehingga akhirnya ia berdiri di belakang Donghae. Namun, orang itu malah menyahut dengan wajah kesal dan berteriak menyuruhnya mencari jawaban di internet. Di kantor pun seperti itu, apa di mana mana ia harus hidup sambil diteriaki oleh orang orang?

 

Donghae dan para perawat mendorong ranjang pasien itu dan melewati jalan yang sama saat pagi tadi ia membawa Yoona di atas ranjang pasien itu. Yoona dan para staf yang berlari mengejar mereka akhirnya berhenti dengan napas terengah-engah.

 

“Sepertinya aku harus mulai latihan dulu, sebelum mencari informasi di internet,” Yoona membungkuk dan meletakkan tangannya di lutut sambil mengatur napas.

 

Rumah sakit itu rasanya berubah menjadi tempat rapat bagi tim produksi acara itu. Yoona masuk ke ruang rapat sambil tetap memakai celana pasien. Ia kemudian duduk di depan komputer dan mulai mengetik sesuatu di keyboardnya.

 

 

 

<Khasiat yoghurt ‘Susu Segar’>

Efeknya langsung terasa saat itu juga. Hebat!

 

 

 

Yoona menutup halaman itu dengan sebal. Dibaliknya, terlihat halaman situs berisi informasi tentang keracunan kehamilan yang tadi ia buka. Yoona menarik napas lalu mulai membaca artikel itu.

 

 

 

Keracunan kehamilan biasanya terjadi setelah umur kehamilan melewati 20 minggu….

 

 

 

“Kau mau berhenti?”

 

Terkejut mendengar suara PD Cho, Yoona segera mengangkat kepalanya dan melihat PD Cho sedang memandangnya dengan wajah kecewa. Yoona segera berdiri dan mencakupkan tangannya.

 

“Apa alasannya?”

 

PD Cho memberi isyarat pada Yoona , menyuruh tetap duduk , lalu ia duduk di meja seberang Yoona. Yoona duduk dikursi dengan gugup.

 

“Tadi pagi ada masalah seperti itu dan aku tidak ingin bekerja sama terus dengan dokter itu…”

 

“Yoona-shii, kau ternyata memang tidak bertanggung jawab seperti ini ya?” PD Cho berteriak marah pada Yoona. Suara teriakan ini benar-benar menyebalkan. Padahal ia sangat menginginkanacara tetap seperti ini. Ia pun sebenarnya tidak ingin melepas acara ini. Namun, ketika ia mendapat julukan ibu hamil nasional dan ketika kejadian memalukan tadi pagi , dokter itu selalu ada disampingnya dan ia tidak suka dengan hal itu.

 

“Toh, acaranya juga belum berjalan,  dan kalau ada suaraku direkaman tadi pagi, itu bisa langsung di edit saja…”

 

“Sudahlah. Video yang kita rekam juga masih sedikit dan nanti kalau memang tidak terpakai, ya sudah, dibuang saja,” PD Cho menyahut dengan dingin. Mendengar perkataan PD Cho, Yoona semakin menundukkan kepalanya. PD Cho kembali memandang Yoona dengan tatapan bingung.

 

“Setelah sekian lama kau menginginkan acara tetap mu sendiri, sekarang kau malah melepaskan kesempatan ini hanya karena dokter itu?”

 

Sepertinya tidak ada yang bisa memahami betapa muaknya hati ini, batin Yoona. Meskipun pekerjaanya adalah reporter, ia juga seorang wanita. Sebagai seorang wanita, ia tidak ingin dipermalukan dan dilecehkan seperti ini.

 

“Kemarin kau langsung tidur setelah berbenah-benahkan? Sama sekali tidak membaca informasi tentang spesialis kandungan.”

 

Sesaat Yoona terkejut.

 

“Kesempatan hanya datang pada mereka yang sudah siap. Kau pikir mudah bagiku saat memutuskan untuk bekerja sama dengan mu? Aku memilihmu karena kau selalu bersemangat dalam situasi dan kondisi apapun. Aku tadinya percaya bahwa kau akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabmu, apapun itu.”

 

Yoona menggigit bibirnya. Ia malu pada dirinya sendiri karena terlalu emosional.

 

“Akan tetapi, aku tidak yakin kau bisa melakukan hal ini kalau caramu seperti ini. Kalau kau bertanya disituasi gawat darurat seperti tadi, mana ada dokter yang akan menjawabnya dengan ramah? Toh, saat ditayangkan nanti, video itu akan diberi narasi. Tapi yang terpenting, kau harus punya dasar pengetahuan yang cukup dulu agar tidak melontarkan ppertanyaan konyol seperti itu.”

 

PD Cho menghela napas sejenak lalu melanjutkan ucapannya.

 

“Kalau seperti ini caranya, kau tidak akan bisa menjadi pengisi acara tetap di acara manapun. Karena kualitas dirimu sebagai reporter kurang.”

 

“Maafkan aku, ” Yoona berkata dengan suara pelan. Perkataannya hari ini memang terlontar begitu saja tanpa dipikir terlebih dahulu. Toh, situasinya sudah menjadi seperti ini, ia tidak ingin mendengar kalau ia diberhentikan karena memang dirinya tidak mampu memegang acara ini.

 

“Aku mengerti kalau kesan pertamanya memang kurang baik, tapi itu bukan dirimu yang sebenarnya, kenapa kau harus marah? ‘Aku ini mutiara’, kau ingin berteriak seperti itu? Mutiara hanya akan menjadi mutiara di mata ornag-orang tertentu yang bisa mengenali mutiara itu. Jadi, kau yang harus menunjukkan kalau kau ini adalah mutiara kepada orang lain, mengerti tidak?”

 

Yoona terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.

 

“Jadi bagaimana, Kau mau lanjut atau tidak?” PD Cho melipat tangannya dan menatap Yoona.

 

“Apa aku….. boleh lanjut?” Yoona berkata pelan sambil mengangkat kepalanya dan memperhatikan reaksi PD itu. PD itu kemudian menyahut dengan tidak sabar.

 

“Apa aku boleh lanjut?’. Kita kan sudah berjanji akan mengerjakan proyek ini bersama-sama. Kau yakin bisa bekerja dengan sungguh-sungguh kan?”

 

“Iya, aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh.”

 

Yoona langsung berdiri dari duduknya dan segera membungkukkan badanya 90 derajat.

 

“Ayo kita semangat. Fighting !!!”

 

PD Cho tersenyum penuh harap pada Yoona sambil menunjukkan kepalan tangannya. Yoona hanya tertawa kecil sambil ikut mengepalkan tangannya.

 

“Fighting !!!”

 

Hanya ada satu cara bagi mutiara untuk menjadi mutiara sejati, yaitu dengan memecahkan cangkang dan keluar untuk menunjukkan dirinya sendiri. Ia harus bersinar agar orang lain dapat mengenali “nilai” nya, yaitu dengan kerja keras.

 

Setelah berpisah dengan PD Cho, Yoona berjalan seorang diri kearah lobi bagian spesialis kandungan. Ia tiba-tiba mendengar suara beberapa perawat yang terkikik geli dan menoleh kearah mereka. Kemudian ia melihat celana pasien di meja perawat itu. Celana yang sama persis denga celana yang ia pakai saat ini. Meskipun semangatnya sedang meluap-luap saat ini, entah kenapa ia tetap merasa menyedihkan.

 

“Yoona !”

 

Tiba-tiba ia mendengar suara Yuri memanggilnya. Ketika ia menoleh, ia melihat Yuri datang menghampirinya dengan ekspresi wajah aneh.

 

 

Mereka berdua duduk di sebuah kursi panjang sambil menyedot minuman jus masing-masing.

 

“Jadi kau syuting acara ini dan tinggal dirumah sakit ini?”

 

Yuri melirik celana yang dikenakan Yoona dengan tatapan prihatin.

 

“Aku akan ganti celana ini.”

 

Yoona menurunkan sedotannya sampai ke dasar botol jusnya dan menyedotnya sampai terdengar suara ‘sruup’.

 

“Tapi. Eonni kenapa datang lagi kesini? Sepertinya baru kemarin Eonni datang.”

 

“Ada pemeriksaan lain sebelum melahirkan.” Yuri berkata sambil menggigit sedotannya.

 

“Oh, iya, Eooni sudah periksa untuk mencegah keracunan kehamilan juga?”

 

“Mungkin, sepertinya sudah.”

 

“Kalau belum, sebaiknya Eonni ikut pemeriksaan itu. Ternyata itu sangat berbahaya. Semakin tua usia kehamilan, kemungkinannya semakin besar dan berbahaya bagi ibu dan bayi di kandungan,” Yoona memperingatkan Yuri dengan sungguh-sungguh. Yuri hanya mendengus pelan.

         

“Bahkan kau sekarang sampai tahu hal-hal seperti itu.”

 

Yoona menghela napas melihat reaksi Yuri.

 

“Aku juga heran.”

 

“Tapi dokter gila yang menjadi musuhmu itu, bukan dokter yang menanganiku kan?”

 

“Kau belum melihat Youtube rupanya,”

 

“Hah?”

 

Sepertinya ia memang belum melihatnya. Pantas saja ia bertanya dengan polos seperti ini.

 

“Tidak seru kalau kuberitahu sekarang, aku tidak akan memberikan spoiler. Nanti kau cek saja saat ditanyangkan di TV.”

 

Mendengar ucapan Yoona, Yuri hanya memasang ekspresi ‘apa-apaan anak ini’.

 

”Oh, iya !  Eonni katanya kemarin sembelit kan?”

 

”Iya,”

 

Yuri terus menyedot botol minumannya yang sudah kosong dan menganggukkan kepalanya.

 

”Kusarankan Eonni minum yoghurt. Benar-benar ampuh !”

 

Yoona mengacungkan jempolnya sambil mengatupkan mulut dan mengangguk-angguk dengan yakin. Melihat Yoona seperti itu, Yuri membelalakkan matanya.

 

Yuri dan Yoona membuang botol jus mereka ke tempat sampah dan berjalan menuju ke sebuah minimarket. Kemudian, tidak sengaja mereka bertemu dengan Donghae dan Eunhyuk yang tengah berdiri bersebelahan sambil memilih – milih kimbab yang berbentuk segitiga.

 

“Sepertinya kau senang memakai celana pasien itu ya?” Donghae berkata dengan dingin pada Yoona. Sesaat Yoona Yoona kembali teringat wajah dan ucapannya tadi siang yang menyuruhnya mencari informasi di internet. Jelas orang ini menganggapnya reporter yang payah.

 

“Aku tadi sedang sibuk,” Yoona balas menyahut dengan ketus.

 

 “Sibuk mencari data di internet?” Donghae menatapnya dengan tatapan remeh. Benar-benar orang ini ! Yoona tidak menjawab apa-apa dan hanya balas menatapnya tajam.

 

“Kalau kau hanya akan bertanya hal-hal seperti itu, aku tidak bisa bekerja sama denganmu. Karen menyelamatkan nyawa berharga dihadapanku 1000 kali, 1000 kali lebih penting daripada menjawab pertanyaanmu itu,” Donghae menyelesaikan ucapannya sambil membayar makanannya di kasir. Ia lantas pergi meninggalkan toko itu tanpa melirik kearah Yoona sedikit pun. Eunhyuk yang menatap Yuri dan Yoona dengan bingung lalu hanya mengucapkan salam dengan kaku dan pergi mengikuti Donghae. Yuri kemudian menoleh pada Yoona dengan bingung.

 

“Apa dokter musuhmu itu yang tadi….”

 

          “Makanya lihat di Youtube !”

 

Yoona melampiaskan kekesalannya terhadap Donghae kepada Yuri dan ia menunjuk kearah lemari es yang memajang yoghurt itu dengan sebal.

 

“Dokter itu,  katanya ia adalah anak dari ketua yayasan rumah sakit ini. Wajah tampan, kemampuannya hebat, dan bahkan rasa sayang dan pedulinya pada bayi melebihi dokter-dokter wanita dirumah sakit ini. Kalau menyangkut masalah bayi, katanya ia punya pendirian yang kuat dan tidak takut dengan siapa pun, bahkan dengan kakeknya presiden pun ia berani melawan.”

 

Tiba-tiba Yuri bercerita dengan penuh semangat tentang dokter itu.

 

“ Tapi sepertinya ia adalah orang yang tidak bisa menilai situasi dan kondisi,”  Yoona menyahut dengan malas. Ia tidak terlalu peduli kalau Yuri sangat memuja dokter itu.

 

“ Bagaimanapun, katanya sifatnya juga sangat baik. Benar-benar semprna. Benar-benar lelaki idamanku. Tapi sebenarnya setiap orang juga menginginkan laki-laki seperti itu, iya kan?”

 

Yuri menggigit bibir sambil mengelus-elus perutnya.

 

“Harusnya waktu itu aku menggoda dokter itu saja.”

 

Yoona hanya berdecak tidak percaya. Kemudian Yuri menggelengkan kepalanya dengan wajah menyesal.

 

“Tapi mau laki-laki sehebat apapun, tetap saja mereka tidak bisa membuang sikap mereka yang kadang berubah seperti anjing, kadang seperti manusia. Dokter itu pasti juga seperti itu. Semua laki-laki seperti itu. Makanya aku memutuskan untuk menjadi single mom seperti ini.”

 

“Hebat sekali kau ini. Aku hanya penasaran siapa laki-laki yang sampai membuat Eonni membandingkan laki-laki dengan binatang.”

 

Yoona segera membungkuk dengan hormat kepada Yuri kemudian ia menatap kearah pintu yang tadi dilalui oleh Donghae dengan penuh emosi.

 

 

 

 

 

 

“Siapa perempuan itu?” Eunhyuk yang berjalan dibelakang Donghae menoleh sekilas kearah minimarket.

 

“Dia kan yang tadi kau panggil ‘ibu hamil nasional’ itu,” Donghae menjawab dengan asal.

 

“Bukan, perempuan yang disebelahnya itu….”

 

Melihat Eunhyuk terus menoleh kearah minimarket itu, Donghae ikut melirik kearah yang sama. Didepan Yoona, terlihat seorang wanita yang sednag hamil tua sedang memegang sebuah roti.

 

“Benar-benar ibu hamil ya,”

 

“Tapi, biasanya kan tidak mudah bagi ibu hamil untuk bergaya seperti itu… kelihatannya benar-benar profesional dan elegan.”

 

Eunhyuk menjilat bibirnya sambil memandang wanita itu dengan kagum. Wajahnya seolah melihat game keluaran terbaru.

 

“Jadi, sekarang kau tertarik pada ibu-ibu hamil?”

 

“Aku suka sekali melihat ibu hamil yang elegan seperti itu. Lihat tidak? Garis lehernya sempurna sekali.”

 

“Kau ini benar-benar cabul ya?”  Donghae menyipitkan matanya dan menatap Eunhyuk penuh selidik.

 

“Benar-benar wanita idamanku.”

 

Saat itulah, barulah Eunhyuk mengalihkan pandangannya dari ibu hamil itu dan melanjutkan langkahnya setelah mengepalkan tangannya sendiri dengan wajah menyesal.

 

“Kalau kau melihat kejadian tadi pagi, kau pasti tidak akan tertarik pada teman wanita si pembuat masalah itu.”

 

“Oh, iya. Harusnya aku juga melihat langsung kejadian heboh tadi pagi. Waktu muncul di TV juga seperti itu, dari cara munculnya saja sudah berbeda. Penuh kejutan, shocking. Pasti ia akan menjadi orang hebat,” Eunhyuk berkata kagum sambil menghela napas disaat yang bersamaan.

 

“Nah, kenapa kau tidak minta tanda tangan padanya?”

 

Donghae berjalan dan melirik sekali lagi kearah minimarket itu. Ibu hamil yang disukai Eunhyuk itu berjalan keluar dari minimarket sambil meminum sebotol yoghurt dengan lahap. Kemudian, Yoona yang berdiri didepan ibu hamil itu hanya diam dan mengawasinya. Donghae tiba-tiba merasa hatinya berat dan gelisah. Entah kenapa perempuan yang tadinya ia anggap menyenangkan itu kini terasa seperti beban baginya.

 

“Kalian beli apa ?” Tiffany tiba-tiba muncul dan menghampiri mereka berdua.

 

“Anak ini benar-benar cabul rupanya.” Donghae berkata dengan heran sambil melirik Eunhyuk.

 

“Hah?” Tiffany memandang Eunhyuk dengan bingung.

 

“Masa ia tertarik dengan ibu hamil.”

 

“Ibu hamil yang mana?”

 

“Yang dibelakang itu,” Eunhyuk menunjuk kearah minimarket tempat Yuri dan Yoona berada. Tiffany yang memperhatikan kedua orang itu dengan seksama ternyata mengenali mereka.

 

“Gayanya berbeda, kan,” Eunhyuk kembali menunjukkan rasa kagumnya.

 

“Benar juga. Ia adalah seorang fashion designer terkenal dan seorang single mom.”

 

“Apa? Janda?” Eunhyuk terkejut dan mendekat pada Tiffany. Matanya melotot lebar.

 

“Bukan, ia belum menikah.”

 

“Serius?” Eunhyuk kembali menatap ibu hamil itu dengan mata yang bersinar-sinar. Matanya bersinar seperti komet yang sedang melaju kencang.

 

“Kekhawatiranku seperti langsung sirna.”

 

Donghae hanya mendecakkan lidahnya melihat Eunhyuk seperti itu.

 

“Kenapa?” Tiffany bertanya padanya dengan tatapan ingin tahu.

 

“Dasar cabul.”

 

Donghar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Euhyuk yang seolah tersihir oleh ibu hamil yang bersama Yoona itu. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Donghae menghentikan langkahnya dan mengeluarkan telepon genggamnya. Telepon itu dari ibunya. Donghae kembali memasang wajah murung. Donghae memberi isyarat pada Tiffany dan Eunhyuk untuk berjalan lebih dulu dan menjawab teleponnya dengan nada dingin sambil membalikkan badannya dan berjalan kearah yang berlawanan.

 

“Halo?”

 

“Tuan muda?”

 

Ternyata pembantu di rumahnya yang menghubunginya.

 

“Ya, ada apa?”

 

Baru sekali ini pembantunya menghubunginya sehingga perasaannya tidak enak.

 

“Nyonya tidak mau makan…”

 

Sesaat Donghaae merasa lega. Sepertinya ibunya tidak suka makan sendirian dan kesepian seperti itu. Namun, ia juga tidak ingin membujuk ibunya. Ia tidak pernah berbuat seperti itu sebelumnya.

         

“Sepertinya ibu sedang mual. Bibi kasih obat saja, atau pijit tangannya pelan-pelan…. Atau, bibi suruh ibu untuk puasa saja, karena saat sedang mual memang lebih baik puasa. Kalau begitu, sudah dulu ya, saya sibuk.”

 

Donghae hendak menutup teleponnya namun ia sesaat merasa ragu. Kemudian akhirnya ia segera menutup teleponnya. Padahal seharusnya ia bisa berkata ‘sebaiknya makan bersama ibu juga, temani ibu makan’. Tapi ia sudah terlanjur menutup telponnya. Donghae berusaha menghilangkan rasa gelisah yang tadi merasukinya. Ia mengangkat kepalanya dengan semangat dan melangkahkan kakinya cepat. Kepalanya terasa tambah sakit bila mengingat masalahnya dengan Yoona.

 

Donghae menghela napas begitu ia kembali ke ruang praktiknya. Kalau sampai perempuan itu tidak hamil, ternyata ia melakukan kesalahan fatal pada perempuan itu. Donghae menyalakan komputernya dan kembali mencari informasi tentang ibu hamil nasional itu. Mulai dari komentar yang sarkastik, yang blak-blakan memaki-makinya sebagai reporter yang tidak berguna, sampai video olok-olokkan yang sama sekali tidak lucu…. Donghae mengusap keringat dingin di wajahnya dengan tangan. Tadi ia memang sudah menganggap perempuan itu menyedihkan, tetapi rupanya dirinya sendiri pun sama menyedihkannya. Donghae menatap foto dirinya dan Yoona yang tengah ribut direstoran dengan serius. Ia kemudian mengetikkan sesuatu di keyboardnya.

 

 

 

 

 

 

Yoona kembali ke rental housenya untuk mengganti celananya dan segera keluar kembali. Saat itu, tiba-tiba telepon genggam disakunya berbunyi.

 

“Halo? PD Cho! Ah, iya, aku akan segera kesana!” Yoona menutup teleponnya dan bergegas berlari.

 

“Sepertinya kemampuan berlariku yang berkembang lebih dulu dibandingkan kemampuanku sebagai reporter. Hah, capek !”

 

Yoona sedang berlari terengah-engah ketika sebuah sepeda melaju melewatinya. Ketika ia melihat ke sekelilingnya, ternyata ada sebuah tempat penyewaan sepeda jauh didepannya.

 

Yoona mengikat sepedanya dipojok lapangan parkir dan segera berlari memasuki rumah sakit. Hari ini ia akan melakukan wawancara dengan Donghae. Yoona duduk didepan meja, berhadapan dengan Donghae, dan menatapnya dengan dingin. Donghae balas menatap wajah Yoona dengan berani, seolah menantangnya. Beberapa staf sibuk menyiapkan lokasi syuting didepan mereka. Seharusnya mereka berbincang-bincang ringan sebelum rekaman dimulai, agar wawancaranya bisa terlihat natural, tetapi keduanya tidak menunjukkan niatan itu. Donghae memandang celana baru yang dikenakan Yoona. Yoona mengalihkan pandangannya karena malas berbicara dengan Donghae dan saat itu ia melihat botol shake di atas meja Donghae. Donghae memperhatikan tatapn Yoona membuka mulutnya lebih dulu.

 

“Aku tidak sempat sarapan tadi.”

 

Siapa juga yang bertanya? Yoona menatapnya tajam.

 

“Karena kau sudah melihat daftar pertanyaannya, kau tinggal menjawabnya dengan santai. Kami akan mengeditnya dan menayangkannya di sela-sela acara.”

 

PD Cho berdiri sambil bersandar di meja yang terletak di antara Donghae dan Yoona dan menatap keduanya secara bergantian. Donghae dan Yoona menghindari tatapan PD itu dengan wajah pasrah. Sebelum mundur menjauhi mereka, PD itu berbisik ‘shoot’ pada mereka. Kemudian keduanya memasang senyum palsu dan mulai saling bertatapan.

 

“Apa ada alasan khusus mengapa Anda memilih untuk menjadi dokter kandungan?”

 

Donghae tersenyum kecil melihat Yoona yang memasang senyum lebar penuh rasa benci itu.

 

“Meskipun tidak ada bagian yang tidak penting dalam dunia kedokteran, dibandingkan bidang yang lain, saya lebih tertarik untuk mempelajari tentang spesialis kandungan ini. Saya banyak belajar tentang bagaimana perjuangan luar biasa seorang ibu saat persalinan dan saya sangat terharu saat menyambut bayi yang baru lahir didunia ini. Saya juga ingin membantu para ibu yang mengalami kesulitan dalam proses ini dan berharap dapat memberi kekuatan bagi ibu-ibu luar biasa yang ada didunia ini. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mendalami bidang ini.”

 

Bagi laki-laki ini, penghargaan tertingginya seperti terletak pada masalah ibu dan anak.

 

“Apa Anda sudah menikah?” Yoona bertanya dengan ramah.

 

“Tidak, saya belum menikah.”

 

Sepertinya sih seperti itu, kalau dilihat dari sifatnya yang tidak sabaran dan menyebalkan, batin Yoona. Ia kemudian tersenyum manis yang dibuat-buat.

 

“Berarti kalau Anda menikah nanti, Anda ingin sekali mempunyai anak ya?”

 

“Ya, itu adalah mimpi saya.”

 

Seketika mulut Yoona terbuka lebar.

 

“Anda ingin seperti itu?”

 

“Ya.”

 

Bersamaan dengan reaksi Donghae yang panic, terdengar suara ‘cut !’ dari PD Cho.

 

“Pertanyaan macam apa itu?” PD Cho terlihat kecewa.

 

“Aku juga tidak sengaja, maaf.”  Yoona pun terlihat panic. Ia pikir itu hanya ada didalam pikirannya, ternyata malah terlontar dari mulutnya. Donghae menatap Yoona dengan heran dan tidak percaya. Yoona lebih heran lagi dengan tatapanny yang seperti itu.

 

“Aku dengar, katanya laki-laki tidak tahan melihat istrinya sendiri melahirkan,” Yoona berkata pada Donghae dengan nada menuduh. Donghae semakin heran melihatnya.

 

“Kenapa tidak tahan? Itukan momen berharga, saat anakku sendiri lahir ke dunia ini. Tidak tahan karena darah segar yang berceceran kemana-mana? Kau lupa kalau itu pekerjaanku?”

 

Menyebalkan sekali dokter ini.

 

“Benar juga ya. Bahkan kau sampai melihat hal-hal yang lain, kan?” Yoona menyindirnya dengan kejadian memalukkan yang menimpa dirinya pagi itu. Donghae yang mengerti arah pembicaraan itu semakin kesal.

 

“Ya, itu kan salah satu fenomena fisik manusia yang paling dasar dan tidak bisa disalahkan. Bisa saja terjadi ditengah proses persalinan.”

 

“Hebat sekali kau ini, ya,” Yoona tidak tahu bagaimana lagi menyindir orang ini.

 

“Kalian akan terus bertengkar seperti ini… kalian berdua?” PD Cho tiba-tiba datang menghampiri mereka sambil melipat tangannya dan memandang dengan tidak sabar. Aku benar-benar ingin menghentikan acara ini.

 

 

 

Setelah mendekati jam pulang kantor, barulah wawancara berikutnya dapat dilaksanakan. Kali ini adalah giliran Tiffany. Wawancara dengannya berjalan lancar dan memuaskan. Setelah syuting, PD dan Tiffany saling mengucapkan salam. Para staf membereskan perlengkapan mereka dan Yoona mengucapkan salam padaTiffany.

 

“Terima kasih atas kerja samanya hari ini.”

 

“Kita pernah sebelumnya, kan?” Tiffany menatap wajah Yoona seolah familiar dengannya.

 

“Iya, salah satu Eonni kenalan saya adalah pasien dokter. Kemarin kita bertemu saat saya mengantar Eooni itu melakukan pemeriksaan USG,” Yoona tertawa canggung dan Tiffany hanya tersenyum.

 

“Kau tidak apa-apa?”

 

“Ya?”

 

“Aku dengar tadi pagi…”

 

Pertanyaan yang lebin memalukkan daripada julukan ‘ibu hamil nasional’

 

“Ah, iya..”

 

Apa harga dirinya terasa lebih terluka karena sesame wanita? Yoona tidak dapat menatap Tiffany secara langsung.

 

“Kau pasti merasa tidak nyaman dengan Dokter Lee, ya?”

 

Sepertinya dokter ini mengkhawatirkannya, pikir Yoona.

 

“Tidak apa-apa, ini sudah pekerjaanku.”

 

“Tenang saja, ia bukan orang yang pendendam. Oh, iya, namamu Yoona ya? Aku harap kau bisa memahaminya. Aslinya dia adalah orang yang sangat lembut pada wanita.”

 

Orang ini ingin pamer kalau laki-laki itu selalu bersikap lembut padanya, ya? Melihat gaya bicaranya, tidak salah lagi, sepertinya mereka berdua adalah kekasih.

 

“Iya, baiklah,” Yoona menjawab seadanya lalu keluar dari ruang periksa itu bersama dokter itu dan staf yang lain. Ketika Yoona hampir tiba di lobi, beberapa perawat dengan ranjang pasien berjalan-jalan tergesa-gesa melewatinya. Di atas ranjang itu terlihat seorang wanita yang pingsan, dan Donghae terlihat naik ke atas ranjang pasien itu. Ia sedang melakukan CPR sambil menekan-nekan dada pasien itu.

 

Yoona terkejut dan panic melihat Donghae yang banjir keringat dan mengerahkan segala tenaganya untuk menyelamatkan wanita itu. Ia merasa asing karena tidak pernah melihat wajah seserius itu sebelumnya.

 

“Kau bisa pegang alat itu dengan benar tidak?” Donghae yang masih menekan dada pasien diatas ranjang yang melaju itu berteriak kepada seorang perawat yang memegangi alat bantu pancu jantung disampingnya. Yoona hanya menatapnya menjauh dengan bengong dan kagum. Tiba-tiba staf disampingnya langsung mulai berlari mengikuti Donghae dan pasien itu.

 

“Yoona !” PD Cho sudah berlari duluan dan memanggilnya.

 

“Ah, iyaa !”

 

Saat itu, Yoona yang tersadar kembali dari lamunannya barulah mulai berlari mengikuti mereka.

 

Setelah tiba didepan ruang operasi, Yoona menyeruak diantara para perawat dan berhasil masuk ke ruangan itu. Sementara dibelakangnya, staf yang lain berusaha mengambil gambar dengan berhati-hati agar tidak mengganggu dokter dan para perawat itu.

 

“Apa yang terjadi?” Yoona bertanya dengan hati-hati sambil menatap pasien yang tidak sadarkan diri itu. Ranjang dibagian kaki pasien itu sudah berlumuran darah. Kemudian ia melihat kearah Donghae yang masih sibuk melakukan tindakan CPR.

 

“Perutnya tertusuk kaca dan besi, dan wanita ini sedang hamil,” Suster Kim menyahut pertanyaannya dengan cepat. Yoona seketika itu membelalakkan matanya seolah ia dapat ikut merasakan penderitaan pasien itu.

 

“Pe…perutnya? Lalu, bayinya?”

 

“Maaf. Kami harus pergi.”

 

Suster Kim bergegas mendorong ranjang itu memasuki ruang operasi. Yoona berhenti tepat didepan pintu yang tertutup dihadapannya. Sementara kamera tetap sibuk berusaha mengambil gambar ruang operasi itu dari sela-sela pintu sebelum tertutup sepenuhya.

 

 

 

….

 

 

 

Ditengah para perawat yang berdiri mengelilingi meja operasi, terlihat Donghae dan Eunhyuk tengah berdiri berhadapan.

 

“Rahimnya hancur. Pendarahannya juga parah. Sepertinya rahimnya harus segera diangkat ya?” Eunhyuk yang sudah mengenakan masker diwajahnya berkata dengan pahit. Donghae yang juga sudah siap dengan maskernya mengerutkan alisnya sejenak. Kemudian ia bertanya, “Dia sudah punya anak?”

 

Eunhyuk menoleh kepada perawat disampingnya. Perawat itu menggelengkan kepalanya dan Eunhyuk kemudian mengangguk pada Donghae. Donghae menghela napas, dan berkata dengan berat, “Angkat.”

 

 

 

Donghae keluar dari ruang operasi dengan perasaan tidak karuan dan tidak seperti biasanya, ia agak terkejut saat melihat Yoona dan beberapa staf sedang menunggu didepan pintu operasi.ia tidak terlalu ingin berbicara dengan mereka disituasi seperti ini. Donghae melepas masker dalam diam dan melangkahkan kakinya sambil berharap mereka tidak mengajaknya berbicara. Tiba-tiba kamera langsung menghampirinya yang diikuti dengan pertanyaan Yoona.

 

“Operasi apa yang tadi Anda lakukan.”

 

Muak rasanya. Donghae tidak menjawab pertanyaan itu dan menoleh kepada Suster Kim.

 

“Keluarganya?”

 

“Suaminya ikut mengalami kecelakaan, sekarang sedang dioperasi dibagian bedah.”

 

Donghae menghela napas. Ia tahu Yoona sedang memperhatikan dirinya saat ini disampingnya. Donghae yang awalnya ingin tetap berjalan meninggalkannya akhirnya menghentikan langkah.

 

“Operasi pengangkatan rahim.”

 

“Pengangkatan rahim… kenapa?”

 

Kalau disuruh untuk mencari jawabannya di internet lagi, sepertinya reporter ini akan mengamuk. Donghae akhirnya menjawab dengan sisa-sisa kesabarannya.

 

“Pasien itu hamil 12 minggu. Mobil yang ia kendarai tertimpa muatan kawat besi yang dibawaa oleh sebuah truk saat berusaha melewati truk itu. Kawat besi yang terlepas dari truk itu memecahkan kaca mobilnya dan mengenai perutnya. Rahimnya terluka parah sehingga pendarahannya pun parah.”

 

“Astaga, lalu anaknya…” Yoona bertanya seolah menjerit ketakutan. Donghae tidak menyahut kembali. Ia lantas melangkahkan kakinya kembali.

 

“Apa ia sudah menikah, apa ia sudah punya anak?”

 

Mendengar pertanyaan Yoona yang mendadak seperti itu, Donghae berhenti dan menoleh padanya. Ia menatap mata Yoona yang penuh kekhawatiran dan berkata dengan datar.

 

“Silahkan periksa data pribadi pasien.”

 

Donghae menganggukkan kepalanya sebagai ucapan salam dan berbalik meninggalkan mereka. Panic. Pikirannya kalut. Reporter yang biasanya bertanya ‘penyakit apa ini, penyakit apa itu’ ditengah situasi darurat, sekarang malah bertanya hal-hal seperti itu. Setelah dipikir-pikir, ternyata perempuan itu masih punya hati juga.

 

 

 

….

 

 

 

Yoona menjulurkan mikrofon dengan tangannya dan menatap punggung Donghae yang pergi menjauh dengan sedih. Ia teringat ekspresinya saat sedang melakukan CPR dan berusaha menyelamatkan pasien itu sebelum operasi. Ia terlihat sama kehilangannya seperti pasien yang kehilangan rahimnya. Apa dia benar-benar laki-laki yang begitu peduli pada ibu hamil dan bayinya? Kalau begitu, pantas saja ia bertindak seperti kejadian direstoran saat itu.

 

Tentu saja Yoona tahu bahwa kamera dibelakangnya masih merekam adegan pundaknya yang tergantung lemas dan punggung Donghae yang berjalan menjauh sehingga Yoona tetap diam berdiri mengawasi Donghae ditempat itu selama beberapa saat.

 

“Ternyata itu kehamilan pertamanya, pasien itu,”  PD Cho yang mengecek data pribadi pasien dari para perawat berkata dengan berat.

 

“Kalau ia belum pernah melahirkan dan sudah harus kehilangan rahim nya pasti ia akan merasa kehilangan. Iya kan?”

 

Baekhyun yang membawa kamera disebelahnya pun ikut berkata dengan nada prihatin. Yoona hanya diam tertegun sambil mendengarkan ucapan mereka. Wajah Donghae saat melakukan CPR dan punggungnya yang berjalan menjauh dengan lesu tidak bisa pergi dari pikirannya.

 

“Pertanyaanmu tadi bagus. Sangat manusiawi. Bagus, bagus.”

 

PD Cho menepuk-nepuk pundak Yoona. Yoona yang masih tertegun selama beberapa saat lalu mengeluarkan telepon genggamnya. Ia ragu sejenak , kemudian menundukkan kepalanya.

 

Yoona menatap langit senja yang mulai gelap dari teras rumah sakit. Kemudian ia menekan tombol di telepon genggamnya  dan mendekatkan ke telinga dengan wajah murung.

 

“Bibi,” Yoona tengah menatap matahari senja dan merasakan angina musim gugur menerpa tubuhnya. Suaranya terdengar lebih murung dan lesu.

 

“Ada apa? Bukankah kemarin kau senang karena akan tidur diluar?” bibinya menjawab telepon dengan ketus.

 

“Bibi sedang apa?”

 

Yoona dapat membayangkan sosok bibinya yang sedang menjawab teleponnya. Entah kenapa, ia tiba-tiba merasa kasihan pada bibinya.

 

“Melipat baju. Ada pakaian dalammu juga ini,” bibi tertawa datar.

 

“Sudang usang?”

 

“Masih bagus.”

 

“Punya Bibi, maksudku,” Yoona semakin memelankan suaranya.

 

“Kenapa, kau mau membelikan yang baru?” terdengar suara bibi yang tertawa sambil mendengus pelan.

 

“Iya. Bibi suka warna merahkan?”

 

“Memangnya kalau aku pakai warna merah, lantas mau ditunjukkan ke siapa?”

 

Bibinya kembali terkekeh pelan. Ucapan bibinya itu semakin membuat hatinya sakit. Yoona menatap langit dan menarik napas panjang. Pandangannya mulai buram.

 

“Kenapa Bibi tidak menikah saja?” Yoona bertanya dengan muram.

 

“Apa?”

 

“Kan lebih baik Bibi menikah saja, tidak usah memedulikan kami.”

 

Yoona dapat merasakan matanya memanas. Ia memang pernah merasa kasihan pada bibinya yang tidak menikah, tetapi baru kali ini ia merasa hatinya sakit mengingat bibinya itu.

 

“Kau sekarang, kau mau mengusirku karena sudah tidak membutuhkanku ya?”

 

Yoona sama sekali tidak keberatan mendengar ucapan ketus bibinya.

 

“Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin Bibi menyesal nantinya. Kalau Bibi juga punya anak…” ucapan Yoona tercekat dan terhenti.

 

“Sudah, jangan berisik. Kalau aku punya anak pun, paling-paling anaknya seperti kau atau Sehun. Anak ini aneh sekali tiba-tiba menelpon dan berkata seperti ini. Kalau tidak ada yang mau kau bicarakan lagi, sudah ya. Bibi mau menyiapkan makan malam,” bibi berkata dengan nada kesal. Apa ia benar-benar merasa kesal seperti suaranya itu?

 

“Ya sudah.” Yoona menyahut dengan lemas.

 

“Kau sudah makan belum?”

 

Apa bibi sekarang sudah mengerti maksud hatinya? Tidak biasanya bibi menanyakan hal seperti ini.

 

“Tentu saja. Makanan di kantin rumah sakit ini enak-enak.”

 

“Baguslah. Pasti kau senang kan karena tidak ada yang mengomelimu?”

 

Suara bibinya itu terdengar lucu ditelinga Yoona.

 

“Tentu saja.” Yoona balas menyahut dengan ketus.

 

“Ya sudah, tutup dulu ya.”

 

Bibi langsung menutup teleponnya begitu saja. Yoona mengatupkan bibirnya dan menjauhkan telepon itu dari telinganya. Kalau saja bukan karena masalah keluarga, pasti bibi sudah menikah. Katanya ia tidak bisa menikah dan meninggalkan keluarganya…. Yoona teringat kembali perkataan bibinya yang selalu mengeluh mengenai dirinya dan adiknya. Ia juga teringat perkataan ayahnya yang merasa menyesal melihat bibi seperti itu. Saat itu ayahnya berkata, sewaktu keluarganya masih hidup berkecukupan, banyak yang ingin melamar bibi. Tetapi setelah sekarang semuanya hancur, bibi pun tetap disuruh menikah meskipun hanya dengan seorang peternak sapi. Setidaknya ia tidak akan mati kelaparan. Tetapi bibi tetap menolak dan bersikeras tidak ingin menikah. Saat itu bibi berkata tidak akan meninggalkan Yoona dan Sehun yang saat itu masih kecil. Seandainya ibunya masih hidup, seandainya neneknya tidak sakit.

 

Yoona yang awalnya menganggap pasanganlah yang terpenting dalam pernikahan, kini merasa bahwa perbedaan antara menikah atau tidaknya lah yang memengaruhi kebahagiaan seseorang. Lalu, perbedaan antar “melahirkan anak”, “tidak melahirkan”, dan “tidak bisa melahirkan”. Ia kemudian menyandarkan lengannya dipagar teras dan terus menatap matahari yang warna kemerahannya seolah merasuk ke hatinya.

 

 

 

….

 

 

 

Yoona melangkahkan kakinya dengan berat kearah lobi rumah sakit bagian kandungan dan melihat suasana lobi yang ramai. Beberapa orang separuh baya, yang terlohat seperti anggota komite rumah sakit mengenakan jas putih dan berjalan menuju ruang rapat dengan wajah muram.

 

“Ada apa lagi?”  Yoona menghadang Baekhyun yang berjalan melewatinya dan bertanya.

 

“Dokter itu mengeluarkan surat permintaan maaf.”

 

“Surat permintaa maaf? Siapa?” Yoona bertanya sambil membelalakkan matanya. Tepat saat itu, Donghae datang dan memasuki ruang rapat dengan wajah serius.

 

“Dokter itu,” Baekhyun menunjung Donghae yang menghilang dibalik pintu rapat.

 

“Permintaan maaf apa?” Yoona bertanya dengan bingung.

 

“Tentang kau. Masa kau lupa? Tentang kejadian itu lho,” Baekhyun menatap Yoona seolah berkata ‘kau tida ingat?’.

 

Kejadian apa? Sesaat Yoona teringat kembali dengan kejadian direstoran waktu itu. Yang benar saja, ia akan meminta maaf tentang hal itu, sekarang?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC…

 

LEAVE YOUR COMMENT…

 

Dipublikasi di yoonhae | Tag | 24 Komentar

CHEEKY ROMANCE_YOONHAE VER. (6)


 

 

 

Gambar

 

 

Author : Nana Lee

 

Novel Karya : Kim Eun Jeong

 

Cast :

 

     1.        So Yoon Pyo a.k.a Lee Donghae

    2.        Yoo Chae a.k.a Im Yoon Ah

    3.        Ki So Yeong a.k.a Kwon Yuri

    4.        Oh Hye Rong a.k.a Hwang Tiffany

    5.        Kim Dae Joon a.k.a Lee Hyukjae

    6.        Yoo Gyu a.k.a Im Sehun

    7.        Lim Eun Yi a.k.a Choi Sulli

    8.        Kang Hee Jae a.k.a Xi Luhan 

    9.        PD Nam Guk Hyeok a.k.a PD Cho Kyu Hyun

   10.        Eun Sang a.k.a Byun Baekhyun

   11.        Suster Lee a.k.a Suster Kim Taeyeon

 

.

.

 

.

.

HAPPY READINGGGGGG………

.

.

.

.

Yoona duduk di toiletnya dan mengerang sekuat tenaga sambil mengeryitkan dahi. Suara erangan kesakitan. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya, ‘kalau buang air besar aja sakitnya seperti ini, bagaimana kalau melahirkan anak?’. Saat itu tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh kedalam toiletnya.

 

“Haaah~”

 

Barulah Yoona bisa bernapas lega dan mengusap keringat dingin di dahinya. Meskipun ia tidak puas, tetapi rasanya cukup untuk hari ini. Meskipun begitu, sepertinya ia harus melakukan sesuatu untuk perutnya. Bisa-bisa bagian dalam perutnya rusak kalau seperti ini setiap hari.

 

Yoona keluar dari rumah masih dengan wajah pucat setelah berjuang ditoilet tadi. Tiba-tiba, sebuah kantong susu yang tergantung di pegangan pintu rumahnya jatuh mengenai lututnya. Ia tidak terlalu memperhatikan kantong itu kemarin, tetapi kemudian ia menyadari bahwa ada sesuatu di dalam kantong itu.

 

Kemarin juga ada staf yang mendapat yoghurt dari depan pintu, apa dari kantong itu maksudnya? Yoona perlahan menjulurkan tangannya ke dalam kantong itu. Ternyata kantong itu berisi sebuah kotak yoghurt 80 ml bertuliskan ‘minuman fermentasi untuk pencernaan lancar, buang air besar nyaman, dan bebas sembelit’.

 

“Bagaimana ia bisa tahu penderitaan ku selama ini,” Yoona bergumam dengan kagum. Kemudian ia mendongakkan kepala menatap kearah langit –langit rumahnya. Apa ini dari Tuhan? Ia menangkupkan kedua tangannya sambil tetap memegang yoghurt itu dan berdoa mengucapkan terima kasih. Aku akan meminum hadiah dari langit ini, batinnya.

 

Yoona kemudian menatap kotak yoghurt itu dengan penuh harap dan mulai membukanya. Kemudian ia menghela napas setelah sebuah pikiran rasional memasuki otaknya. Pasti minuman ini adalah minuman langganan penghuni rumah ini yang dulu. Yoona yang awalnya ragu akhirnya pergi ke kantor satpam di tempat itu.

 

Yoona mengetuk kaca di kantor satpam itu dengan hati-hati lalu membungkuk dan melongokkan kepalanya.

 

“Ahjussi, saya penghuni yang baru dirumah itu, apa penghuni sebelumnya memang langganan minuman ini?” Yoona menunjukkan kotak yoghurt yang ia bawa.

 

“Memangnya kau pikir aku ini penjual susu? Kenapa kau bertanya padaku?” satpam itu balik bertanya dengan heran. Setelah dipikir-pikir, benar juga ucapannya itu.

 

“Ah, maaf. Terima kasih.”

 

Yoona yang merasa malu akhirnya hanya mengucapkan salam lalu menegakkan tubuhnya kembali. Kemudian ia membungkuk lagi dan bertanya kembali pada satpam itu.

 

“Oh, iya, kalau begitu, apa Anda punya nomor telepon penjual susu ini?”

 

Satpam itu kembali menyahut dengan ketus, “Memangnya aku ini operator 114?”

 

Benar-benar ahjussi yang berhati dingin. Memang sifatnya seperti itu ya?  Yoona kembali mengucapkan terima kasih kepada ahjussi itu dan menegakkan tubuhnya. Kemudian, seolah teringat sesuatu, Yoona tiba-tiba berlari kembali ke depan rumahnya dan mengangkat kantong susu yang masih tergantung di depan pintunya itu. Ia mengeluarkan handphone nya dan menekan nomor yang tertera di kantong itu. Setelah terdengar nada sambung selama beberapa saat, akhirnya terdengar suara orang yang menyahut di seberang sana.

 

“Terima kasih telah menghubungi ‘Susu Segar’.”

 

“Ya, annyeonghaseyo. Ini dari penghuni baru rental house nomor 308 di Rumah Sakit Taejo, apa benar penghuni sebelumnya berlangganan yoghurt dari tempat Anda?” Yoona bertanya dengan sopan.

 

“308? Ah, iya, benar.”

 

“Iya, penghuni yang lama sudah pindah dan saya akan menempati rumah ini. Sepertinya Anda belum tahu ya? Karena tadi pagi Anda masih mengirim yoghurt ke rumah saya.”

 

Yoona kembali membaca tulisan dikotak yoghurt itu sambil menelpon ke kantor susu itu. ‘….untuk pencernaan lancar, buang air besar nyaman…..’

 

Karyawan yang menerima telepon itu terdengar panik.

 

“Wah, bagaimana ya? Tapi yoghurt itu sudah dibayar di awal oleh penghuni yang dulu.”

 

“Anda tidak punya nomor teleponnya?”

 

“Kami hanya punya nomor telepon rumahnya saja. Kalau ia pindah rumah…..” karyawan itu tidak melanjutkan ucapannya. Yoona kembali menatap kotak yoghurt yang ia pegang.

 

“Untuk pencernaan lancar, buang air besar nyaman. Apa benar yoghurt ini berkhasiat seperti itu?” Yoona bertanya dengan wajah serius.

 

“Tentu saja ! Penghuni rumah yang lama itu juga mendapat rekomendasi dari orang lain dan terus meminum yoghurt itu. Benar-benar bagus untuk kesehatan. Bahkan minuman itu sudah mempunyai hak paten. Anda mau lihat pamflet kami?” karyawan itu segera menjelaskan dengan semangat begitu Yoona menunjukkan ketertarikan pada minuman itu.

 

Akhirnya Yoona berkata, “Ah, tidak perlu. Sekarang saya coba minum ini dulu, kalau nanti ada masalah dengan penghuni yang lama, nanti biar saya yang membayar minuman ini. Tidak apa-apa kan?”

 

Setelah menelpon karyawan perusahaan susu itu, Yoona berjalan keluar sambil menghabiskan yoghurt itu. Entah kenapa, setelah itu ia langsung merasa tubuhnya ringan. Yoona melihat ke sekitarnya mencari tempat sampah dan melempar kotak yoghurt yang sudah kosong.

 

Lemparannya tepat sasaran dan kotak yoghurt itu masuk dengan sempurna ke tempat sampah. Yoona merasa bahwa hal-hal baik akan terjadi padanya hari itu. Ia melangkah keluar dengan perasaan senang sambil mengelus-elus perutnya.

 

 

 

Yoona berjalan dengan langkah ringan seolah ada sayap di kedua kakinya. Namun tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya sebelum memasuki rumah sakit. Perutnya mulai terasa mulas. Bacteri lactobacillus ini. Apakah yoghurt ini sudah mulai bereaksi pada perutnya? Padahal tadi ia datang dengan hati yang ceria, tetapi begitu memasuki rumah sakit bagian kandungan itu, perut Yoona terasa sakit. Minuman itu sebenarnya yoghurt atau obat pencahar sih? Yoona tidak menyangka efeknya akan secepat ini. Tetapi, sebenarnya tadi pagi pun ia tidak bisa buang air besar dengan lancar, dan setelah beberapa hari seperti itu, mungkin inilah saatnya mereka keluar.

 

Yoona semakin merasa tidak enak dan ia segera mempercepat langkahnya. Kemudian, ia terkejut karena merasakan suatu sinyal di bagian bawah tubuhnya. Sinyal yang menyuruhnya untuk segera pergi ke toilet. Sebentar lagi. Yoona menahan dorongan itu sekuat tenaga dan menoleh ke sekelilingnya mencari toilet. Tiba-tiba, ia tidak sengaja berpapasan dengan Donghae yang datang dari arah berlawanan.

 

“Kau !” Yoona yang terkejut tanpa sadar menunjukkan tangannya kearah Donghae. Itu dia dokter gila yang membuatku jatuh ke lumpur seperti ini !

 

“Kau !” Donghae yang panic dan terkejut juga menunjuk kearah Yoona. Kemudian Yoona kembali merasakan sinyal untuk ke toilet kembali datang. Uh ! Yoona mengerutkan dahinya dan kembali melawan dorongan itu sekuat tenaga. Keringat dingin perlahan mengalir di tubuhnya.

 

“Kau datang untuk kontrol? Siapa dokter yang menanganimu?” Donghae menyeringai dan mulai menyindir Yoona. Berani beraninya ia menyindirku, tidak sadar kalau justru dia salah paham? Sial.

 

“Sudah kubilang kan, aku tidak hamil.”

 

Yoona rasanya ingin marah-marah pada orang ini, tetapi karena ia harus menahan dorongan untuk kebelakang, ia hanya bisa berkata dengan geram.

 

“Apakah kau belum menikah?” Donghae menyipitkan matanya dan bertanya pada Yoona. Emosi Yoona mulai meluap.

 

“Dasar orang ini….!”

 

Uh ! Yoona benar-benar tidak sabar ingin meluapkan kekesalannya pada dokter ini, tetapi bagian bawahnya juga sudah tidak bisa bersabar lagi. Yoona memegang perutnya yang sakit dan mengeryit.

 

“Kau tidak pernah ikut pendidikan ibu hamil ya? Kalau kau mengeryit terus seperti itu, nanti kau akan melahirkan anak yang suka mengeryit juga seperti itu, kau tahu tidak?”

 

Donghae sepertinya tidak senang melihat Yoona mengeryit dan terus menerus menyindirnya. Ia tidak peduli mau keluar anak yang suka mengeryit atau apa, yang pasti sekarang ini ia harus segera pergi ke toilet. Yoona tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yoona yang semakin terdesak untuk kebelakang hanya bisa mengerang dengan geram.

 

“Awas kau….” Yoona menatap dokter itu dengan tajam dan bergegas melangkahkan kakinya menuju toilet. Namun, semakin cepat ia berjalan, dorongan itu rasanya semakin kuat sehingga Yoona berjalan dengan langkah yang kaku.

 

Ia tidak akan mempermalukkan dirinya sendiri di depan dokter gila itu. Yoona memegang perutnya dan berjalan sambil mencengkeram pegangan yang terpasang di sepanjang koridor rumah sakit. Ia harus sampai di toilet dengan selamat meskipun harus berjalan seperti siput. Saat itu, Donghae menghampirinya dengan cemas.

 

“Kenapa, apa yang sakit?” wajah Donghae yang tadi terlihat dingin kini terlihat serius dan panik.

 

“Perutku sakit. Sudah, tidak apa-apa,” Yoona menggerakkan tangan menyuruhnya pergi dengan keringat dingin ditubuhnya.

 

“Perut?”

 

Orang ini benar-benar ingin ikut campur sekali dengan urusan orang !

 

“Aku tidak apa-apa, sungguh. Kau tidak perlu memperhatikanku seperti ini, oke?”

 

“Katanya perutmu sakit? Jangan-jangan ada masalah pada bayinya….?”

 

Yoona kembali merasa kesal, “Astaga, aku ini benar-benar tidak hamil ! Uh !”

 

Yoona merasa drongan ke toilet itu semakin kuat ketika ia berteriak pada Donghae.

 

“Orang-orang yang belum menikah memang biasanya tidak mau mengaku. Tidak hamil apanya ! Jelas-jelas kau seperti ini !” Donghae balas berteriak padanya.

 

Yoona membalasnya dengan nada yang tidak kalah tinggi, “Kalau kubilang tidak ya tidak ! Kenapa sih kau tidak bisa percaya pada orang lain ! Aaah !”

 

Yoona merasa lemas dan dunianya berputar. Sempat terlintas dipikirannya, ‘rupanya begini rasanya ketika Highlander hampir mati’. Yoona merasa tali penyambung hidupnya seolah putus dan ia akan segera mati. Tangannya mulai tergelincir di pegangan tembok rumah sakit itu dan wajahnya semakin pucat.

 

Aku harus segera pergi dari sini…! Yoona membelalakkan matanya dan fokus pada toilet yang ada di hadapannya. Kemudian ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terhuyung. Donghae yang berdiri di belakangnya segera memegangi Yoona yang terhuyung lemas.

 

“Sebenarnya kau ini hamil berapa bulan? Ini seperti gejala awal kehamilan.”

 

“To…tolong tinggalkan aku,” Yoona menggertakan giginya dan mengerang seperti pasien yang akan menyeberang ke dunia lain.

 

“Suster Kim ! Siapkan ranjang pasien !” Donghae yang tidak memedulikkan ucapan Yoona berteriak kearah meja perawat. Kemudian terdengar suara langkah kaki perawat dan roda ranjang yang buru-buru menghampiri mereka. Wajah Yoona berubah semakin pucat.

 

“Tidak, tidak. Tolong, tolong tinggalkan aku sendiri !” Yoona yang tadinya mengerang lemas kini berteriak dengan kesal.

 

“Keras kepala sekali perempuan ini ! Tenang saja kami akan merahasiakan hal ini, jadi tutup mulutmu !” Donghae berteriak padanya.

 

Yoona balas berteriak padanya, “Seharusnya kau yang tutup mulut !”

 

Akan tetapi, Donghae dan para suster itu tidak memedulikannya dan hendak menaikkannya ke ranjang pasien itu. Yoona meronta-ronta dan menepis tangan-tangan suster itu. Pergi kalian semua ! Aku benar-benar tidak tahan lagi rasanya kalau bergerak-gerak seperti ini !

 

Perut Yoona saat itu benar-benar sakit luar biasa. Tiba-tiba, suster-suster itu memegang kakinya dan mengangkatnya ke atas ranjang pasien itu.

 

“Tolong lepaskan aku !”

 

Yoona kembali meronta-ronta. Tiba-tiba, PD dan beberapa staf yang tengah berjalan kearah ruang rapat melihat kearah keramaian yang terjadi di lobi. Kemudian, mereka melihat Yoona di tengah keramaian itu dan bergegas menghampirinya.

 

“Yoona-shii ! Ada apa?” PD Cho bertanya padanya dengan cemas. Mendengar suara PD itu, Yoona menoleh kearah PD itu dan segera memegang tangan PD-nya erat-erat.

 

“Tolong keluarkan aku dari sini ! Aku ingin ke toilet !”

 

“Dasar perempuan ini ! Di saat-saat seperti ini malah ingin ke toilet !” Donghae berkata dengan tidak sabar.

 

“Kau benar-benar hamil?” Baekhyun, seorang cameramen yang berdiri disebelahnya bertanya dengan terkejut. Yoona akhirnya meneteskan air matanya.

 

“Tidak, kubilang tidak. Tolong biarkan aku pergi….. Hiks !”

 

Yoona menangis sambil memegangi perutnya. Apa ia harus mengeluarkan isi perutnya yang sejak tadi ia tahan-tahan itu di tempat ini, di depan para staf dan PD- nya ini?

 

“Aku harus pergi. Aku tidak bisa berada disini. Tolong, biarkan aku pergi.”

 

Pasti ia terlihat seperti perempuan gila saat ini. Tetapi bukan hal itu yang penting saat ini.

 

“Kami akan mengurusnya,” Donghae berkata dengan tegas kearah PD dan para staf itu. Gila ! Ketika Yoona menatap Donghae dengan marrah, salah seorang perawat memegang kakinya dan mulai mendorong ranjang itu. PD Cho ikut berlari mengiringi ranjang itu sambil memegang tangan Yoona.

 

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku akan merahasiakan ini dari direktur kita.”

 

Benar-benar ucapan yang mengharukan di tengah situasi seperti ini.

 

“Aku harus pergi. Aku tidak bisa berada disini. Tolong percayalah padaku,”  Yoona menatap PD Cho dengan sungguh-sungguh.

 

“Cepat siapkan ruang operasi. Siapkan juga cadangan darah, untuk berjaga-jaga !” Donghae memberi berbagai arahan pada suster-suster itu lalu menoleh pada Yoona, “Apa golongan darahmu?”

 

“Kubilang perutku sakit !” Yoona yang semakin pucat menatap Donghae dengan marah seolah ingin menggilasnya.

 

“Kan aku akan menolongmu.”

 

Gawat. Yoona benar-benar tidak tahan lagi.

 

“Aku ingin ke toilet !”

 

Yoona menepis tangan-tangan suster yang memeganginya.

 

“Tenanglah !”

 

Suster-suster itu memegang tangan Yoona lebih erat. Yoona rasanya hampir gila.

 

“Kubilang aku ingin ke toilet ! kuperingatkan ya ! Ini sudah benar-benar bahaya !” Yoona mengancam suster di kanan kirinya sambil tetap berbaring di ranjang yang melaju itu.

 

“Benar, tentu saja bahaya ! Kalau tidak segera di tangani, akan berbahaya juga bagi nyawa bayi di perutmu itu !” Donghae menyahut dengan tegas.

 

“Tidak ada nyawa bayi di perut ini !” Yoona rasanya hampir pingsan, benar-benar.

 

“Apa bayinya sudah meninggal?” suster itu bertanya dengan terkejut sambil menatap kearah Donghae. Benar-benar klop sekali dokter dan suster ini ! Sepertinya mereka bisa menangani 100 pasien sekaligus tanpa kesulitan !

 

“Kondisi bayinya memang sudah tidak baik? Selama ini ditahan-tahan? Benar-benar perempuan ini.” Donghae kembali memarahi Yoona. Saat itu, dorongan ke toilet kembali menyerah Yoona.

 

Yoona kemudian menatap pasrah, “Hiks ! Pokoknya aku tidak tahu ya, aku tidak ikut tanggung jawab !”

 

“Buka pintu operasi !” Donghae berteriak sambil mendorong ranjang itu memasuki ruangan operasi. Tiba-tiba, dari atas ranjang itu terdengar suara ‘bruuuut~’ seperti suara motor yang baru dihidupkan. Sepertinya terdengar teriakan horror beberapa perempuan juga. Orang-orang yang tadinya berjalan dengan terburu-buru itu langsung terdiam dan tertegun selama tiga detik.

 

Yoona rasanya ingin mati saja. Ketika Yoona menutup wajahnya dengan kain di ranjang pasien itu, orang-orang di sekelilingnya langsung menutup hidung mereka dan memalingkan wajah mereka dari ranjang. Baunya benar-benar busuk. Hanya Donghae yang tetap memandang Yoona dengan tatapan tidak percaya.

 

“Sudah ku bilang kan….” Yoona berkata dengan suara bergetar sambil melirik kearah Donghae.

 

 

 

Sejak ia mendengar suara erangan perempuan disebelah rumahnya tadi pagi, Donghae merasa seperti mendapat pertanda bahwa harinya tidak akan berjalan mulus hari itu. Ternyata, ada masalah seperti ini. Donghae merasa seperti telah melakukan suatu kesalahan besar. Jadi sebenarnya perempuan ini tidak hamil? Atau dia hamil, tetapi sakit perut juga? Sepertinya tidak seperti itu…..

 

Donghae berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi dengan cemas. Tiba-tiba , perempuan itu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana khusus pasien sambil membawa bungkusan hitam yang sudah bisa ditebak apa isinya. Ia berjalan dengan wajah malu dan langkah gontai.

 

Kemudian, terdengar suara terkikik dari meja perawat. Donghae dan Yoona menoleh bersamaan kearah meja perawat itu. Perawat-perawat yang sedang berkumpul disana terkejut dan segera menundukkan kepalanya. Yoona lalu melirik sekilas pada Donghae. Donghae yang bertatapan dengan Yoona lantas memalingkan wajahnya yang memerah. Perempuan itu lalu mengecutkan bibirnya dan menggumamkan sesuatu. Meskipun tidak mendengar jelas, namun Donghae tahu pasti kalau itu adalah makian yang ditujukan padanya.

 

“Kau tidak apa-apa?” Donghae bertanya dengan hati-hati dan seketika itu juga Yoona menyipitkan matanya seperti Gumiho dan menatapnya tajam. Perempuan itu terlihat seolah akan mengambil dan memakan hati Donghae. Terdengar jelas suara giginya yang bergemeretak kesal. Tiba-tiba, Yoona maju selangkah mendekati Donghae dan menyodorkan kantong hitam itu padanya. Donghae terkejut dan mundur selangkah.

 

“Kenapa tidak kau buang? Mau dicuci dan dipakai lagi?” Donghae mengerutkan dahinya dan memandang Yoona.

 

“Katanya kau mau tanggung jawab? Cepat buang ini,” Yoona menatap Donghae sambil seolah hendak melemparkan kantong hitam itu padanya.

 

“Maaf, aku sungguh minta maaf. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu,” Donghae mengatupkan tangannya sambil tersenyum putus asa.

 

“Aku hampir gila rasanya, benar-benar !”

 

Yoona kemudian mencium kantong hitam itu dan bergidik ngeri sambil berseru ‘uhh~!’. Konyol sekali. Beberapa pasien yang lewat disamping mereka pun menoleh kearah Yoona dan terkikik geli.

 

“Gosipnya cepat sekali tersebar ya, padahal tidak masuk TV,” Yoona bergumam dengan nada putus asa. Ia menghela napas panjang dan dimata Donghae, perempuan itu benar-benar terlihat menyedihkan.

 

“Kau tahu apa yang terjadi padaku gara-gara sikapmu waktu itu?” perempuan itu menumpahkan segala kekesalannya yang selama ini ia tahan. Meskipun Donghae tidak tahu pasti apa yang terjadi pada perempuan berwajah layu dan berdiri dengan lemas itu, ia tahu bahwa banyak hal tidak menyenangkan yang telah terjadi padanya.

 

“Ah, aku juga sudah lihat fot barumu di internet. Tapi, foto apa ya? Seperti celana dalaman dengan sesuatu seperti balon….”

 

“Kau ini !” Yoona berteriak dengan wajah memerah.

 

“Aku minta maaf kalau ada salah paham yang timbul karena diriku. Tapi untuk tanggung jawab….”

 

“Apa hebatnya sih kau ini? Membuat kesalahan sampai hampir membunuh orang, lalu sekarang tidak tahu bagaimana harus bertanggung jawab? Apa itu masuk akal?”

 

“Maafkan aku, sungguh,” Donghae menyahut dengan sungguh-sungguh. Yoona yang tadinya ingin berteriak-teriak lagi pada orang itu pun mengurungkan niatnya dan terdiam.

 

“Aku sadar dengan apa yang telah kulakukan  dan aku benar-benar minta maaf. Dan syukurlah, tadinya aku khawatir kau akan kehilangan pekerjaanmu sebagai reporter….”

 

“Kau tahu tidak apa saja yang sudah ku alami gara-gara kau?”

 

“Maafkan aku. Tapi syukurlah, kau masih bekerja sebagai reporter seperti sekarang ini.”

 

“Tentu saja, kalau aku sampai kehilangan pekerjaanku ini, aku juga akan membuatmu kehilangan pekerjaanmu. Pasti !”

 

Wajah perempuan itu terlihat sungguh-sungguh seolah akan melakukan apapun juga agar bisa menyingkirkan Donghae dari pekerjaanya. Namun, Donghae senang melihat perempuan yang terlihat ambisius itu. Ia merasa tenang melihat perempuan itu bukanlah tipe orang yang pasrah dan diam terpuruk dalam situasi seperti ini. Lalu,  perempuan ini katanya juga menulis di situs jejaring kantornya gara-gara masalah percintaanya? Donghae menatap perempuan itu dengan tatapan ingin tahu.

 

“Sekali lagi, aku minta maaf. Aku tahu kau pasti sulit memaafkanku dan aku tidak ingin memaksamu untuk melakukannya.”

 

Donghae menghela napas dan tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba, pintu ruang rapat didekat mereka terbuka dan muncul seorang laki-laki yang tadi ikut menghampiri mereka saat terjadi keributan di lobi. Ia menoleh ke sekelilingnya dan berteriak setelah melihat Yoona.

 

“Yoona-shii ! Rapatnya sudah dimulai ! Dokter juga !”

 

Orang itu berteriak pada Donghae. Donghae dan Yoona kembali bertatapan. Donghae menggerakkan dagunya seolah memberi isyarat ‘ayo’. Sementara Yona melangkah dengan kesal.

 

“Ah, itu.”

 

Donghae kemudian menunjuk kearah kantong hitam yang masih dipegang Yoona. Yoona sepertinya baru sadar kalau ia masih memegang kantong itu sejak tadi. Kemudian ia bergegas berlari ke kamar mandi. Donghae tanpa sadar tertawa geli. Entah kenapa, kini ia merasa kalau ia harus bersikap baik pada perempuan itu.

 

Akan tetapi, hal itu rupanya tidak mudah. Donghae dan Yoona terlambat menghadiri rapat itu dan ketika mereka masuk, Eunhyuk yang duduk di antara beberapa dokter kandungan dan perawat tiba-tiba berseru saat melihat Yoona, tanpa mengetahui kejadian apa yang baru menimpa mereka.

 

“Wah ! Ibu hamil nasional !”

 

“Huahahaha !”

 

Mendengar suara Eunhyuk, orang-orang diruang rapat itu mulai menatap Yoona yang mengenakan celana khusus pasien, dan mulai berbisik-bisik serta tertawa. Seketika itu juga, wajah Yoona memerah seperti tomat. Ia sekilas melirik kearah Eunhyuk lalu menatap Donghae dengan tajam seolah ingin membunuhnya. Kurang ajar. Bagaimana pun, ia mendapat julukan seperti ini gara-gara Donghae.

 

“Jadi, Anda orangnya?”

 

Ketua dokter spesialis kandungan itu berusaha menahan tawanya dan menoleh kearah Yoona. Yoona tersenyum paksa sambil dalam hati berkata ‘kurang ajar….’

 

“Karena kejadian itu, departemen kita ini jadi mendapat sorotan masyarakat, mungkin kami seharusnya mengucapkan terima kasih pada Anda. Hahaha.”

 

Ketua dokter itu tertawa terkekeh-kekeh. Donghae kembali merasa bersalah pada perempuan itu. Perempuan itu, menggigit bibirnya, entah apakah ia berusaha menahan emosinya agar tidak meledak di ruang rapat itu.

 

“Beberapa dari kami telah saling memperkenalkan diri kemarin, jadi saya harap kita semua cepat mengakrabkan diri agar proses syuting ini berjalan lancer dan tidak ada lagi salah paham. Kita harus kompak supaya terlihat bagus juga di depan kamera. Baiklah, kalau begitu.”

 

Ketua dokter itu memperkenalkan orang-orang dari stasiun TV yang duduk berjejer kepada dokter dan perawat rumah sakit itu.

 

“Mohon kerja samanya. Saya PD Cho Kyuhyun dari HNC.”

 

PD Cho yang telah memperkenalkan dirinya kemudian memperkenalkan Yoona.

 

“Saya Yoona, reporter yang akan menjadi pembawa acara pada acara ini. Mohon kerja samanya.”

 

Yoona yang sejak tadi wajahnya memerah, membungkukkan badannya 90 derajat setelah mengucapkan salam. Lalu, ia kembali bertatapan dengan Donghae.

 

‘Ggrrr~’

 

Donghae merasa seolah melihat aura kucing yang marah diwajah perempuan itu. Kejadian di ranjang pasien tadi dan seruan ‘ibu hamil nasional’ yang diteriakkan Eunhyuk sepertinya membuat suasana hatinya semakin buruk.

 

Setelah perkenalan dari pihak stasiun TV selesai, ketua dokter itu memperkenalkan Donghae pada tim stasiun TV.

 

“Orang yang akan banyak membantu kita dalam proyek ini adalah Dokter Lee Donghae ini. Jika ada yang ingin kalian tanyakan atau diskusikan, silahkan temui dokter ini.”

 

Donghae sekilas melirik Yoona dengan hati-hati lalu mengucapkan salam pada anggota tim yang lain. Meskipun begitu, ia masih bisa merasakan tatapan dingin Yoona yang tetap tertuju padanya.

 

 

 

Setelah rapat itu selesai, Donghae melangkah keluar dari ruang rapat ketika PD Cho memanggilnya.

 

“Dokter Lee, bisa bicara sebentar?”

 

Donghae menoleh kearah PD Cho dan, mau tidak mau, ia juga melihat Yoona yang berdiri di sebelah PD itu, masih dengan wajah kesal. Celana pasien itu lama-lama terlihat cocok juga dengannya, pikir Donghae.

 

“Sebentar lagi akan ada wawancara dengan reporter kami. Anda mau lihat daftar pertanyaannya?” PD itu menghampiri Donghae sambil menyodorkan selembar kertas padanya.

 

“Baiklah.”

 

Merepotkan sekali. Tanpa sadar Donghae mengeryitkan dahinya. Apa boleh buat, toh ini sudah menjadi tugasnya saat ini, tidak bisa dihindari lagi. Donghae menyahut dengan pasrah dan berjalan menghampiri PD itu. Tiba-tiba, seorang staf yang memegang kamera, Baekhyun, memanggil PD Cho dari kejauhan.

 

“PD Cho, coba tolong kesini sebentar.”

 

PD itu sejenak merasa bingung, kemudian ia menatap kearah Yoona.

 

“Coba kau cek kembali daftar pertanyaanya bersama Dokter Lee.”

 

PD Cho menyerahkan kertas yang ia pegang itu kepada Yoona, kemudian menghampiri Baekhyun. Yoona melangkah dengan sebal mendekati Donghae.

 

“Meskipun aku tadi sudah minta maaf padamu…. tapi aku akan minta maaf secara resmi sekali lagi. Maaf karena salah paham mengiramu….” Donghae berkata canggung pada Yoona.

 

“Seandainya saja dengan ucapan maaf, salah paham ini bisa diluruskan kembali,” Yoona menyahut sambil menggertakkan giginya. Donghae semakin merasa canggung dengan atmosfer dingin diantara dirinya dan perempuan itu dan ia hanya menggaruk-garuk dahinya. Ia tahu ia harus mengucapkan sesuatu untuk menenangkan perenpuan ini, tetapi….

 

“Kau tidak perlu malu. Di bagian kandungan ini, hal seperti itu memang sudah biasa terjadi.”

 

“Hal seperti itu?” Yoona membelalakkan matanya menatap Donghae.

 

“Kadang ada beberapa ibu hamil yang saat tengah melahirkan tiba-tiba….”

 

“Shout your mouth ! Cukup !”

 

Yoona yang mendadak panik mendengar ucapannya itu berteriak kesal dan hidungnya kembang-kempis karena marah.

 

“Kau sudah mempermalukanku ! Kau tahu tidak, hal memalukan dan hinaan apa lagi yang aku terima gara-gara kau? Aku tidak bisa melakukan pekerjaan ini !”

 

Yoona melemparkan kertas yang ia pegang kepada Donghae dan berbalik meninggalkannya. Donghae hanya mengawasi Yoona yang pergi menjauh dan menghela napas. Karena dirinya pun tidak terlalu ingin melakukan acara ini, ia juga tidak terlalu ingin menahan perempuan itu. Tetapi, apa tidak apa-apa jika berakhir begitu saja seperti ini? Padahal tadi ia senang dengan semangat yang dimiliki perempuan itu. Namun sekarang, ia merasa kalau perempuan itu hanyalah perempuan yang tidak tahu aturan, yang meluapkan masalah percintaanya di situs jejaring kantor, yang seenaknya saja melalaikan tugasnya seperti ini.

 

Donghae yang bingung melihat Yoona seperti itu akhirnya membalikkan badannya. Tiba-tiba, terdengar suara ramai dari lobi. Kemudiam ia melihat beberapa dokter koas di bagian UGD, perawat, serta sebuah ranjang pasien bergerak dari lobi.

 

Ibu hamil yang sedang terbaring di atasnya terlihat menjerit kesakitan. Donghae melemparkan kertas daftar pertanyaan yang ia pegang dan berlari menghampiri pasien itu.

 

“Apa yang terjadi?”

 

“Ibu ini diprediksi akan melahirkan dua bulan lagi. Tapi sejak subuh ia mengeluh perutnya sakit. Kepalanya juga sakit,” Suster Kim buru-buru memberikan penjelasan pada Donghae.

 

“Sepertinya ia mengalami keracunan kehamilan,” seorang dokter koas menambahkan dengan cepat.

 

“Periksa dulu golongan darah, tekanan darah, lalu oksigen didalam kandungannya !” Donghae segera memberi perintah pada Suster Kim.

 

“Ada apa?”

 

Donghae menoleh dan terkejut melihat Yoona muncul dibelakangnya dengan membawa mikrofon di tangannya. Dasar tadi katanya mau berhenti bekerja.

 

“Sepertinya keracunan kehamilan,” Donghae menyahut dengan asal.

 

“Memang gejalanya seperti apa?”

 

Menyebalkan sekali. Apa aku harus menjawab dengan ramah di situasi seperti ini?

 

“Cari saja di internet !” Donghae mengeryitkan dahinya dengan sebal dan berteriak pada Yoona. Kemudian ia kembali berkata pada salah satu perawat disana, “Siapkan kamar operasi.”

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC…

 

LEAVE YOUR COMMENT…

Dipublikasi di yoonhae | Tag | 40 Komentar

CHEEKY ROMANCE_YOONHAE VER. (5)


Gambar

 

 

 

Author : Nana Lee

 

Novel Karya : Kim Eun Jeong

 

Cast :

 

    1.        So Yoon Pyo a.k.a Lee Donghae

    2.        Yoo Chae a.k.a Im Yoon Ah

    3.        Ki So Yeong a.k.a Kwon Yuri

    4.        Oh Hye Rong a.k.a Hwang Tiffany

    5.        Kim Dae Joon a.k.a Lee Hyukjae

    6.        Yoo Gyu a.k.a Im Sehun

    7.        Lim Eun Yi a.k.a Choi Sulli

    8.        Kang Hee Jae a.k.a Xi Luhan

    9.        PD Nam Guk Hyeok a.k.a PD Cho Kyu Hyun

  10.        Eun Sang a.k.a Byun Baekhyun

  11.        Suster Lee a.k.a Suster Kim Taeyeon

 

.

.

.

.

HAPPY READINGGGGGG………

.

.

.

.

 

“Ah iya ! Si ibu hamil nasional ! Benar kan?”

 

Tiba-tiba siswa SMP dari belakang kerumunan anak-anak itu berteriak, seolah meneriakkan jawaban kuis. Ya Tuhan ! Harusnya ia tidak menoleh kearah anak itu. Mungkin karena sudah terbiasa dengan panggilan itu, tanpa sadar Yoona menoleh kearah yang meneriakkan panggilan itu. Seketika itu juga, anak-anak lain serta orang dewasa yang ada di tempat itu berkumpul disekitar mereka.

 

“Kenapa ibu hamil berpakaian seperti itu? Mau mengikuti gaya barat?”

 

“Tadinya aku tidak mengenalinya karena ia memakai topi, tapi ternyata benar dia ya.” Orang-orang disekitarnya mulai berbisik-bisik dan mengerumuninya.

 

“Wah, Si ibu hamil nasional itu !”

 

Anak-anak berkumpul ditempat itu mulai berteriak-teriak sambil menunjuk kearah Yoona.

 

“Ah, bukan begitu, anak-anak……” Yoona mengibaskan tangannya dengan panik.

 

“Tidak apanya ! Ibu hamil yangsuka berbohong !” Anak-anak itu berteriak dengan nada tidak percaya pada Yoona.

 

“Aku mau berfoto dengannya !”

 

“Tidak boleh, aku dulu ! Ayo kita foto !”

 

Kalau seandainnya aku benar-benar hamil, bukankah mereka tidak boleh berbuat seenaknya seperti ini padaku? Berarti kalian kan juga harus memperlakukanku seperi ibu hamil betulan ! Yoona yang hamper menangis merasa menjadi tontonan seperti monyet di kebun binatang.

 

“Aku ini sedang bekerja, kalian pergi dulu ya, Anak-anak.”

 

Malu karena ada beberapa orang dewasa yang memandanginya, Yoona menyuruh anak-anak itu pergi. Namun, rupanya anak-anak itu tidak mau menuruti ucapan Yoona begitu saja. Gyeong Taek berdiri dengan canggung dan tidak tahu harus berbuat apa melihat situasi itu. Ia hanya menatap Yoona dengan wajah menyesal. Lihat saja pembalasanku, batin Yoona.

 

“Ibu hamil nasional tukang bohong ! Ayo berfoto denganku !”

 

“Tanda tangan juga ! Aku tidak mau pergi kalau kau tidak memberi tanda tangan padaku. Kalau tidak kau akan menerima tembakan dari tenaga langit, kau tahu tidak?”

 

Seorang anak yang kelihatannya benar-benar bisa berubah menjadi monster, mengacungkan senjata mainan pada Yoona. Kemudian, anak-anak yang lain pun ikut menodongkan senjata mainan mereka kepada Yoona. Rasanya ia lebih baik ditembak oleh senjata laser sungguhan dan langsung mati ditempat. Atau setidaknya pingsan.

 

“Anak-anak ! Kenapa kalian seperti ini padaku !”

 

Terlalu banyak anak-anak yang mengerumuninya. Terlalu banyak orang dewasa yang memandang kearahnya. Yoona yang berteriak panik akhirnya membalikkan badannya dan menangis. Tanpa berkata apapun pada Gyeong Taek, ia pergi meninggalkan tempat itu.

.

.

.

.

Hosh. Hosh.

 

Yoona yang berlari meninggalkan tempat kontes itu akhirnya menghentikan langkahnya dengan napas tersengal-sengal. Apakah kini babak kedua dalam hidupnya telah dimulai kembali? Yoona merasa hidupnya seperti sandiwara dengan ia harus bertahan dan berjuang dari orang-orang yang berusaha menjatuhkannya.

 

“Maaf, boleh berfoto denganku tidak….”

 

Ketika Yoona sedang menimbang apakah ia harus melanjutkan pekerjaannya ini atau tidak, terdengar suara anak kecil yang berkata padanya. Yoona baru saja hendak mengusir anak kecil yang ia kira salah satu dari anak-anak yang tadi mengoloknya itu. Namun, katika ia menoleh, seorang anak perempuan berdiri di dekatnya dan bertanya padanya dengan malu-malu. Tidak beberapa jauh dari anak perempuan itu, terlihat pasangan suami istri yang membawa kamera sambil tersenyum padanya. Sementara itu, jauh dari tempat berdirinya saat ini, terlihat orang-orang berkostum sedang melakukan parade dan berfoto dengan pengunjung yang datang. Sepertinya mereka mengira aku ini adalah salah satu dari orang-orang berkostum itu. Mungkin ia bisa masuk ke taman bermain dengan gratis mengenakkan pakaian seperti ini, pikir Yoona.

 

“Baiklah.”

 

Yoona mendudukkan anak perempuan yang berwajah lugu dan benar-benar memercayai bahwa Yoona adalah tuan putri itu di sebuah kursi panjang yang ada di dekat mereka. Kemudian ia duduk dengan anggun disamping anak itu. Saat itu juga, Yoona mendengar teriakan seseorang bersamaan dengan matanya yang silau terkena lampu kilatan kamera dihadapannya itu. Ketika ia bertanya-tanya ‘ada apa ini?’, ia merasakan sesuatu yang sejuk dibagian bawah tubuhnya.

 

Yoona menjulurkan tangannya ke bawah untuk memastikan apa yang terjadi pada dirinya. Sekilas ia melihat ayah dari anak perempuan itu malu dan ibunya panic. Orang-orang yang lewat di depannya terdiam kaku dan terdengar suara jepretan kamera. Ternyata, begitu Yoona duduk, panier kaku yang ada di dalam gaunnya itu terangkat dan membuat roknya terangkat ke atas sampai celana dalamannya terlihat jelas.

 

Yoona yang wajahnya memerah, menoleh pada anak kecil yang duduk disebelahnya. Anak itu balas menatapnya dengan wajah senang dan gembira. Terima kasih karena masih tersenyum manis padaku, batin Yoona kesal. Kemudian kembali terlihat kilatan lampu kamera, disusul dengan suara anak-anak yang terdengar familier di telinganya.

 

“Ibu hamil nasional itu ada disana !”

 

Kurang ajar ! Yoona tersenyum sedih kepada anak perempuan itu, membuka topinya untuk menutupi wajahnya, mengangkat gaunnya dan mulai berlari lagi. Tiba-tiba, ‘gubrak !’ Yoona terjatuh di lantai taman yang keras itu. Ia melihat darah merembes di bagian lutut celananya. Benar-benar. Berkat julukan ibu hamil itu, sepertinya ia juga harus sampai membawa plester setiap ia pergi.

 

“Itu dia, disana !”

 

Suara serangan anak-anak yang membawa senjata mainan mereka semakin mendekat. Yoona segera berdiri dan kembali berlari tanpa sempat memperhatikan luka di kakinya. Kakinya terasa sangat perih. Namun yang paling berat baginya adalah shock secara psikologis yang ia terima hari itu. Ia sampai merasa bersyukur karena ia bukan ibu hamil betulan. Yoona tidak kuasa menahan air matanya. Rasanya ia ingin pergi ke sebuah pulau tidak berpenghuni. Dan tidak akan kembali ke Korea lagi !

.

.

.

.

Keesokkan harinya, setelah melewati satu hari panjang yang rasanya seperti 4 hari 3 malam, Yoona mengecek internet hanya untuk berjaga-jaga. Di bawah kata kunci ‘ibu hamil nasional’, ternyata foto kejadian sore itu, ketika rok Yoona terangkat sampai dalamannya terlihat sudah tersebar di internet. Judul artikelnya adalah “Ibu Hamil Nasional Episode 2”. Foto itu hanya memperlihatkan celana dalamannya, wajahnya tidak terlihat. Lalu, dibawah foto itu, ada foto ketika Yoona sibuk menurunkan roknya dengan panik.

.

.

.

.

  • Ibu hamil nasional ini semakin lama semakin menarik
  • Setelah menjadi reporter, sekarang beralih menjadi comedian?
  • Jujur deh, kau ini sebenarnya gagwoman (comedian wanita) kan?
  • Kau mengidam ingin bertingkah seperti itu karena sedang hamil?

.

.

.

.

Berbagai komentar yang sudah tidak terhitung jumlahnya juga muncul di internet. Tangan Yoona yang sudah dikuasai emosi rasanya gatal ingin melakukan sesuatu.

.

.

  • Reporter itu, saat itu sedang ada syuting acara “Manusia Luar Biasa”. Jadi….

.

.

Tangan Yoona yang sedang mengetik balasan untuk komentar-komentar itu tiba-tiba lemas kehilangan tenaga. Ia menghela napas. Toh tidak ada gunanya juga ia berbuat seperti ini. Seluruh penjuru negeri ini sudah terlanjur mengira bahwa dirinya adalah ibu hamil. Seperti lingkungan sekitarnya kini memaksanya untuk menjadi seorang ibu hamil sungguhan…

 

Yoona akhirnya berhasil menenangkan diri dan memejamkan matanya. Ia tidak ingin tertangkap basah menangis di kantor seperti seorang pengecut yang payah. Ia tidak ingin terlihat lemah, terpuruk di mata sesama rekan reporternya yang telah malu karena dirinya, ia tidak ingin dikasihani oleh orang-orang disekelilingnya. Yoona dengan susah payah menahan air matanya yang hendak mengalir dan membuka matanya. Kemudian, ia menghapus kembali tulisannya di layar komputernya.

 

Di kantor stasiun TV ini, apakah melakukan pekerjaan kecil-kecilan pun termasuk suatu kemewahan? Di kantor yang kekurangan tenaga kerja ini, pekerjaan kecil-kecilan itu sama seperti pekerjaan serabutan. Apalagi bagi Yoona yang sudah membuat kesalahan, ia harus bekerja keras tanpa protes apa pun. Saat ini, yang menjadi tugas Yoona adalah membantu para staf, mengikuti para senior dan memuji-muji mereka, bahkan sampai melakukan pekerjaan seperti OB : fotocopy dokumen, membuat minum dan yang lainnya.

 

Beberapa hari kemudian, telepon genggamnya yang kini berfungsi sebagai perantara ketika ia menerima perintah ini-itu dari seniornya berbunyi. Yoona menjawab telepon dengan nada lelah sambil menduga-duga, pekerjaan remeh-temeh apalagi yang harus ia lakukan.

 

“Ya, Yoona disini.”

 

“Yoona-shii? Ini aku, PD Cho. Dulu kita pernah kerja bersama, ya kan?”

 

“Ya? Ah, iya, benar….” Yoona menyahut dengan gugup. PD Cho adalah PD yang bekerja di kantor pusat Seoul, bisa dikatakan ia setingkat CP (Chief Producer = ketua dari para PD di stsiun TV ). Jangan-jangan, ia disuruh memakai kostum aneh-aneh lagi dan syuting di kantor Seoul, yang benar saja?

.

.

.

.

Keesokkan harinya, Yoona berangkat ke kantor dengan wajah tidak percaya. Bukan ke kantor Wonju, melainkan kantor pusat di Seoul. PD Cho berkata bahwa ada meeting hari ini di kantor pusat dan menyuruhnya datang.

 

Yoona memasuki kantor dengan wajah bingung ketika atasannya memanggilnya. Yoona masuk ke ruangan atasannya, berjalan mendekat dengan hati-hati tanpa berani menatap matanya langsung.

 

“Kau jujur saja, kau sengaja kan berbuat seperti itu?” Tanya atasannya dengan curiga.

 

“Ya?” Yoona mengangkat kepalanya dengan ekspresi tidak mengerti.

 

“Gosip ibi hamil nasional itu maksudku. Aku tanya, apakah kau sengaja berbuat seperti itu agar wajahmu dikenal oleh masyarakat?”

 

Benar-benar gila. Tidak masuk akal.

 

“Hal seperti itu, sengaja?”

 

“Apakah kau sengaja bersekongkol dengan dokter apalah itu dan bertingkah seperti ini?”

 

“Memangnya saya ini gila?” Yoona menyahut dengan kasar.

 

“Jadi, maksudmu kau tidak kenal dengan dokter itu?”

 

Memangnya masalah ini ikut di ungkit-ungkit jika ada pemeriksaan korupsi pada atasannya itu? Sampai-sampai ia mencurigai Yoona seperti ini. Sesaat, Yoona sempat teringat akan Yuri ketika mendengar tentang dokter itu. Namun, Yoona segera menggelengkan kepalanya.

 

“Saya tidak kenal dengan dokter, orang gila itu.”

 

“Dan kau yakin kau tidak hamil?”

 

“Tentu saja !” Yoona berteriak dengan geram.

 

“Baiklah. Oke.”

 

Barulah atasannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan menyodorkan proposal pada Yoona. Yoona mengambil proposal itu dengan bingung dan membacanya.

 

“Proposal acara documenter kedokteran. Kau yang jadi reporternya.”

 

“Apa? Sa, saya?” saking terkejutnya, Yoona langsung bertanya tanpa pikir panjang.

 

“Anggap saja itu harga yang harus kau bayar karena telah membuat masalah seperti ini.”

 

Unbelieveable ! meskipun langitnya telah runtuh, ternyata masih ada celah baginya untuk menyelamatkan diri. Atau, apa ini yang namanya kejatuhan durian runtuh? Tidak salah lagi, ini adalah kesempatan baginya untuk mengembalikkan nama baiknya. Jadi, ini sebabnya mengapa Tuhan memberinya berbagai cobaan selama ini?

 

“Baca proposal itu baik-baik, lalu kemasi barangmu dan pergilah ke rumah sakit.”

 

“Apa? Barang?”

 

“Kau harus menunggu di sana selama 24 jam, bersama PD Cho. PD Cho belum memberitahumu?”

 

“Maksudnya, saya harus tidur di rumah sakit?”

 

Tidak mungkin kan ia disuruh berperan sebagai reporter hamil?

 

“Pihak rumah sakit sudah menyediakan rumah sewaan yang biasanya ditempati oleh dokter-dokter disana. Kau  bisa tinggal disana selama syuting acara ini.”

 

“Oh~.”

 

Yoona dapat merasakan otot-otot wajahnya mengencang kembali. Ia sangat gembira sampai memeluk proposal itu erat-erat.

 

“Jadi, saya benar-benar menjadi pembawa acara satu-satunya? Untuk seterusnya?”

 

Atasannya menjawab dengan pahit, “Tadinya aku ingin menyuruh Choi Sooyoung, tapi tiba-tiba !”

 

Atasannya tiba-tiba menaikkan nada suaranya sampai Yoona tersentak kaget.

 

“Karena timbul gosipmu sebagai ibu hamil nasional. Karena tidak ada yang lebih hebat dari gossip untuk meningkatkan rating acara. Ini kesempatan khusus bagimu, lakukan dengan sungguh-sungguh !”

 

Yoona tidak mengerti mengapa atasannya kelihatannya tidak terlalu senang. Tetapi yang paling penting adalah bahwa Yoona bisa kembali pada pekerjaannya yang dulu.

 

“Terima kasih ! Sekali lagi, terima kasih !”

 

Yoona yang diliputi rasa haru memberi salam dengan semangat sambil membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan itu dengan wajah berseri-seri. Yahoo!  Yoona mengepalkan tangannya sambil melangkah gembira. Tiba-tiba ia bertatapan dengan PD Cho yang sedang mengawasinya dari kejauhan.

 

“Senang bertemu denganmu lagi,” PD Cho berjalan mendekati Yoona dan mengulurkan tangannya.

 

“Ah, PD Cho ! Terima kasih !”

 

Yoona menjabat tangan PD itu dengan kedua tangannya. PD itu dulu pernah memuji kondisi fisiknya yang bagus saat mereka syuting di sebuah pasar tradisional di luar kota.

 

“Kau sudah susah payah sampai ke sini lagi. Kalau ada kesalahan, maka tidak ada ampun lagi.”

 

“Baiklah. Saya akan berhati-hati !” Yoona membungkukkan badannya 180 derajat dan memberi salam pada PD itu.

 

“Nanti malam ada rapat di rumah sakit. Kau sudah harus sampai di rumah sakit pukul delapan malam ya.”

 

PD Cho menepuk pundak Yoona lalu meninggalkan ruangan presenter. Yoona tetap menghadap kearah perginya PD Cho dan berkali-kali membungkukkan badan.

 

“Baik ! Terima kasih ! Saya akan berusaha sungguh-sungguh !”

 

Yoona lalu membalikkan badannya dengan wajah semangat dan hati gembira bukan kepalang. Kemudian, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang tertinggal, yang membuat senyumnya sesaat hilang dari wajahnya. Sepertinya ada satu hal penting yang terlupakan. Apa ya? Tiba-tiba ia terbelalak.

 

“Rumah sakitnya di mana ya?”

 

Yoona kemudian teringat dengan proposal yang belum sempat ia baca dan bernapas lega.

.

.

.

.

Yoona berjalan menuju rumahnya. Kini, topi dan masker merupakan perlengkapan wajibnya jika berpergian dengan bus. Ia senang karena bisa mendapat tempat duduk, namun terkadang kesal juga dengan orang-orang yang berkata macam-macam tentang perutnya. Entah mengapa orang-orang itu senang sekali ikut campur urusan pribadinya.

 

Sesampainnya dirumah, ia melihat bibinya sedang mondar-mandir dengan khawatir.

 

“Bibi kenapa?”

 

“Nenek menghilang lagi. Kemarin ia pergi ke kantor polisi, tapi hari ini ia tidak ada disana.”

 

Bibi terus berjalan kesana kemari dengan cemas sambil mengawasi didepan rumah.

 

“Lagi?”

 

Bibi juga tidak bisa disalahkan. Nenek memang cepat sekali menghilang dari rumah kalau tidak diawasi sebentar saja. Selama ini, bibi pun tinggal dirumah saja, tidak bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri karena mengurus nenek yang sudah pikun.

 

“Sehun sedang pergi mencari nenek.”

 

“Kalau begitu, bibi tenang saja. Pasti mereka segera datang. Sehun kan sangat ahli mencari nenek.”

 

Meskipun adiknya itu terkenal nakal dan suka membuat ulah di lingkungan mereka, untuk urusan nenek, ia termasuk anak yang bisa diandalkan. Ia tidak suka jika ada orang yang mengatakan neneknya adalah orang gila. Apalagi kalau ada yang berani mengolok-ngolok nenek, ia tidak segan-segan mengancam orang itu atau menghajarnya, saking sayang dan pedulinya ia pada nenek. Bisa dikatakan, itulah satu-satunya kelebihan yang dimiliki oleh anak nakal itu.

 

Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan Sehun yang mandi keringat masuk sambil menggendong nenek yang tertidur.

 

“Ibu, Ibu !” bibi segera menghampiri nenek yang tertidur di punggung Sehun.

 

“Ah aki lelah sekali, cepat buka selimut nenek !” Sehun berteriak dengan nada kelelehan pada bibi.

 

“Oh, iya, iya.”

 

Bibi segera masuk ke kamar dan menyiapkan tempat tidur untuk nenek. Tangan nenek yang sedang tidur memegang es krim yang sudah meleleh dan menetes-netes, meninggalkan bekas dengan warna yang sama di baju bagian pundak Sehun.

 

“Aduh, apa ini?”

 

Bibi berusaha melepaskan plastik es krim itu dari tangan nenek. Tetapi rupanya nenek tetap menggenggam erat plastik es krim itu sambil tidur.

 

“Pasti dia bilang es krim ini dari ‘si manis’.”

 

Bibi mendecakkan lidahnya. Kemudian, ia menoleh kearah pundak Sehun, “Kau tidak apa-apa?”

 

Barulah Sehun menoleh kearah bajunya yang basah dan menepisnya santai.

 

“Tidak apa-apa. Tinggal ganti baju saja. Memangnya siapa sih ‘si manis’ yang suka dibicarakan nenek itu?” Sehun bertanya dengan kesal. Bibi menoleh kearah nenek yang tertidur lalu mengehela napas.

 

“Kuberitahu juga kau tidak tahu. Dia itu perempuan yang membawa kabur harta warisan rumah ini, atau yang memiliki utang dengan rumah gubuk ini.”

 

“Aku pikir nama sapi peliharaan. Bibi tidak pernah kehilangan sapi?” Sehun memiringkan kepalanya dengan heran.

 

“Waktu kau kecil, keluarga ini hidup dengan makmur. Kehilangan sapi saja tidak masalah,” bibi kembali menghela napas panjang.

 

“Sudahlah, jangan bicara yang aneh-aneh.”

 

Sehun segera bangun dan meninggalkan bibinya.

 

“Sewaktu aku kecil, kita bahkan tidak tahu kalau punya sapi. Karena semuanya sudah diurus oleh para pembantu. Sungguh. Memakai pakaian sutra, makan daging setiap hari,” ucapan bibi itu semuanya terdengar seperti mimpi.

 

“Bibi juga pikun, ya? Kapan keluarga kita pernah seperti itu? Wah, gawat. Ternyata penyakit pikun itu menular ya,” Sehun berkata dengan nada prihatin lalu menatap kearah Yoona. Ekspresi wajahnya langsung berubah marah.

 

“Kau ini, kau ini bisanya apa sih?”

 

“Hei, hei, kenapa kau tiba-tiba berkata kasar seperti itu padaku?” Yoona membalas menatapnya tajam dan memukul kepala Sehun.

 

“Kau ini sebenarnya bisa jaga sikap atau tidak sih?”

 

Sepertinya anak ini sudah melihat video ‘si ibu hamil nasional’ saat ia sedang makan jjajangmyon di tempat bermain billiard atau entah dimana.

 

“Sudah kubilang kan, semua itu hanya salah paham. Kau urus saja kelakuanmu sendiri. Kau tidak sadar sudah membuat ayah susah?”

 

“Diam ! Berisik kalian ! ” bibi akhirnya mengusir Yoona dan Sehun yang bertengkar keluar dari kamarnya.

 

“Sebaiknya Nuna yang jaga sikap baik-baik. Nuna kan tinggal menikah, lalu selesai semuanya.”

 

“Nah, kau, memangnya mau tetap main billiard dan keluyuran kasana kemari setelah menikah?”

 

“Ini semua ada alasannya. Kau tidak pernah dengar? Dimana ada kemauan, pasti ada jalan.”

 

Bukan sekali ini mereka beradu mulut seperti ini, dan Sehun selalu berbicara panjang lebar seperti biasanya, sesuai keahliannya.

 

“Kapan kau dengar perkataan seperti itu? Di saat 30% kehadiranmu waktu SMA itu? Kau tidak pernah belajar tentang cara mencari jalan itu? Coba kau hadir 30% lebih banyak lagi, setidaknya supaya kau tahu dimana tempat beli kompas untuk penunjuk jalan.”

 

Yoona berdecak kesal.

 

“Aku juga pasti akan bekerja. Kalau aku menemukan pekerjaan yang cocok untukku.”

 

“Dan selama kau buang-buang waktu untuk mencari pekerjaan idealmu itu, kau jangan macam-macam denganku sampai kau menemukkan pekerjaan, mengerti?” Yoona mengancam adiknya. Toh ia tidak akan lepas tangan sepenuhnya terhadap urusan rumahnya setelah ia menikah, dan rasanya khawatir melihat anak laki-laki satu-satunya di rumah itu yang tidak bisa dipercaya seperti adiknya itu.

 

“Memangnya temanmu tidak ada yang bekerja? Diantara gengmu yang seperti berandalan itu.”

 

Yoona memandang adiknya dengan heran. Saat itu, tiba-tiba pintu depan terbuka dan ayah mereka masuk dengan tergesa-gesa.

 

“Nenek?”

 

“Ayah tahu dari mana? Memang beritanya sampai ketempat kerja ayah?” Sehun bertanya kepada ayahnya sambil berjalan kearah westafel dan mengambil sebaskom kecil air untuk cuci muka ayahnya. Ayah tidak menjawab pertanyaan Sehun dan menoleh kearah Yoona.

 

“Sehun tadi sudah membawa nenek pulang lagi.”

 

Begitu Yoona menyelesaikan ucapannya, bibi muncul dari kamarnya dengan wajah lesu.

 

“Oh, sudah pulang?”

 

“Tadi nenek kembali mencari ‘si manis’ itu?” ayah bertanya dengan nada khawatir pada bibi.

 

“Ayay, memangnya kita pernah memelihara sapi?” tiba-tiba Sehun menyela sambil menyeka wajah ayahnya dengan handuk.

 

“Sapi?”

 

“Memangnya ‘si manis’ itu bukan nama sapi?”

 

“Sembarangan saja kau ini,” ayah mengerutkan alisnya mendengar Sehun berkata asal.

 

“Lalu, betul itu nama orang?”

 

Begitu Sehun bertanya lagi, ayahnya yang memasang ekspresi murung itu hanya masuk ke kamarnya tanpa mengucap sepatah kata pun.

 

“Sepertinya benar-benar ada ya? Mungkin sapi yang umurnya sudah cukup tua?” Sehun membelalakkan matanya dengan kaget dan menoleh kepada Yoona.

 

“Aku tidak ingat kalau rumah ini pernah ada sapi yang punya nama.”

 

Bibi yang berada disebelahnya pun ikut memiringkan kepalanya dengan bingung. Kemudian, ia memandang Yoona dan mendengus pelan.

 

“Tumben kau pulang cepat? Ternyata kau benar-benar takut denganku ya?”

 

Rasa kesal yang sempat hilang kini kembali menghampiri Yoona.

 

“Jadi, benar-benar ada jam malam?” protes Yoona.

 

“Bagus, Bi. Anak perempuan seperti ini memang harus dikurung di rumah seharian. Ibu hamil nasional? Aku sampai malu terhadap teman-temanku.”

 

Sehun berdecak keras seolah menunggu-nunggu kesempatan untuk membalas Yoona. Yoona meninju adiknya yang mengoloknya seperti itu.

 

“Aku yang seharusnya malu, dasar anak ini ! Adikku satu-satunya malah menjadi preman di lingkungan ini, mengajarkan yang tidak benar ke anak orang. Kau yang harus di kurung !”

 

“Benar-benar. Aku heran kenapa keponakan-keponakanku tidak ada yang benar seperi ini. Mungkin ini semua gara-gara aku. Untung saja aku tidak menikah. Mana mungkin aku bisa meninggalkan keluarga seperti ini?” bibi menghela napas sambil melihat kearah Yoona dan Sehun yang sedang bertengkar.

 

“Sudah, jangan bertengkar lagi kalian ini. Dan kau, jangan beralasan ada syuting, apalah…”

 

“Habisnya mau bagaimana? Bahkan mulai hari ini aku harus tidur di luar, bagaimana?” Yoona menyeringai dengan puas.

 

“Apa?!” bibi dan Sehun terkejut dan berseru bersamaan pada Yoona.

.

.

.

.

Yoona akhirnya meninggalkan rumah setelah meminta izin pada ayahnya dan mengemas barangnya. Ia bergegas berjalan ke halte bus dan berangkat menuju Rumah Sakit Taejo. Ia mulai lelah dengan hidupnya yang seperti ini. Ia harus memakai topi dan masker setiap akan naik bus, padahal bukan selebriti. Untung saja ia tidak lantas menjadi selebriti.

 

Yoona mulai merasa cemas ketika turun dari bus yang berhenti di depan rumah sakit itu.

 

“Jangan-jangan nanti aku bertemu dengan dokter gila itu lagi.”

 

Membayangkan akan bertemu dengan dokter itu membuat Yoona merasa cemas. Ia memang masih menaruh dendam pada dokter itu, tetapi belum siap untuk membalasnya. Namun, ia juga tidak bisa melepaskan pekerjaan ini hanya gara-gara orang itu. Yang pasti, aku tidak akan tinggal diam jika bertemu dengan dokter itu, batin Yoona. Setelah dipikir-pikir, ini semua adalah kesalahan dokter itu, ia hanya sebagai korban.

 

Yoona mengepalkan tangannya dengan geram dan memasuki rumah sakit. Tiba-tiba ia melihat PD Cho dan beberapa staf yang datang dari arah berlawanan. Yoona segera berlari menghampiri PD Cho.

 

“Sudah selesai?”

 

“Dokter-dokter itu tiba-tiba harus melakukan operasi, jadi rapatnya diundur sampai besok pagi.”

 

“Oh…..”

 

Apa aku harus bersyukur dengan situasi ini?

 

Kita lihat-lihat lokasi si rumah sakit ini saja dulu. Rental house-nya ternyata cukup jauh juga, lho.

 

PD itu mulai melangkahkan kakinya.

 

“Oh, ya, apa kita akan meliput tentang seluruh rumah sakit? Atau hanya satu departemen saja?” Yoona bertanya pada PD Cho sambil menyamakan langkah kaki dengannya.

 

“Ah, Pak Direktur belum memberitahumu ya? Kita syuting di bagian spesialis kandungan.”

 

“Spe, spesialis kandungan?”

 

Baru saja Yoona bisa tenang den bernapas lega, kini ia merasa disambar petir !

 

“Menurutmu kau diberi tugas ini dengan cuma-cuma, Ibu Hamil Nasional?” PD Cho memandang Yoona dengan tatapan penuh arti. Tidak mungkin. Lalu, berarti dokter itu……?

 

“Nah, sekarang kita keliling rumah sakit ini sebentar, lalu segera ke rental house.”

 

PD Cho tidak memedulikkan Yoona yang terserang shock dan melanjutkan langkahnya dengan santai. Yoona tidak tahu harus berbuat apa. Dokter gila yang sudah membuatku tercebur di “lumpur” seperti ini? Membuat orang itu tenggelam di lumpur ini saja tidak mudah, dan sekarang ia malah harus bekerja samadengan orang itu? Apa program tetap perdana yang kudapat dengan susah payah ini harus kulepas begitu saja? Yoona hanya bisa terdiam dengan berbagai pikirang di otaknya.

 

 

 

 

 

……….

 

 

 

 

 

Donghae pulang dari rumah sakit dengan wajah lelah setelah menyelesaikan operasi terakhirnya malam itu. Ia berjalan di koridor rental house dan berhenti sejenak sebelum sampai di depan rumahnya. Pintu rumah yang dulu ditempati Tiffany terbuka. Kemarin rumah itu masih kosong, apa sekarang ada penghuni baru?

 

Penuh rasa ingin tahu, Donghae menjulurkan kepalanya ke pintu yang terbuka itu.

 

“Enak ya, kau bisa memakai rumah ini seorang diri.”

 

Terdengar suara laki-laki.

 

“Aku jadi merasa seperti dokter sungguhan karena tinggal ditempat seperti ini. Fiuh, seandainya aku juga menjadi dokter.”

 

Terdengar suara perempuan yang menyesal menyahut ucapan laki-laki itu.

 

“Memang dulu nilaimu bagus?”

 

Laki-laki itu kembali menyahut sambil terkekeh

 

“ Ah, yoghurt ini untukku ya?”

 

“Kau dapat dari mana itu?”

 

“Di depan pintu…..”

 

“Jangan-jangan itu sudah kadaluwarsa? Cepat buang !”

 

Terdengar suara orang lain dalam percakapan itu. Padahal dirinya sangat kesepian, tetapi sepertinya orang yang baru datang ini banyak penggemarnya. Merasa seperti tengah memata-matai rumah orang lain, Donghae menarik tubuhnya dari depan pintu yang terbuka itu dan berjalan menuju rumahnya.

.

.

.

.

Begitu membuka mata, Donghae menjulurkan tangannya kearah alarmnya. Tepat saat alarm itu bersiap-siap mengeluarkan suara dan berseru ‘ppip-’, Donghae segera mematikan alarmnya itu.

 

Sinar matahari bersinar cerah seperti biasanya. Donghae mengusir kantuk dengan mengusap-ngusap wajahnya dengan tangan dan beranjak menuju kamar mandi. Hari itu, suasana tenang di pagi hari terasa menyenangkan baginya, memberinya rasa nyaman lebih daripada musik apapun. Donghae menikmati nyaman itu sambil mengeluarkan pasta gigi ke sikat giginya.

 

Ketika ia tengah menyikat giginya sampai mulutnya dipenuhi busa, ia samar-samar mendengar suara dari dinding disebelahnya. Donghae merasa bulu kuduknya meremang dan sesaat ia terdiam, berusaha mendengarkan suara itu dengan lebih jelas. Donghae memutar matanya kesana kemari dan menatap dinding disebelahnya. Tembok ini. Berarti rumah sebelah. Sepertinya ada orang baru yang tinggal di rumah itu sekarang. Yang pasti itu adalah seorang wanita.

 

Donghae perlahan mendekatkan badannya kearah dinding. Kemudian, ia menempelkan telinganyake dinding itu dengan sikat gigi di mulutnya.

 

“Hmmm~”

 

Hah ! Mata Donghae membelalak mendengar suara erangan wanita.

 

“Hmm hmmm~”

 

Suara itu semakin terdengar jelas. Bersamaan dengan itu, mata Donghae semakin membelalak dan ia menjauhkan diri dari dinding itu sampai menempel ke dinding seberangnya. Mulutnya ternganga lebar dan sikat giginya masih tergantung di mulutnya.

 

“Apa-apaan perempuan itu, pagi-pagi seperti ini…”

 

Berbagai imajinasi berkelebat di pikiran Donghae seperti iklan disebuah bioskop murahan. Donghae merasa wajahnya memerah. Tiba-tiba ia terbatuk seolah tersedak sesuatu dan kembali memegang gagang sikat giginya. Ia membuang jauh-jauh pikiran “19+” itu dari otaknya dan menyikat giginya dengan lebih serius, sampai-sampai gusinya berdarah.

 

Sial, apa selama ini ia terlalu “kelaparan”? Donghae tiba-tiba merasa kesal karena ketenangan di pagi hari yang tadinya ia nikmati kini berubah menjadi rasa kesepian dan kacau akibat pikiran anehnya tadi. Ia kemudian meletakkan sikat giginya dengan kasar di westafel di hadapannya.

.

.

.

.

.

.

.TBC

 

 

 

 

LEAVE YOUR COMMENT……………. 

Dipublikasi di yoonhae | Tag | 51 Komentar

_YoonHae _ Be Namja _ 4


 

 

Gambar

 

Author : Nana Lee

 

Genre : Comedy, Romance

Length : Chapter

 

Main Cast :

 

1..Im Yoon Ah

2. Lee Donghae

 

Desclaimer : Tak tahu kenapa bisa kepikiran ff ini, Be Namja. Mungkin akan lain kesannya dengan ff lain, sedang mencoba suasana baru. FF ini juga terinspirasi dari drama To The Beautiful You, tapi ceritanya tak akan disamakan dengan dramanya. FF ala author. Semoga kalian suka.

.

.

.

SIDERS,, Get Out !!

.

.

.

___Happy Reading __

.

.

.

“Kalian pulanglah lebih dulu. Aku akan pergi sebentar bersama dongsaengku,”

 

Selesai mengantar ke tiga perempuan itu, kini Yoona berniat untuk pergi, sekedar refresing menghilangkan stress yang baru-baru ini menimpanya. Ia juga hendak berbelanja, membeli barang barang yang diperlukan untuk kebutuhan asrama.

 

“Baiklah. Kalau begitu kami pulang dulu. Cepat kembali, ne?” Kwangmin berseru sambil melambaikan kedua tangannya, begitu juga Youngmin dan Donghae.

 

“Ne,,, annyeong.” Seru Chanyeol membalas lambaian dari hyung-hyungnya itu. Kwangmin, Youngmin dan Donghae kini telah menghilang dari pandangan mereka, tinggal lah Yoona, Baekhyun  dan Chanyeol disana.

 

“Kajja,,” seru Yoona sambil berlalu meninggalkan ke dua adiknya itu.

 

 

 

……….

 

 

 

Disinilah mereka sekarang. Berada di salah satu mall terbesar di Seoul. Membeli beberapa pakaian baru, bahan makanan dan yang lainnya. Yoona terus berjalan menyusuri toko-toko disana dengan Baekhyun dan Chanyeol yang berjalan dibelakang. Tak lupa dengan ke dua tangan mereka yang dipenuhi banyak tas belanjaan.

 

“Sekalian saja aku membeli handphone baru,,” tanpa pikir panjang, kini Yoona berlari menghampiri salah satu toko itu. Yoona langsung membelalakkan kedua matanya melihat banyak sekali smartphone keluaran terbaru yang terpajang di sana. Sementara itu, Baekhyun dan Chanyeol hanya diam tak bergerak dengan tangan yang penuh dengan tas belanjaan itu. Sepertinya mereka kehilangan jejak nunanya itu.

 

“Mengapa kita yang harus membawa semua belanjaan ini?” sesal Baekhyun. Sejak tadi mukanya memang selalu di tekuk, ia sudah tahu kalau nunanya itu sengaja mengajaknya ke sini hanya untuk membawakan ini semua.

 

Chanyeol hanya tertawa kaku ‘hohoho’ bahkan ia sendiri pun bingung sekarang. “Dimana nuna?” dengan tampang polosnya Chanyeol bertanya balik pada Baekhyun. Sesaat semua orang memberikan tatapanya kepada mereka dan sesekali mereka berbisik kepada teman yang bersamanya.

 

“Wuah, selera mereka seperti perempuan ya?”

 

“Iya, lihat itu. Banyak sekali yang mereka beli. Kira-kira apa ya?”

 

“Hmm, betul-betul.”

 

Suara bisikan bisikan it uterus terdengar. Tentu saja. Baekhyun yang sudah tidak tahan menahan malu, tiba-tiba berjalan dengan langkahnya yang besar tergesa-gesa, sesekali melayangkan umpatan untuk nuna-nya, “Awas saja..”

 

“Yak, Baekhyun-ahh. Tunggu !”

 

Chanyeol yang tertinggal dibelakang segera menyusul, menyamakan langkahnya dengan Baekhyun. Mereka menyusuri setiap toko, mengamati tempat tempat itu bak seorang detektif.

 

“Itu nuna !” Baekhyun sontak menghentikan langkahnya, tepat didepan sebuah counter handphone. Dengan suara keras ia berteriak, begitu pula dengan tangannya yang menunjuk mengarah kepada Yoona. Tak peduli dengan semua orang yang kaget karenanya, karena yang terpenting ia harus bertemu Yoona dan memberikan pelajaran pada nuna-nya. Diletakkannya belanjaan itu disembarang tempat lalu segera menghampiri Yoona.

 

Yoona masih tetap asyik memilih smartphone yang akan dibelinya. Bahkan ia tidak tahu jika ada dua iblis yang siap mencekiknya dari belakang. Satu tangan dari Chanyeol dan satu tangan juga dari Baekhyun sudah terangkat sidikit demi sedikit menuju leher itu.

 

“Itu bagus, Nuna. Kau ingin ambil yang itu?” Chanyeol melayangkan pertanyaannya.

 

“Ya, bagaimana menurutmu?” tak sadar Yoona menjawab pertanyaan itu dan terus mengamati smartphone itu.

 

“Tentu. Biru itu bagus. Tapi kurasa harganya tidak murah. Memang kau punya uang untuk ambil yang itu?” kali ini giliran Baekhyun yang melayangkan pertanyaanya dan kini tangan-tangan mereka telah sampai di bahu, dan akan segera menuju leher.

 

“Uangku cukup untuk membeli ini. Bahkan jika aku mau, aku bisa beli tiga yang seperti ini !” nadanya terdengar angkuh memang.

 

“Benarkah? Kalau begitu belikan kami juga.”

 

“Oke !” Yoona yang sudah tidak tahan berteriak dengan keras. Ia merasa terganggu dengan semua pertanyaan yang didengarnya tadi dan tanpa sadar telah menjawabnya.

 

Yoona terdiam sejenak. Kini ia merasakan sesuatu, seperti dua tangan yang sedang mencekiknya, namun tidak sakit. Hanya sekedar menempel.

 

“Mwo ??!!” untuk yang kedua kalinya ia berteriak. Ia sadar sudah mengiyakan pertanyaan yang terakhir. Segera saja ia berbalik, menemukan ke dua adiknya yang berada tepat dibelakang dengan tangan mereka yang sudah terlepas dari leher Yoona.

 

Begitu terkejutnya ia, sampai-sampai mulutnya itu tetap menganga lebar. Chanyeol yang tadinya ikut terkejut, mulai terkikik pelan melihat reaksi nuna-nya.

 

“Karena Nuna sudah mengiyakannya, maka dari itu belikan kami,” Baekhyun menadahkan tangannya seperti seorang anak yang meminta uang jajan pada ibunya.

 

Yoona hanya bisa pasrah. Toh siapa suruh ia bisa sampai tertipu seperti itu. ‘Benar-benar kurang ajar. Awas kalian’  batin Yoona.

 

 

 

……….

 

 

 

Begitu bahagianya si kembar Im ini, bagaikan mendapat sebuah mainan baru. Aura gelap menyelimuti tubuh Yoona seiring dengan langkah kakinya. Ia berjalan tepat dibelakang dua adiknya ini lengkap dengan tas belajaan yang ada di kedua tangannya. Terpuruk memikirkan nasib uangnya yang terbang begitu saja. Berbeda dengan Chanyeol dan Baekhyun, nampak aura yang begitu cerah menyelimuti tubuh keduanya.

 

Namun siapa sangka, tak lama waktu berselang, sebuah mobil yang melaju dengan ugal-ugalan nampak melintas dengan cepat dijalan itu. Sang pengemudi bahkan tak melihat rambu lalu lintas yang menganjurkannya untuk berhenti. Kecelakaan itu tak terelakan. Yoona yang sedang menyeberang turut menjadi korban. Tubuhnya terpental beberapa meter lengkap dengan belanjaannya yang kini penuh dengan bercak darah. Handphone yang baru dibelinya pun turut rusak terlindas ban mobil.

 

“Uhuk,, uhuk,,” Yoona yang tak kuasa menahan rasa sakit itu terbatuk dan mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. Ia terbaring lemas ditengah dinginnya aspal. Suasana kembali mencekam disaat semua orang disana kembali berteriak.

 

Baekhyun dan Chanyeol. Bagaimana dengan mereka? Tak berbeda jauh dengan nuna-nya. Tak lama setelah itu, sebuah truk bermuatan besi ikut melintas begitu cepat. Sang pengemudi itu juga sama, tak melihat rambu lalu lintas. Apakah hari ini banyak sekali orang rabun yang mengendarai mobil? Tentu kita tidak tahu, mungkin kebetulan. Dua orang langsung menjadi korban. Chanyeol dan Baekhyun. Tubuh mereka memang tidak terlempar jauh tapi, apa daya jika besi-besi dalam truk mulai berjatuhan menimpa korbannya. Sungguh malang. Dan kini semua menjadi gelap.

 

 

 

……….

 

 

 

Donghae tersentak kaget, dan itu membuatnya bangun sekarang. Kemudian disambut dengan suara “Prang,,,” , gelas yang pecah dari arah dapur. Youngmin sedikit terkejut, ia menatap prihatin gelas yang sudah tak berbentuk itu. “Ada apa ini? Apa yang terjadi?” ucap keduanya bersamaan.

 

 

 

……….

 

 

 

Suasana benar ramai-ramai. Dapat dilihat orang-orang berpakaian putih tampak berlalu lalang disana. Tak luput juga suara deringan mobil ambulance memenuhi jalan itu. Terlihat  Yoona dan kedua adiknya tampak dibawa dengan tandu oleh petugas. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, kini mereka telah sampai dan langsung memasuki ruang operasi.

 

“Dimana keluarga korban?”

 

“Kami sedang berusaha menghubunginya. Syukurlah kami sempat menemukkan satu nomor yang aktif dalam ponsel korban.” Jawab salah satu perawat.

 

“Segera hubungi mereka ! Kami tak bisa lakukan operasi jika belum ada yang menanda tangani surat persetujuan operasi.”

 

 

 

………

 

 

 

Donghae baru saja keluar dari kamar mandi, dengan rambutnya yang basah, ia memakai jeans hitam pendek selutut dipadu kaos putih pendek. ‘Mengapa Yoonghwa dan adik-adiknya belum pulang? Ini sudah hamper malam.’  Tak lama, handphonenya yang terletak di kasur berbunyi,,,

 

“Yeobosaeyo?”

 

“Dengan Lee Donghae?”

 

“Ya.”

 

“Kami dari rumah sakit Seoul. Seseorang bernama Im Yoonghwa dan dua adiknya baru saja mengalami kecelakaan. Kami harap, Anda segera datang kemari.”

 

“Mwoo??!!”

 

 

 

……….

 

 

 

“Ini. Kami menemukan dua ponsel ini, dan satu lagi kelihatannya sudah rusak karena terlindas.”

 

Seorang petugas kepolisian Seoul, nampak memberikan ponsel pada Donghae setibanya ia di rumah sakit. Tanpa basa-basi, Donghae segera berlari menuju meja perawat dan menanyakan tentang Yoonghwa dan adiknya.

 

“Permisi. Saya Donghae. Pasien korban kecelakaan  yang baru saja datang, bagaimana kondisinya sekarang?”

 

“Anda keluarga pasien?”

 

“Bukan. Tapi, saya teman dekat pasien.”

 

“Kalau begitu, Anda bisa tanda tangan disini. Ini surat persetujuan operasi.”

 

“Operasi?”

 

“Ya,”

 

Surat sudah didepan mata. Dengan terburu-buru, Donghae menanda tangani surat itu. Dan mengembalikkannya kembali kepada perawat itu, lalu segera berlari menuju ruang operasi. Peluh membasahi tubuhnya.

 

“Bagaimana ini? Apa aku harus menghubungi keluarganya?” Donghae mengutak atik ponsel itu, hingga akhirnya ia menemukan salah satu kontak dengan nama, ‘Appa’. Dengan sedikit ragu, Donghae menekan tombol panggilan dan menghubungi nomor itu.

 

 

 

 

……….

 

 

 

 

Jepang, Tokyo

 

 

“Yeobo… Ponselmu berbunyi, sepertinya ada panggilan,” teriak Nyonya Im yang sedang menyiapkan makan malam.

 

“Kau angkat saja, Yeobo,” balas Tuan Im dari dalam kamar.

 

“Keurae,,”

Selesai menata makanan, Nyonya Im segera mengambil ponsel suaminya yang kebetulan letaknya tak jauh dari meja makan.

 

“Yeobosaeyo, dengan keluarga Im.”

 

“……..”

 

“Apa?? Nak Donghae tidak bercanda kan?”

 

“……..”

 

“Bagaimana sekarang keadaan anakku? Putriku dan dua adiknya?”

 

“………”

 

“Kalau begitu malam ini, Saya dan suami saya akan terbang ke Seoul. Terima kasih sudah menghubungi kami.”

 

“………..”

 

 

 

……….

 

 

 

Donghae POV

 

“Syukurlah, ku kira mereka akan shock mendengar ini.” Rasanya lega telah memberitahukan ini pada orang tuanya, tapi bagaimana sekarang kondisi mereka?

 

“Ya Tuhan, berikanlah kelancaran dalam operasinya. Aminn…”

 

“Tapi, mengapa tadi ibunya menanyakan tentang putrinya? Bukankah ke tiga anaknya laki-laki semua??”

 

Dan itu menjadi tanda tanya besar bagi Donghae.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC …

 

 

 

LEAVE YOUR COMMENT …

Dipublikasi di yoonhae | Tag | 36 Komentar

CHEEKY ROMANCE_YOONHAE VER. (4)


Gambar

Author : Nana Lee

Novel Karya : Kim Eun Jeong

Cast :

1.        So Yoon Pyo a.k.a Lee Donghae

2.        Yoo Chae a.k.a Im Yoon Ah

3.        Ki So Yeong a.k.a Kwon Yuri

4.        Oh Hye Rong a.k.a Hwang Tiffany

5.        Kim Dae Joon a.k.a Lee Hyukjae

6.        Yoo Gyu a.k.a Im Sehun

7.        Lim Eun Yi a.k.a Choi Sulli

8.        Kang Hee Jae a.k.a Xi Luhan

9.        PD Nam Guk Hyeok a.k.a PD Cho Kyu Hyun

10.        Eun Sang a.k.a Byun Baekhyun

11.        Suster Lee a.k.a Suster Kim Taeyeon

HAPPY READINGGGGGG………

Larut malam, Yoona duduk di kursi depan sebuah convenient store. Yuri yang hanya memakai sandal jepit duduk dihadapannya dan meletakkan bir, cumi kering, dan jus di meja mereka.

Ckrek.

“Minum.”

Yuri menyodorkan kaleng bir yang sudah ia buka. Yoona mengucapkan ‘thank you’ dengan lemas dan segera menenggak bir itu. Trak ! Yoona lalu meletakkan kaleng birnya ke atas meja dan menyeka mulutnya. Hatinya sedikit lebih lega setelah meminum bir itu dan semangatnya mulai muncul.

“Masa di usiaku ini, aku punya jam malam? Dasar dokter gila, lihat saja, akan kuhancurkan !”

Yoona memegang cumi kering yang sudah disobek tipis-tipis dan disusun di atas meja oleh Yuri dengan tangan bergetar.

“Seharusnya aku juga melihat tayangan itu. Sayang sekali, kemarin aku ada deadline. Bisa lihat di Youtube tidak?”

Yuri kembali menyobek-nyobek cumi kering dan meletakannya di atas meja sambil merasa menyesal karena tidak melihat tayangan itu.

“Kalau kau download, beritahu aku ya. Aku juga ingin mengoleksinya,” Yoona berkata dengan lemas karena sudah berteriak-teriak seharian.

“Jadi, sekarang kau sudah tidak peduli lagi? Tidak peduli apa kata orang? Mau koleksi juga?”

“Masih banyak jalan yang harus kulewati di hidupku ini. Fokusku adalah apa yang ada di hadapan ku saat ini, sementara hal-hal yang lain rasanya ingin kubuang jauh-jauh saja ke luar angkasa. Fiuh…..”

Yoona mendadak merasa menua, ia menggigit cumi keringnya dengan susuah payah. Kemudian, seolah terlintas dipikirannya, ia menatap Yuri lalu menatap perut Yuri.

“Anak itu, bisa saja menjadi anak yang sangat tidak sabaran. Atau anak yang mudah emosi.”

Ia tidak bisa berkata secara langsung bahwa dokter gila itu mungkin saja salah satu dokter yang menjadi donor sperma atas anak yang dikandung Yuri saat ini.

“Kenapa? Kau sekarang punya kekuatan sakti ya? Bisa melihat hal-hal seperti itu?”

Yuri mengelus perutnya dan mendekat pada Yoona dengan mata bersinar-sinar.

“Iya, iya. Kelihatan semuanya.”

Yoona yang merasa lelah secara fisik dan mental menghela napas lalu perlahan memejamkan matanya. Seketika itu juga, Yuri menggenggam tangannya erat-erat dan bertanya, “Anak laki-laki atau perempuan?”

Hah, apa-apaan wanita ini? Yoona mengacuhkan pertanyaan itu. Ia baru saja hendak menghela napasnya ketika tiba-tiba seseorang datang dan mengambil bir yang ada di hadapannya.

“Nuna ! Ibu hamil kan tidak boleh minum bir !”

Ternyata yang datang adalah Dongho, junior adiknya, Sehun, di SMA dulu. Yoona mengerutkan keningnya dan mendongak menatap Dongho. Kebetulan sekali aku sedang kesal, apa kupukul saja anak ini? Tapi malas juga melakukan hal itu.

 

“Kau juga lihat? Memangnya kau tidak belajar saat itu? Tidak mungkin kan sekolah memutar acara itu saat jam pelajaran sekolah.”

Yoona semakin memerosotkan dirinya disandaran kursi dan menatap Dongho. Dongho hanya menghela napas panjang.

“Kurikulum pendidikan di Korea ini sepertinya belum cukup untuk memuaskan rasa ingin tahuku. Aku masih lapar dengan ilmu-ilmu yang lain, Nuna.”

Darimana anak ini mendengar ucapan seperti itu. Dongho mengelus-ngelus perutnya ddan menatap Yoona dengan tatapan anak kecil yang kelaparan. Kemudian ia meminum bir milik Yoona.

“Anak ini benar-benar tidak sopan ya.”

Yoona akhirnya memukul kepala Dongho dan merebut kembali kaleng birnya.

“Sebaiknya kau belajar yang benar di sekolah. Setiap melihatmu, aku khawatir dengan masa depan Korea nanti. Membayangkannya saja membuatku pusing seperti habis memakai kacamata 3D.” Yoona mengangkat tangannya dan menatap Dongho tajam.

“Penasihat psikologisku, Sehun hyungnim saja, presentase kehadirannya hanya 30% selama tiga tahun sekolah. Jadi aku juga……….”

Dongho meletakkan tangannya di dada dan menatap ke langit. Lalu, ia mendapat pukulan lagi dari Yoona.

“Benar. Makanya ia juga menerima pukulanku, 100 kali lebih banyak daripada kau. Kau juga mau? Mau dipukul sekaligus apa di cicil? Tapi cicilannya tidak boleh lebih dari 10 hari ya.”

“Aduh, Nuna ini…..”

Dongho memegangi kepalanya yang terkena pukul dengan wajah yang hampir menangis. Apa ia memukulnya  terlalu keras dengan segala emosinya hari ini? Biarlah, anak ini memang pantas dipukul.

 

“Cepat kau buat daftar nama anak-anak yang hidupnya hancur dan malas-malasan karena anak itu dan berikan padaku. Aku akan mencari mereka satu per satu dan memberitahu bagaimana nasib panutan mereka itu sekarang secara langsung.”

Yoona khawatir masa depan Dongho akan hancur seperti adiknya. Itu berarti tanggung jawab ada pada Sehun, dan itu artinya, dirinya sebagai kakak ikut bertanggung jawab. Sekarang anak itu pasti sedang keluyuran tanpa tujuan di suatu tempat. Benar-benar anak yang menyusahkan.

Yoona kembali meminum bir yang ia rebut kembali dari Dongho. Dongho segera merebut kembali kaleng bir itu.

“Duh, Nuna ! Sudah kubilangkan tidak boleh minum bir ! Pokoknya aku akan ikut menjaga bayi ini.”

Sesaat Yoona merasa terharu meskipun anak ini bukanlah siapa-siapa dan ia pun tidak hamil.

“Memangnya kau ini siapa?”

Yuri yang sejak tadi hanya mengawasi mereka, bertanya dengan wajah tertarik dan ingin tahu. Dongho kemudian menatap ke langit, meluruskan tangannya membentuk angka 11 dan berkata.

“Aku ini adalah penjaga yang akan menjaga sang ibu hamil nasional, Yoona Nuna !”

“Pmff ! Ibu hamil nasional?! Huahaha !”

Yuri terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Kemudian Dongho menatap Yoona masih dengan gaya Ultraman-nya.

“Kau tidak tahu? Sudah tersebar di internet, lho.”

“Apa? Kurang ajar !”

Yoona segera berdiri dari kursinya. Saat itu juga, ia mendapat telepon dari kantornya.

“Kau benar-benar tidak akan mengklarifikasi hal ini? Katanya kau tidak hamil !”

Yoona yang tadinya ingin marah-marah langsung terdiam mendengar perkataan salah satu karyawan kantornya.

“Kau tahu kan, tidak mudah mengklarifikasi hal ini karena berkaitan dengan dokter kandungan.”

Apa-apaan lagi ini, setelah surat permohonan maaf, sekarang ia harus menyerahkan bukti tertulis juga bahwa ia tidak hamil? Rasanya orang-orang itu semua harus terus mengawasinya selama 10 bulan ke depan agar tahu fakta yang sebenarnya.

“Pokoknya aku akan membuktikan bahwa aku ini tidak hamil !”

Yoona menutup telepon itu dan napasnya terengah-engah karena emosi. Lihat saja, 10 bulan atau satu tahun lagi. Tidak aka nada bayi atau apapun yang ia lahirkan ! Keterlaluan !

……….

Donghae baru saja selesai memeriksa pasien-pasiennya dan keluar dari kamar rawat ketika seorang siswa SMP menyodorkan selembar kertas padanya. Ia terkejut dan menatap anak itu dengan binggung.

“Tolong tanda tangan disini.”

“Apa?”

Beberapa dokter dan Suster Kim yang ada dibelakangnya diam-diam tertawa.

“Aku melihat dokter di TV. Keren sekali.”

Siswi SMP itu memandang dengan kagum dan memberikan jempolnya. Barulah Donghae teringat akan kejadian kemarin. Sepertinya ia tidak melakukan hal-hal yang hebat.

“Dokter sudah menjadi ‘dokter nasional’.”

Donghae akhirnya memberikan tanda tangannya pada siswi SMP itu dan melangkahkan kakinya. Tiba-tiab Suster Kim berbisik padanya, “Dokter nasional? Setelah ada atlet nasional, MC nasional, sekarang ada dokter nasional?”

“Bagaimana orang-orang bisa tahu tempat kerjaku hanya dengan melihat wajahku sekilas di TV ya? Semua penduduk Korea ini memang seperti detektif ya? Hebat.”

Eunhyuk yang ia temui di teras bertepuk tangan dengan kagum.

“Hebat. Mengingatkan seorang reporter yang sedang syuting acara siaran langsung, mengesankan. Hebat.”

Dokter-dokter yang berpapasan dengannya juga memberinya tepuk tangan.

“Kau sebenarnya hanya bercanda dengan wanita itu kan? Lalu pergi meninggalkannya begitu saja.”

Donghae tersenyum pahit. Kalau sudah urusan bayi, ia memang selalu bertindak cepat seperti ini, tanpa memikirkan akibatnya nanti. Kini ia merasa tidak tenang karena sepertinya dialah yang menyebabkan acara siaran langsung itu kacau.

“Bagaimana dengan si ibu hamil nasional itu ya?” Eunhyuk bergumam penasaran sambil melontarkan istilah yang terdengar asing itu.

“Ibu hamil nasional?”

“Iya,, kalau ada dokter nasional, berarti pasiennya adalah ibu hamil nasional kan?”

“Tapi dia bukan pasienku….”

Aneh rasanya. Donghae baru sadar. Saat itu, reporter itu bersikeras mengatakan bahwa ia tidak hamil, berarti bisa saja kalau reporter itu belum menikah. Apa tidak apa-apa jika ia dipanggil ‘ibu hamil nasional?’

 

“Sepertinya identitas pribadi wanita itu sudah tersebar sekarang.”

“Oh ya?”

Zaman sekarang, banyak orang yang kondisinya semakin buruk jika terlibat situasi seperti ini. Donghae mulai khawatir, jangan-jangan sebutan ini juga akan merugikan wanita itu.

“Aku sudah tahu kau akan membuat masalah karena sifatmu yang tidak sabaran itu. Sikapmu saat itu benar-benar berlebihan…” Eunhyuk berkata dengan terus terang pada Donghae. Benar juga…. Apa sifatnya yang tidak sabaran itu termasuk salah satu penyakit? Ia sering kali marah-marah pada pasien yang ia anggap keterlaluan. Apakah pada akhirnya ia malah menghancurkan hidup pasiennya itu? Tetapi bagaimana caranya mengubah sikap yang tidak sabaran ini? Donghae memandang kearah gunung jauh dihadapannya dan menghela napas. Saat itu, Suster Kim melongokkan kepalanya ke teras dan memanggil Donghae.

“Dokter Lee !”

Donghae segera menoleh kearah perawat itu.

“Kepala rumah sakit ingin bertemu dengan Anda.”

“Menemuiku?”

Donghae terkejut dan bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Perawat itu mengangguk. Sepertinya ia tidak ada urusan dengan kepala rumah sakit. Donghae panik dan menoleh kearah Eunhyuk yang membuat gerakan memotong lehernya sendiri dengan wajah cemas. Mana mungkin…..

Donghae mengetuk pintu ruangan kepala rumah sakit dan terdengan jawaban ya dari dalam ruangan itu. Donghae membuka pintu dengan gugup. Kemudian, beberapa anggota komite rumah sakit yang duduk di sofa ruangan itu langsung memandang ke arahnya. Donghae membungkuk 90 derajat untuk memberi salam kepada mereka dan semakin tegang. Ia menarik napas panjang.

“Duduk.”

Kepala rumah sakit itu menunjuk kearah tempat duduk Donghae. Donghae duduk di tempat yang sudah ditentukan itu dengan hati-hati. Ini bukan pertemuan untuk mambahas masalah etika kedokteran atau sejenisnya kan? Donghae duduk dengan wajah gugup dan sekilas melirik kearah anggota komite yang lain. Mereka memandang Donghae dengan puas. Sepertinya bukan sesuatu yang buruk.

“Kemarin kami melihat aksi beranimu di TV.”

Aksi berani? Ah, masalah itu? Donghae merasa semakin panik.

“Saya mohon maaf apabila mencemarkan nama rumah sakit……”

“Tidak. Justru citra bagian spesialis kandungan di rumah sakit ini semakin membaik berkat kau. Rasanya aku ingin ikut memajang nama rumah sakit disamping wajahmu. Hahaha.”

Kepala rumah sakit tersenyum puas.

“Ya?”

“Banyak orang yang mengenali wajahmu dan memuji-mujimu. Katanya kau ini adalah dokter yang memperhatikan setiap pasiennya sampai hal-hal sepela seperti itu. Meskipun semua dokter dibidang lain pun bersikap begitu, namun karena kau dokter kandungan, jadi kesannya lebih mendalam.”

“Ah, begitu rupanya.”

Donghae masih tetap panik.

“Bahkan reputasi dokter kandungan juga ikut membaik. Oleh karena itu, kesempatan yang tadinya akan diberikan ke bagian spesalis bedah, sekarang akan diberikan ke bagian spesialis kandungan.”

Donghae sekilas dapat melihat wajah ketua dokter spesialis bedah yang terlihat tidak senang. Ada apa lagi ini? Selama ini Donghae selalu berhatihati agar jangan sampai orang lain memperlakukannya secara khusus karena ibunya adalah direktur yayasan ini. Namun, sekarang malah ada satu rencana yang sampai berubah hanya karena dirinya dan ia tidak suka dengan hal ini.

“Beberapa waktu yang lalu, ada tawaran dari stasiun TV untuk membuat acara dokumenter kedokteran. Tadinya akan kita fokuskan ke bagian spesialis bedah, sekalian untuk mempromosikan rumah sakit ini. Kau juga pernah lihat kan? Semacam serial drama kedokteran seperti itu.”

“Ya.”

“Sekarang kita akan fokuskan pada bagian spesialis kandungan. Dokter kepala di bagian kandungan dan kau sebagai dokter muda yang akan memegang peran utama. Mohon kerja samanya.”

Kepala rumah sakit itu memandang Donghae dengan penuh rasa percaya.

“Bagaimana saya bisa melakukan……”

Ketua dokter spesialis kandungan itu melanjutkan ucapan Donghae yang terdiam dan bingung.

“Daripada dokter tua seperti kami yang memegang peran utama, lebih baik dokter muda seperti kau yang memegang peranan utama tersebut. Lagi pula, pasti akan lebih enak dilihat. Kalau ada masalah atau sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, langsung katakan saja. Aku akan selalu berdiskusi dengan kepala rumah sakit dan membantumu menghasilkan suatu karya yang hebat.”

Keinginan ketua dokter spesialis kandungan itu terlihat berapi-api. Sepertinya ia senang sekali karena kesempatan yang tadinya akan diberikan ke bagian bedah kini jatuh ke tangannya.

“Tapi saya tidak pernah melakukan hal seperti itu…..”

Meskipun ini semua karena acara siaran langsung itu, ia masih merasa ada pengaruh ibunya dalam masalah ini. Ia mulai curiga, jangan-jangan ibunya sudah merencanakan semua ini sejak kemarin.

“Memang siapa yang sudah mencobanya? Orang dari stasiun TV akan datang membantumu, kau vukup berdiskusi dengan mereka sambil menjalankan proyek ini. Bagaimana kau bisa kan?”

Kepala rumah sakit itu tertawa senang. Donghae terlihat ragu. Bukankah sebaiknya ia menolak tawaran ini?

“Jangan menolak kesempatan ini. Kalau kau menolak, proyek ini terpaksa akan dialihkan ke bagian lain.”

Kepala rumah sakit berkata dengan tegas, seolah bisa membaca pikiran Donghae. Kemudian, dokter kepala bagian kandungan memberinya tatapan penuh makna, tatapan yang menyuruhnya untuk menerima tawaran itu. Donghae yang panik hanya menundukkan kepalanya.

“Ba, baiklah. Saya akan melakukannya.”

“Bagus. Aku benar-benar percaya padamu.”

Kepala rumah sakit itu menepuk pundak Donghae dengan wajah puas. Sementara dokter kepala bagian kandungan menatapnya bangga.

Donhae yang keluar ruangan kepala rumah sakit berjalan beriringan dengan ketua dokter spesialis kandungan kearah ruangan dokter itu.

“Ini benar-benar kesempatan yang bagus. Kalau peminat di bagian kandungan rumah sakit ini semakin banyak, maka gedung yang baru dibangun itu nanti bisa dipakai olah bagian kita.”

Itu artinya Donghae harus bersungguh-sungguh dalam proyek.

“tadinya kau sudah kecewa pada proyek ini, gedung baru, dan sepertinya semuanya diberikan kepada bagian bedah. Tapi syukurlah, berkat kau kita bisa mendapat kesempatan ini.”

Dokter itu ikut menepuk-nepuk pundak Donghae seperti kepala rumah sakit tadi. Ia tidak menyangka kecelakaan ditengan siaran langsung itu malah membuatnya dipuja-puja seperti ini. Kemudian, ia teringat dengan reporter yang identitas pribadinya itu tersebar. Bagaimana dengan wanita itu ya? Yang pasti ia tidak akan mendapat keuntungan seperti ini.

 

“Semoga acara dokumenter ini sukses dan nanti kita bisa pindah ke gedung baru.”

Dokter itu tersenyum bangga pada Donghae dan masuk keruangannya. Donghae menatap pintu ruangan yang tertutup itu dan semakin tidak tahu harus berbuat apa. Baginya, kejadian kemarin sudah cukup untuk memberinya pengalaman masuk TV.

Selama ini ia hidup dengan bendera ‘anak dari ketua yayasan’ di atas kepalanya dan ia paling tidak suka apabila tatapan orang-orang tertuju padanya karena hal ini. Ia ingin dilihat oleh orang lain karena kemampuannya. Namun sepertinya, penilaian orang terhadap dirinya tetap dipengaruhi oleh pandangan bahwa ia adalah anak ketua yayasan rumah sakit itu. Itulah sebabnya ia ingin mendapat penilaian yang sama seperti orang-orang yang lain. Itu saja. Tetapi, sekarang ia malah diminta tampil di sebuah acara dokumenter. Benar-benar jauh dari keinginannya.

……….

Yoona terlambat pergi ke kantor. Ia berlari tergesa-gesa menuju halte bus. Ketika ia hamper sampai di halte bus itu, terlihat bus yang harus ia naiki hamper berangkat meninggalkan halte.

“Tunggu bus !” Yoona berlari sekuat tenaga dan berteriak kearah bus itu. Ia mengetuk-ngetuk pintu bus yang sudah setengah jalan itu sampai bus itu berhenti dan pintunya terbuka kembali.

“Terima kasih.” Yoona berkata pada sopir bus dengan napas tersengal-sengal dan menyeruak masuk ke dalam bus yang cukup penuh itu.

“Permisi, maaf. Saya mau lewat sebentar.”

Yoona meminta maaf ke kanan kirinya dan berjalan diantara orang-orang yang berdiri di bus itu. Orang-orang di bus itu sekilas melirik kearah Yoona. Kemudian, salah seorang mahasiswa yang sedang asyik tertawa sambil menatap smartphone-nya sekilas menoleh pada Yoona dan menatap smartphone-nya lagi. Kemudian ia terkejut dan segera berdiri dari duduknya.

“Silahkan duduk disini,” mahasiswa itu buru-buru  memberikan tempat duduknya pada Yoona.

“Ya? Ah, tidak apa-apa. Terima kasih.”

Rasanya ia masih terlalu muda untuk diberi tempat duduk seperti itu, pikir Yoona. Kemudian mahasiswa itu kembali mengecek smartphone-nya dan kembali berkata dengan sopan pada Yoona.

“Tidak apa-apa. Anda kan sedang kurang enak badan juga, silahkan duduk.”

“Ya?” Yoona menatap mahasiswa itu dengan bingung, sementara mahasiswa itu memaksa Yoona untuk duduk.

“Barusan aku lihat di internet. Si ibu hamil nasional, benar kan?”

“Apa?”

Sial !  Yoona baru saja hendak berkata ‘tidak’ tapi orang-orang di sekelilingnya sudah mulai berbisik-bisik dan memandanginya.

“Wah, benar.”

“Iya, aku juga lihat kemarin.”

“Ia makan segala macam, padahal sedang hamil. Mungkin sedang ngidam ya.”

“Kelihatanya sih biasa saja, tapi coba dong belajar sedikit. Ckckck.”

“Meskipun begitu, harusnya ia tahu kan kalau ibu hamil itu tidak boleh minum alkohol?”

“Bukan salahnya juga sih kalau ia tidak tahu.”

“Kalau perutnya seperti itu, sudah berapa bulan ya?”

“Hmm, tiga bulan?”

Tiba-tiba saja tatapan orang-orang tertuju pada perutnya. Yoona sangat kesal dan marah sampai ia tidak bisa berkata apa-apa. Seenaknya saja melihat perut orang seperti itu………. Lali ia tidak sengaja bertatapan dengan seorang tua yang menatapnya tajam.

“Ikan fugu dan kacang merah itu tidak baik. Apalagi alkohol !”

Orang tua itu mengangkat jari telunjuknya dan menggoyang-goyangkannya di depan Yoona. Meskipun ia merasa bersalah pada orang tua itu, tetapi sepertinya sudah saatnya ia mati. Bukan orang tua itu, melainkan dirinya sendiri. Yoona yang dipermalukan banyak orang dalam bus itu tidak bisa berkata apa-apa dan ia hanya mengalihkan pandangannya ke luar jendela sambil memeluk tasnya. Kemudian ia bertatapan dengan mahasiswa yang tadinya memberikan tempat duduk padanya. Ia sedang memandang kearah Yoona dengan wajah ramah. Yoona tersenyum kaku pada mahasiswa itu dan kembali menyandarkan kepalanya ke jendela bus itu.

Yoona akhirnya tiba dikantor setelah diperlakukan seperti ibu hamil di sepanjang perjalanan. Disambut dengan tatapan dingin dari rekan kerjanya, ia duduk di mejanya dan menyalakan komputernya.

.

.

.

  • Ibu hamil nasional. Biar kami yang menjaga anak itu. Seluruh Korea menjadi penjaga wanita itu.

.

.

.

Di bawah artikel itu, terpampang foto orang-orang mulai dari usia SD sampai setengah baya dengan berbagai pose pahlawan. Ada juga foto orang yang bahkan sampai memakai kostum warna-warni seperti pahlawan yang berpose di depan patung ibu sebagai lambang kesuburan.

Yoona menggigit-gigit jarinya dengan kesal sambil memperhatikan layar komputernya. Akhirnya, ia menemukan foto wajah dokter gila dari cuplikan acaranya itu dan menusuk-nusuk foto itu dengan ujung pensilnya. Tiba-tiba terdengar suara ketua bagian reporter memanggilnya.

“Hai ! Sang Ibu Hamil Nasional !”

“Ya !” Yoona langsung berdiri dan menjawab karena terkejut.

“Huahaha !”

Seketika itu juga, satu ruangan itu dipenuhi dengan gelak tawa rekan-rekannya. Lagi-lagi ia dipermalukan seperti ini. Ketua reporter yang menatapnya dengan prihatin memberikan isyarat dengan tangannya.

“Ke ruanganku sekarang.”

“Baik.”

Yoona yang sudah siap mati, berjalan kearah ruangan atasannya itu.

“Kau pindah dulu ke kantor cabang, ya.”

“Apa?”

Akhirnya, apa ini artinya ia di pecat? Yoona menunduk karena tidak berani menatap atasannya. Atasannya terlihat benar-benar menyeramkan saat itu.

“Kalau kantor cabang, di…….”

“Bukankah tempatnya tidak terlalu penting?”

Yoona semakin takut dan gugup, apalagi karena ia tidak pernah melihat atasannya semenyeramkan ini sebelumnya.

“Kau telah merusak nama baik kita sebagai presenter. Kau tahu itu kan?”

Ucapan yang sama terulang lagi. Kalau ini dianggap sebagai kesalahannya, sebenarnya ia hanya pergi ke dokter kandungan bersama Yuri. Apa itu termasuk suatu kesalahan yang benar-benar tidak termaafkan?

“Kalau ada kantor cabang tertentu yang kau inginkan pun, aku tidak berniat mengirimu ke sana. Jadi, sekarang cepat kemasi barang-barangmu, kau masih beruntung karena masalah ini juga tidak sepenuhnya disebabkan oleh dirimu sendiri, jadi kita tuntaskan urusan ini sampai disini saja. Hati-hati, jangan sampai kau membuat masalah lagi di sana.”

Rupanya ia akhirya tersingkirkan seperti ini. Yoona sadar bahwa meskipun mudah baginya untuk turun, namun sangat sulit baginya untuk naik dalam dunia kerjanya ini dan hal ini membuat dadanya sesak. Apalagi selama ini ia belum menunjukkan kemampuannya yang maksimal. Tanpa sadar hidungnya memerah karena dilanda rasa sedih yang luar biasa. Ia menegarkan tatapan matanya untuk menahan tangis yang rasanya hampir keluar dari matanya. Ini semua gara-gara dokter gila itu.

……….

Begitu selesai praktik, Donghae iseng menyalakan internet. Ia tidak pernah iseng-iseng membuka artikel gossip di internet sebelumnya, sehinnga saat melihat tulisan-tulisan itu, ia tidak tahu apakah semua itu berita betulan atau hanya omong kosong belaka.

.

.

.

  • Si ibu hamil nasional yang merusak citra baik reporter
  • Ibu hamil nasional “menggali” status reporter. Mau digali sampai mana? Lalu apa yang didapat? Rasa malu?
  • Saya juga ibu hamil. Kenapa harus malu?

.

.

.

Bahkan ada artikel yang memastikan kalau nama wanita itu adalah Yoona. Banyak juga tanggapan dari masyarakat mengenai hal ini. Entah apa karena wajah mereka tidak terlihat, mereka berani mengungkapkan pendapat mereka dengan lebih bebas dan blak-blakkan. Sampai ada video dan foto tentang pahlawan pelindung ibu hamil nasional. Bahkan ada foto sekelompok laki-laki memakai kostum dokter dan bergaya seperti tokoh animasi Gatchaman. Donghae tertawa melihatnya. Kemudian ia membaca sebuah artikel.

.

.

.

Ibu hamil nasional, si mesin pembuat surat permohonan maaf. Tugasnya di kantor saat ini adalah menulis surat permohonan maaf. Beberapa waktu yang lalu, ia juga disuruh menulis surat permohonan maaf karena memaki-maki mantan pacarnya melalui situs jejaring kantor, dan sekarang…

.

.

.

Hah? Jadi ia wanita seperti itu? Ternyata ada reporter yang sikapnya seperti ini? Tadinya ia merasa bersalah pada wanita itu, tetapi setelah mengetahui bahwa sikap dan pandangan orang-orang tentang wanita itu juga tidak terlalu baik, rasa bersalahnya langsung berkurang setengahnya. Seandainya saja masalah ini tidak melibatkan dirinya, mungkin ia bisa dengan mudah melupakan wanita itu. Tetap saja Donghae terus teringat akan wanita itu dan hatinya tidak tenang. Apa boleh buat, ini memang kesalahannya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal ini pada satu pun pasiennya. Bagaimana ini?

Saat jam pulang kantor, Donghae keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Ia berjalan menuju tempat parkir dan melihat Tiffany berjalan didepannya. Merasa senang melihat Tiffany, Donghae segera berlari menghampirinya dan berjalan disampingnya.  Tiffany sempat terkejut, namun kemudian tertawa setelah mengetahui bahwa Donghae yang menghampirinya.

“Katanya acara dokumenter itu mau dibuat di bagian kita, ya?” Tiffany bertanya dengan penuh rasa indin tahu. Namun, donghae tidak terlalu gembira mendengar pertayaan itu. Ia memikirkan sesibuk apa dirinya nanti, mengurus setip pasiennya saja sudah membuatnya pusing, kini seolah beban tugasnya bertambah satu, belum lagi masalah reporter itu.

“Katanya begitu. Tapi menurutku proyek ini hanya akan mengganggu aktivitas rumah sakit saja,” suaranya benar-benar terdengar kesal.

“Bukankah kau yang mendapat spotlight, setelah ketua dokter kita?”

“Spotlight apanya. Mereka hanya ingin menjual wajahku saja, makanya disuruh banyak muncul di depan kamera.”

“Meskipun begitu, kau harus bersunggug-sungguh di proyek ini. Sebentar lagi ketua dokter itu akan naik pangkat, mungkin saja ia sudah berencana menunjukmu untuk menggantikan dirinya.”

Ternyata benar  otak wanita itu memang bekarja lebih cepat.

 

“Begitu kah?” Donghae menggigit bibirnya. Kemudian ia mengeryitkan dahinya.

“Entahlah. Aku hanya ingin serius menjalankan tugasku.”

Yang penting adalah kemampuanku. Aku tidak terlalu menginginkan jabatan atau apapun itu.

 

“Itu sebabnya ia senang denganmu.”

Tiffany menggandengkan lengannya pada Donghae. Donghae terkejut karena tidak biasanya Tiffany melakukan skinship seperti ini. Meskipun begitu, hatinya senang.

“Sayang sekali kita tidak bisa pulang bersama hari ini,” Tiffany berkata dengan sedih. Sampai kemarin pun, Tiffany tinggal disebuah rumah sewaan disebelah rumah Donghae. Namun karena ayahnya sakit, kini ia kembali tinggal dirumah orang tuannya.

“Benar juga. Padahal selama ini kita selalu berangkat dan pulang bersama. Bagaimana kondisi ayahmu?” Donghae menatap Tiffany dengan khawatir.

“Sepertinya beliau kesepian karena ibu meninggal.”

Tiffany tersenyum hampa pada Donghae. Donghae tidak tega melihat Tiffany seperti itu.

“Kapan-kapan, ajaklah ayahmu datang ke tempatku. Kusiapkan makan malam yang lezat.”

“Benarkah?”

Wajah Tiffany langsung cerah seketika. Ia senang dengan gadis yang tidak pernah basa-basi ini. Ia iri dengan sifat Tiffany yang selalu bisa mengutarakan dengan jujur apa yang ia rasakan. Meskipun dirinya juga bisa bersikap ramah pada pasiennya- walaupun terlalu ramahnya sampai menimbulkan masalah- , sepertinya ia bersikap lebih dingin di kehidupan pribadinya. Bukan sekali dua kali ia kesal karena sulit mengutarakan perasaanya sendiri. Hubungannya dengan ibunya yang semakin menjauh sepertinya karena sifatnya itu.

.

.

.

……….

.

.

.

Yoona dipindahkan ke kantor stasiun TV Wonju. Waktu yang ia perlukan untuk pulang pergi saja lebih dari dua jam. Baik Yoona maupun pihak Wonju sama-sama terkejut mendengar keputusan ini.

Pertama, Yoona tidak sanggup membiayai tempat tinggalnya disana, sementara officetel yang disediakan khusus karyawan sudah penuh. Mau tidak mau, Yoona terpaksa pulang pergi selama beberapa saat sambil mencari kamar dengan harga yang murah. Namun, sepertinya ia juga tidak memiliki banyak waktu sampai bisa berkeliling mencari rumah seperti itu. Dari hari pertamanya saja, Yoona sudah mendapat cobaan. Kakinya bergetar dan keringatnya mengucur di seluruh tubuhnya karena disuruh pergi kesana kemari seharian. Jadi, seperti ini cara menyambut karyawan baru?

PD yang bahkan ia tidak kenal tiba-tiba menyodorkan gaun ala tuan puteri padanya.

“Untuk program daerah kami, ‘Manusia Luar Biasa’. Syutingnya hari ini karena tiba-tiba asisten reporter yang biasa membawakan acara ini tidak bisa hadir karena sakit. Pembawa acara utamanya adalah Oh Gyeong Taek. Kau cukup memakai pakaian ini dan berdiri disebelahnya.

Begitu mendengar nama acaranya, Yoona berharap kalau PD itu hanya bercanda. Ia tahu kalau setiap daerah memiliki acara masing-masing. Tentu saja ia juga tahu kalau acara ini termasuk acara utama di daerah Wonju ini. Acara yang berada di antara garis batas antara “acara aneh” dan “acara layanan masyrakat” yang sepertinya tidak mendapat keuntungan. Sesuai namanya, acara ini mencari hal-hal aneh yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh manusia, mungkin bisa dikatakan semacam acara uji coba? Pernah ada seorang comedian yang membawakan acara ini dan mengundurkan diri karena muak dengan isi acaranya. Saat itu, katanya ia hampir ditusuk oleh seorang Anti-Fan nya saat sedang makan. Meskipun begitu, untuk skala TV daerah, acara ini termasuk acara yang digemari dan bertahan  sampai sekarang.

Untungnya, Yoona tidak ditunjuk untuk menjadi reporter tetap di acara itu. Namun, ini awal mula cobaanya hari itu. Setelah berkali kali mendapat teguran karena tidak memakai kostum itu dan hanya menentengnya kesana kemari, akhirnya Yoona memakai kostum itu di kamar mandi yang sempit. Yoona menyadari bahwa jika dia berada di tempat ini terus menerus, maka ia tidak pernah akan kembali ke pekerjaannya yang dulu. Yoona teringat akan dirinya yang membawakan acara berita pukul Sembilan pagi dan menggertakan giginya dengan geram ditempat yang dipenuhi bau ammonia itu.

“Sepertinya ia berpacaran dengan calon suaminya itu, tapi malah terlanjur hamil. Apa gunanya presenter itu, seharusnya dipecat saja…..”

Suara PD yang bertanggung jawab atas acara itu tanpa sengaja terdengar oleh Yoona. Ia rasanya ingin segera berteriak dan membantah itu semua. Namun, ia memutuskan untuk bersabar. Sepertinya, ia harus menanamkan kata sabar dalam dalam di otaknya untuk bertahan melewati satu hari ini.

Yoona menatap cermin dan berusaha menarik otot-otot wajahnya untuk tersenyum. Kemudian ia memakai topi yang sejak tadi ia bawa. Ia mengikatkan bentuk pita dari tali topi itu dibawah dagunya dan seketika ia terlihat seperti boneka tuan puteri dari zaman perang 100 tahun yang lalu. Ditambah lagi, ia harus mengenakan panier berbentuk lonceng besar di dalam gaunnya, yang membuatnya terpaksa duduk di bagian paling belakang van selama perjalanan ke lokasi syuting.

Lokasi syuting hari itu adalah sebuah taman bermain yang sedang mengadakan festival bunga. Dalam perjalanan, PD itu memberikan pengarahan singkat bahwa di festival itu ada acara cosplay.

Setelah tiba di lokasi, Yoona merasa bersyukur karena ia hanya mengenakan gaun. Orang-orang di sekelilingnya terlihat seperti makhluk dari planet lain atau alien yang sedang mengunjungi bumi.

“Kita akan meliput suasana lokasi kontes cosplay ini, jadi kau ikuti saja Gyeong Taek baik-baik,” PD itu sekali lagi mengingatkan Yoona.

“Baiklah.” Yoona mengangguk patuh. Syuting pun dimulai.

“Pemirsa, sekarang kami telah tiba di lokasi kontes cosplay yang di adakan setiap tahun ditempat ini. Kabarnya banyak peserta yang dulu tampil di acara ‘Manusia Luar Biasa’ dan sekarang ikut menjadi peserta kontes cosplay ini. Semuanya benar-benar ramai ya, Yoona-shii?” Gyeong Taek yang memakai kostum seperti pangeran itu bertanya sambil tersenyum pada Yoona.

“Iya, benar….”

“Nah , sekarag mari kita lihat ada siapa saja di kontes ini. Let’s go !” Gyeong Taek langsung berseru ‘let’s go!’ bahkan sebelum Yoona menyelesaikan ucapannya dan segera membalikkan badannya. Yoona hanya tertawa kaku ’hohoho’ dan mengikuti rekannya itu.

Setelah sekitar dua jam tidak berkata apa-apa dan hanya mengikuti pembawa acara itu kesana kemari, kakinya mulai lemas dan berkeringat. Gaus berlapis yang ia kenakan mulai menempel di tubuhnya dan panier yang ia pakai di pinggangnya itu selalu terayun ayun setiap ia berjalan, membuatnya tidak nyaman.

Saat jam istiharat, Yoona duduk di sebelah Gyeong Taek sambil membuka topinya dan sibuk mengipasi dirinya sendiri. Tiba-tiba sekelompok anak kecil datang menghampiri mereka.

“Gyeon Taek ahjussi, minta tanda tangannya ya.”

“Kau benar Gyeong Taek ahjussi kan? Nenekku adalah penggemar berat Ahjussi.”

“Ahjussi, minggu depan Ahjussi syuting tentang apa?”

Sepertinya, Gyeong Taek ini cukup terkenal sampai anak-anak ini mengenalinya dan menyodorkan selembar kertas untuk tanda tangan sambil bertanya macam-macam. Otomatis Yoona menyingkir beberapa centi dari sebelah Gyeong Taek. Jujur saja, ia bukannya sama sekali tidak menganggap kantor TV ini satu level lebih rendah karena berada di daerah, melainkan setelah melihat pembawa acara tetap di acara ini, ia mulai berpikir, sepertinya menarik juga bekerja di daerah seperti ini. Meskipun, kedudukannya mungkin akan semakin kecil di tempat ini, apa sebaiknya ia menunjukkan kembali semangatnya yang berapi-api seperti dulu? Yoona hanya tersenyum kecil melihat anak-anak yang mengantri meminta tanda tangan.

“Hari ini tidak ada Hyong Eun ahjumma, ya? Kemana dia?” Tanya seorang anak kepada Gyeong Taek.

“Iya, Ahjumma itu sedang sakit, jadi sekarang ada ahjumma baru yang menggantikannya.”

 

Memangnya dia kira aku ini suku cadang? Ahjumma baru? Yoona yang merasa dirinya bukan seorang ahjumma mendengus pelan. Ya sudahlah, toh ia sudah pernah di panggil ‘ibu hamil nasional’ juga.

“Wah, ada ahjumma baru. Tapi, aku sebal. Kenapa selalu ahjumma seperti ini yang masuk ke TV daerah? Aku tidak suka !”

Meskipun yang mengatakan hal itu adalah anak sekolah dasar yang asal bicara tanpa mempedulikan perasaan lawan bicaranya, tetap saja Yoona merasa kesal.

“Lho, ahjumma ini sangat terkenal lho di Seoul.”

Entah apa karena Gyeong Taek tidak suka kalau TV daerah di olok-olok, ia berbicara sambil membelalakkan matanya kearah anak-anak itu.

“Seoul? Tapi aku tidak pernah melihatnya di acara lain,” seorang anak perempuan berkata dengan ketus.

“Anak-anak, coba lihat. Kalian tidak tahu ahjumma ini? Padahal kemarin ia sering muncul di TV lho?” Gyeong Taek berkata dengan bangga pada anak-anak itu. Sementara Yoona mula merasa cemas. Kejadian itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan.

“Di mana?”

“Acara ‘Berburu Informasi LIVE’.”

“Berburu… Informasi?”

Kini anak-anak itu beralih menatap Yoona dengan tajam. Yoona merasa seperti boneka voodoo yang ditusuk-tusuk oleh jarum. Di saat-saat seperti ini, ia baru menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengalihkan pembicaraan. Sementara sensor di dalam tubuhnya sudah memerintahkannya untuk berbalik dan melarikan diri dari tempat itu. Yoona segera membalikkan wajahnya menghadap kearah lain.

“Ahjumma ini kan punya julukan terkenal. Ibu……..”

“Ah iya ! Si ibu hamil nasional ! Benar kan?”

.

.

.

.

.

.

.TBC

LEAVE YOUR COMMENT…………….

Dipublikasi di yoonhae | Tag | 42 Komentar

SEL HEWAN


 

 

Hewan memiliki organel yang khas pada selnya, yaitu sentriol.

Sentriol

Sentriol merupakan sepasang struktur seperti selinder yang memiliki lubang ditengah dan tersuusn dari protein mikrotubulus. Sentriol tersusun dari mikrotubulus yang membentuk suatu struktur protein seperti jala yang tampak berlekatan dengan kromosom selama pembelahan sel (mitosis dan meiosis). Jala tersebut dinamakan benag spindel. (gambar sentriol)

 

Struktur Sel Hewan

sel hewan merupakan sel eukriotik, sel hewan memiliki sifat tipis, elastis dan bentuknya dapat berubah rubah, secara garis besar sel hewan tersusun atas membran plasma, sitoplasma, inti sel, dan sistem endro membran, 
nah untuk lebih lengkapnya anda bisa melihat gambar di bawah ini,

gambar sel hewan 

 

 

 gambar sel hewan

 

 

 

melihat gambar di atas terlihat komponen komponen yang banyak pada sel hewan tersebut, nah sebenarnya itu adalah bagian dari sistem endo membran, pada sel hewan terdiri atas
nukleus atau inti sel, retikulum endo plasma,ribosom, badan mikro, lisosom, badan golgi, mitokondria,mikrotobulus,mikro filamen,

Fungsi Dan Struktur Sel 

Sel adalah satu unit dasar dari tubuh manusia dimana setiap organ merupakan gregasi/penyatuan dari berbagai macam sel yang dipersatukan satu sama lain oleh sokongan struktur-struktur interselluler.

Setiap jenis sel dikhususkan untuk melakukan suatu fungsi tertentu. Misalnya sel darah merah yang jumlahnya 25 triliun berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Disamping sel darah merah masih terdapat sekitar 75 triliun sel lain yang menyusun tubuh manusia, sehingga jumlah sel pada manusia sekitar 100 triliun sel. Walaupun banyak sel yang berbeda satu sama lainnya, tetapi umumnya seluruh sel mempunyai sifar-sifat dasar yang mirip satu sama lain, misalnya :

  • oksigen akan terikat pada karbohidrat, lemak atau protein pada setiap sel untuk melepaskan energi;
  • mekanisme umum merubah makanan menjadi energi;
  • setiap sel melepaskan hasil akhir reaksinya ke cairan disekitarnya;
  • hampir semua sel mempunyai kemampuan mengadakan reproduksi dan jika sel tertentu mengalami kerusakan maka sel sejenis yang lain akan beregenerasi

Secara umum sel-sel yang menyusun tubuh manusia mempunyai struktur dasar yang terdiri dari membran sel, protoplasma dan inti sel (nukleus). Ketiganya mempunyai komposisi kimia yang terdiri dari air, elektrolit, protein, lemak dan karbohidrat.

  • Protein. Memegang peranan penting pada hampir semua proses fisiologis dan dapat diringkaskan sebagai berikut : Proses enzimatik; Proses transport dan penyimpanan; Proses pergerakan; Fungsi mekanik; Proses imunologis; Pencetus dan penghantar impuls pada sel saraf dan Mengatur proses pertumbuhan dan regenerasi.
  • Lemak. Asam lemak yang merupakan komponen membran sel adalah rantai hidrokarbon yang panjang, sedang asam lemak yang tersimpan dalam sel adalah triasilgliserol, merupakan molekul yang sangat hidrofobik. Karena molekul triasilgliserol ini tidak larut dalam air/larutan garam maka akan membentuk lipid droplet dalam sel lemak (sel adiposa) yang merupakan sumber energi. Molekul lemak yang menyusun membran sel mempunyai gugus hidroksil ( fosfolipid dan kolesterol) sehingga dapat berikatan dengan air, sedangkan gugus yang lainnya hidrofobik (tidak terikat air) sehingga disebut amfifatik.
  • Karbohidrat. Suatu karbohidrat tersusun atas atom C,H, dan O. Karbohidrat yang mempunyai 5 atom C disebut pentosa, 6 atom C disebut hexosa adalah karbohidrat-karbohidrat yang penting untuk fungsi sel. Karbohidrat yang tersusun atas banyak unit disebut polisakarida. Polisakarida berperan sebagai sumber energi cadangan dan sebagai komponen yang menyusun permukaan luar membran sel. Karbohidrat yang berikatan dengan protein (glikoprotein) dan yang berikatan dengan lemak (glikolipid) merupakan struktur penting dari membran sel. Selain itu glikolipid dan glikoprotein menyusun struktur antigen golongan darah yang dapat menimbulkan reaksi imunologis.
  • Air. Medium cairan utama dari sel adalah air, yang terdapat dalam konsentrasi 70-85%. Banyak bahan-bahan kimia sel larut dalam air, sedang yang lain terdapat dalam bentuk suspensi atau membranous.
  • Elektrolit. Elektrolit terpenting dari sel adalah Kalium, Magnesium, Fosfat, Bikarbonat, Natrium, Klorida dan Kalsium. Elekrolit menyediakan bahan inorganis untuk reaksi selluler dan terlibat dalam mekanisme kontrol sel.

Sitoplasma dan organel
Sel bukanlah semata-mata suatu kantong yang berisi cairan, enzim dan bahan kimia, tetapi juga mengandung struktur-struktur fisis yang tersusun dengan sangat sempurna, yang disebut sebagai organel dan sangat penting bagi fungsi sel. Misalnya tanpa adanya mitokhondria, maka lebih dari 95 % enersi yang disuplai oleh sel akan segera menghilang. Di dalam sitoplasma inilah tersebar berbagai bahan, yaitu globulus lemak netral, granula-granula glikogen, ribosome, granula sekretoris, dan lima macam organel terpenting yaitu retikulum endoplasma, aparatus Golgi, mitokhondria, lisosom dan peroksisom.

 Bagian-bagian Sel Dan Fungsinya

  1. Mitokondria, nerupakan tempat pembentukan sumber energi. Umumnya dimiliki semua sel hidup, karena fungsinya yang sangat penting, yaitu menghasilkan energi melalui proses respirasi sel (reaksi antara bahan makanan dengan oksigen dan menghasilkan energi)
  2. Ribosom, organel berbentuk butiran-butiran kecil yang terdapat di sitoplasma atau menempel di permukaan retikulum endoplasma kasar. Berfungsi sebagai tempat sintesis protein. Terdapat di sel hewan dan tumbuhan.
  3. Retikulum Endoplasma, organel berbentuk seperti saluran. Retikulum Endoplasma permukaan kasar diselubungi ribosom, Retikulum Endoplasma permukaan halus tidak ada ribosom, tetapi di permukaannya terdapat enzim-enzim. Berfungsi untuk membatu metabolisme protein, lemak dan karbohidrat.
  4. Badan Golgi, organel berbentuk seperti tumpukan kue panekuk. Berfungsi membantu sintesis protein. Terdapat di sel tumbuhan dan hewan.
  5. Lisosom, merupakan kantung kecil dengan membran tunggal. Berfungsi untuk mendaur ulang bagian sel yang rusak, mencerna zat sisa makanan atau zat-zat asing yang masuk ke dalam sel. Terdapat di sel tumbuhan dan hewan.
  6. Sentrosom, bentuknya seperti tabung kecil dan mengapung di sitoplasma. Sentriol dalam sentrosom berperan dalam pembelahan sel. Sentrosom sel hewan memiliki sepasang sentriol, sednag sel tumbuhan tidak.
  7. Nuklues (inti sel), organel berbentuk bulat atau lonjong yang terdapat di tengah atau bagian tepi sel. Berfungsi sebagai pusat pengendali kegiatan sel. Di dalamnya terdapat cairan inti  (nukleoplasma), anak inti (nukleolus) dan selapu inti. Terdapat di sel hewan dan tumbuhan.’
  8. Kloroplas, organel kecil berbentuk bulat yang berwarna hijau karena mengandung pigmen klorofil. Hanya terdapat di sel tumbuhan. Berperan dalam proses fotosintesis tumbuhan yang menghasilkan energi dan bahan makanan tumbuhan.
  9. Membran sel (membran plasma), merupakan bagian sel paling luar. Dimiliki oleh hewan dan tumbuhan. Berfungsi mengatur keluar masuknya zat pada suatu sel.

10. Dinding sel, merupakan lapisan di bawah membran sel, terbuat dari selulosa. Hanya dimiliki oleh sel tumbuhan. Berfungsi untuk memberi kekuatan dan perlindungan bagi sel.

11. Sitoplasma, cairan bening seperti gel yang mengisi ruang  dalam sel, berfungsi sebagai tempat berlangsungnya reaksi metabolisme.

12. Vakuola, merupakan rongga di dalam sel yang berlapis membran, di dalamnya berisi cairan. Berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan sisa metabolisme. Vakuola sel hewan berukuran kecil, sedangkan vakuola tumbuhan berukuran besar.

Dipublikasi di yoonhae | Tag | 1 Komentar

SEL TUMBUHAN


 

 

 

Fisiologi Tumbuhan

Fisiologi berasal dari bahasa latin, physis berarti alam (nature) dan logos berarti ilmu. Jadi fisiologi tumbuhan diartikan sebagai ilmu tentang alam tumbuhan. Pengertian tersebut merupakan pengertian yang sangat luas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah botani, padahal yang dipelajari dalam fisiologi tumbuhan lebih ditujukan pada berbagai mekanisme atau proses biologis yang terjadi di dalam tumbuhan.

Fisiologi   tumbuhan   berarti   suatu   bidang   ilmu   yang   mengkaji   fenomena-fenomena penting di dalam tumbuhan, meliputi:
1) Aktivitas hidup yang dilakukan oleh tumbuhan.
2) Proses dan fungsi yang menyangkut tanggapan tumbuhan terhadap perubahan lingkungan, dan pertumbuhan serta perkembangannya sebagai hasil dari respon tersebut.
3) Fungsi setiap jenis organ, jaringan, sel, dan organel sel dalam tumbuhan serta fungsi setiap komponen kimia (ion, molekul atau makromolekul).

Tumbuhan adalah tonggak dari sebagian besar ekosistem terestrial. Kajian mengenai tumbuhan didorong oleh kombinasi keingintahuan dan kebutuhan. Keingintahuan mengenai bagaimana tumbuhan bekerja dan kebutuhan menerapkan pengetahuan ini secara cermat untuk menghasilkan makanan, pakaian, dan perumahan bagi populasi manusia yang berkembang. Beberapa hal penting tentang tumbuhan adalah sebagai berikut:

1.   Sebagai mahluk hidup, tumbuhan menunjukkan sejumlah aktivitas, yaitu:
a) Bertukar  senyawa   kimia   dengan   lingkungannya,   tanpa   banyak   kehilangan senyawa kimia penyusun tubuhnya.
b) Menyerap dan menggunakan energi dari luar.
c) Mensintesis bahan kimia yang diperlukan serta mengganti bahan yang hilang ke lingkungan atau rusak
d) Sebagian selnya megadakan pembelahan atau penggabungan, kalau tidak akan mati.

2. Beberapa sifat khas tumbuhan adalah melakukan proses fiisiologi yang  berbeda dengan mahluk lain, misalnya:
a) Merupakan mahluk autotrof dalam metabolisme karbon.
b) Tidak dapat berpindah dan hanya mencapai daerah yang sempit, sehingga hanya mampu menggunakan sebagian kecil lingkungan.
c) Sangat tergantung kepada bahan mineral dari tanah, sehingga kebutuhan hara tidak banyak jenisnya.

3.  Seluruh fungsi tumbuhan dapat dipahami dengan dasar prinsip fisika dan kimia. Metode-metode yang digunakan dalam fisiologi tumbuhan umumnya diturunkan dari kima dan fisika. Selain itu, anatomi tumbuhan juga dipakai dalam mernpelajari fisiologi tumbuhan. Sekarang ini, biologi molekuler mulai merevolusi kajian tentang tumbuhan, contohnya para ahli tumbuhan telah menemukan beberapa gen yang mengontroi perkembangan bunga dan telah mempelajari fungsi-fungsi gen tersebut.

4.    Pada organisme hidup, struktur sangat erat kaitannya dengan fungsi. Takkan ada fungsi kehidupan tanpa adanya struktur gen, enzim, molekul lain, organel, sel, jaringan, dan organ. Tumbuhan adalah struktur yang tumbuh sendiri. Melalui proses perkembangan yang meliputi: pembelahan sel, pembesaran sel, serta spesialisasi sel atau diferensiasi, suatu tumbuhan bermula dari 1 sel tunggal kemudian menjadi organisme multiseluler. Selanjutnya, tumbuhan terus tumbuh dan    berkembang   sepanjang    hidupnya    dengan    adanya    daerah    embrionik (meristem).

5.  Tumbuhan tumbuh dan berkembang di lingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan melalui banyak cara, misainya: perkembangan tumbuhan dipengaruhi oleh suhu, cahaya, gravitasi, angin, dan kelembaban.

Fisiologi tumbuhan sangat penting bagi semua bidang botani terapan, seperti: agronomi, hortikultura, florikultura, kehutanan, pertamanan, pemuliaan tanaman, patologi tumbuhan, farmakologi, dan lain-iain. Tugas utama di masa datang adalah bagaimana usaha kita meningkatkan pangan, makanan ternak, serat, produksi kayu, dan lain-lain yang menyangkut kebutuhan hajat hidup manusia.

2.2  Hubungan Fisiologi Tumbuhan dengan Cabang Botani Lainnya
Meluaskan pokok bahasan dalam berbagai bidang ilmu menyebabkan banyak terjadi daerah tumpang-tindih antar ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Demikian pula yang terjadi antara fisiologi tumbuhan dengan beberapa bidang ilmu lainnya, terutama cabang ilmu botani. Sebagai contoh adalah antara fisiologi tumbuhan dengan ekologi tumbuhan.

Banyak topik yang dikaji dalam bidang fisiologi tumbuhan yang berkaitan erat dengan bidang ilmu ekologi, misalnya tentang tanggapan tanaman terhadap perubahan berbagai faktor lingkungan.. Besarnya porsi daerah tumpang-tindih ini yang disertai dengan pentingnya daerah tumpang-tindih tersebut yang menyebabkan berkembangnya cabang ilmu baru yang disebut sebagai ekofisiologi atau fisiollogi lingkungan (environmental physiology).

Ilmu anatomi tumbuhan juga besar keterkaitan dan sumbangannya bagi perkembangan fisiologi tumbuhan, misalnya sehubungan dengan pengertian tentang ultrastruktur membran dan organel-organel sel. Pemahaman tentang ultrastruktur dan senyawa penyusun membran thilakoid pada khloroplas mempermudah untuk menerangkan proses perpindahan elektron pada fase cahaya fotosintesis.

Dari uraian diatas, jelas terlihat keterkaitan antar fisiologi tumbuhan dengan cabang-cabang botani lainnya. Selain itu fisiologi tumbuhan akan sangat erat kaitannya dengan ilmu-ilmu dasar yang mendukung, seperti yang telah disinggung terdahulu, yakni dengan ilmu kimia dan fisika.

2.3   Sel Tumbuhan
Tumbuhan tingkat tinggi tubuhnya tersusun oleh sejumlah sel, baik sel hidup maupun sel mati. Sel-sel hidup memiliki persamaan dan perbedaan dalam struktu dan fungsinya. Persamaannya adalah sel itu mempunyai dinding sel, terisi plasma yang terbungkus oleh membran plasma. Sedangkan perbedaannya terutama diakibatkan oleh lingkungan dan faktor genetik, yaitu akibat proses diferensiasi yang mengikuti proses pembelahan sel.

2.3.1 Dinding Sel
Dinding sel merupakan salah satu ciri sel tumbuhan yang membedakannya dari sel hewan. Dinding ini melindungi sel tumbuh¬an, mempertahankan bentuknya, dan mencegah penghisapan air secara berlebihan. Pada tingkat keseluruhan tumbuhan, dinding yang kuat yang terbuat dari sel khusus mempertahan¬kan tumbuhan agar tegak melawan gaya gravitasi.

Sel tumbuhan muda pertama-tama mensekresi dinding yang relatif tipis dan lentur yang disebut dinding sel primer. Di antara dinding-dinding primer sel-sel yang berdekatan terdapat lamela tengah, lapisan tipis yang banyak mengandung polisakarida lengket yang disebut pektin. Apabila selnya telah dewasa dan berhenti tumbuh, sel ini memperkuat dindingnya. Sebagian sel tumbuhan melakukan hal ini hanya dengan mensekresi substansi pengeras ke dalam dinding primernya. Sel lain menambahkan dinding sel sekunder di antara membran plasma dan dinding primer. Dinding sekunder ini, seringkali menumpuk menjadi beberapa lapisan berlamina, memiliki matriks kuat dan tahan lama yang sanggup memberi perlindungan dan dukungan.  (Campbell, 2002).

Dinding sel tumbuhan. Sel muda mula-mula membentuk dinding primer tipis, seringkali ada penambahan dinding sekunder yang lebih kuat di dalam dinding primer ketika pertumbuhan terhenti. Lamela tengah yang lengket melekatkan sel-sel yang berdekatan menjadi satu. Dengan demikian, partisi multilapis di antara sel-sel ini terdiri atas dinding penghubung yang masing-masing disekresikan oleh selnya sendiri (Campbell, 2002).

Dinding sel terdiri dari: lamela tengah, dinding primer dan dinding sekunder. Antara sel-sel yang berdekatan ada lamela tengah yang merekatkan antara dua dinding sei menjadi satu. Lamela tengah terutama terdiri dari Ca-pektat berupa gel. Dinding primer adalah lapisan yang terbentuk selama pembentangan, terdiri dari hemiselulosa, selulosa, pektin, lemak, dan protein. Dinding sekunder biasanya lebih tebal dari dinding primer terutama terdiri dari selulosa dan kadang-kadang lignin, merupakan lapisan yang ditambahkan setelah proses pembentangan dinding sel selesai.

Tidak  semua   bagian   dinding   sel   mengalami   penebalan   dan  terisi   plasma (plasmodesmata).  Dinding primer memilki sejumlah daerah penipisan yang disebut noktah. Daerah ini memiliki plasmodesmata dengan kerapatan tinggi. Plasmodesmata adalah jalinan  benang sitoplasma  tipis yang  menembus dinding-dinding  sel yang bersebelahan, menghubungkan protoplas sel yang berdampingan. Dengan demikian dinding    sel    menjadi    berlubang-lubang    yang    memungkinkan senyawa kimia melewatinya.

Dinding sel yang berbatasan langsung dengan udara luar sering dilapisi kutin dan suberin (kutikula). Lapisan ini tidak seluruhnya tertutup rapat sehingga masih memungkinkan senyawa kimia melewatinya. Dinding sel berfungsi untuk memberi kekuatan mekanik sehingga sel mempunyai bentuk tetap serta memberi perlindungan terhadap isi sel, dan karena sifat hidrofilnya dapat mengadakan imbibisi air serta meneruskan air dan senyawa yang larut di dalamnya ke protoplas (Hasnunidah, 2007).

2.3.2 Protoplas
Protoplas merupakan bagian yang hidup dari sel tumbuhan, meskipun di dalamnya juga terdapat berbagai senyawa anorganik. Protoplas terdiri dari empat bagian utama, yaitu: sitoplasma, nukleus, vakuola dan bahan ergastik.

1. Sitoplasma
Sitoplasma merupakan bagian sel yang kompleks, suatu bahan cair yang mengandung banyak molekul, diantaranya berbentuk suspensi koloid dan organel-organel yang bermembran. Sitoplasma dan nukleus secara bersama-sama disebut protoplasma. Beberapa sel tumbuhan juga memiliki juga zat-zat murni yang tidak hidup disebut bahan ergastik, seperti: kalsium oksalat, benda-benda protein, gum, minyak, resin.

Sistem endomembran dalam Sitoplasma meliputi retikulum endoplasma, badan Golgi, selimut inti, dan organel sel serta membran lain (badan mikro, sferosom dan membran vakuola) yang berasal dari retikulum endoplasma atau badan Golgi. Sedangkan membran plasma dianggap satuan yang terpisah, meskipun tumbuh melalui penambahan sejumlah kantung yang berasal dari badan Golgi.

Mitokondria dan plastida yang diselimuti oleh selapis membran yang halus dan membran dalam yang melekuk-lekuk juga tidak berhubungan dengan sistem membran. Demikian pula ribosom, mikrotubul dan mikrofilamen bukan bagian dari sistem endomembran (Hasnunidah, 2007).

– Membran Plasma atau Plasmalemma
Membran plasma berfungsi mengatur aliran zat -zat terlarut masuk dan keluar
sel, dan mengatur aliran air melalui osmosis. Membran plasma bersifat diferensial permeabel,  artinya dapat melalukan  senyawa  kimia tertentu dan tidak  melalukan senyawa lainnya.

Membran plasma merupakan  lapisan  rangkap lipid dengan bagian: hidrofilik (suka air) molekul lipidnya berada di permukaan. Bagian lipofilik (suka lemak), molekul tersebut menghadap ke dalam lapisan rangkap sehingga menyebabkan adanya ruang yang terang. Molekul protein yang mencakup 50% bahan membran tenggelam di lapisan rangkap itu, dengan satu atau kedua ujung menonjol ke salah satu atau kedua permukaan membran. Kedua permukaan membran berbeda secara khas (Hasnunidah, 2007).

– Retikulum Endoplasma (ER = Endoplasmic Retikulum)
Pada banyak sel, ER menyerupai kantung kempis yang berlipat-lipat (disebut sisternae). ER membentuk sistem angkutan untuk berbagai macam molekul di dalam sel dan bahkan antar sel meialui plasmodesmata. Sejumlah ribosom sering berasosiasi dengan ER dalam hal sintesis protein. ER yang ditempeli ribosom disebut ER kasar. ER halus tak ber-ribosom dan senng berbentuk pipa (Hasnunidah, 2007).

– Badan Golgi
Dengan mikroskop elektron, badan golgi (diktiosom) terlihat sebagai tumpukan piring pipih yang berongga di dalamnya (sisternae) dengan tepian yang menggelembung dan dikelilingi oleh benda bulat-bulat (vesikel). Badan Golgi berperan dalam pembentukan membran plasma dan mengangkut enzim yang harus dibuat dalam sel, yang akan menentukan reaksi kimia yang terjadi dan menentukan struktur dan fungsi sel (Hasnunidah, 2007).

– Selimut Inti
Inti (nukleus) dikelilingi oleh dua membran unit yang sejajar yang disebut selimut inti. Ketebalan membran luar sedikit lebih tebal dibanding membran dalam. Keduanya dipisahkan oleh ruang perinukleus. Selimut inti mempunyai banyak pori. Membran dalam dan luar menyatu membentuk pinggiran pori, yang dipertahankan bentuknya oleh suatu bahan sehingga terjadi struktur yang disebut anulus. ER berhubungan dengan selimut inti, sedang ruang perinukleus bersambungan dengan ruang di antara membran sejajar ER (Hasnunidah, 2007).

– Membran Vakuola atau Tonoplas
Membran vakuola menyerupai plasmalemma, namun berbeda fungsinya dan sering agak lebih tipis. Tonoplas mengangkut zat terlarut keluar-masuk vakuola, sehingga mengendalikan potensial air (Hasnunidah, 2007).

– Badan Mikro
Badan mikro adalah organel bulat yang terbungkus oleh selapis membran, berbutir-butir di sebelah dalamnya, dan kadang disertai kristal protein. Dua jenis badan mikro yang penting adalah peroksisom dan glioksisom yang masing-masing berperan khusus dalam aktivitas kimia sel tumbuhan. Perpksisom menguraikan asam glikolat yang dihasilkan dari fostosintesis, mendaur ulang molekul lain kembali ke kloroplas. Glioksisom menguraikan lemak menjadi karbohidrat selama dan sesudah perkecambahan biji. Hidrogen peroksida hasil reaksi ini juga diuraikan di dalam glioksisom (Hasnunidah, 2007).

– Sferosom
Sferosom berbentuk bulat dan diselimuti oleh membran unit yang berasal dari ER, berisi bahan berlemak, dan menjadi pusat sintesis dan penyimpanan lemak (Hasnunidah, 2007).

– Rangka Sel
Berkat perkembangan mikroskop elektron, diketahui bahwa mikrotubul dan mikrofilamen berprotein terdapat di hampir semua sel tumbuhan eukariotik. Bersama-sama dengan benang-benang penghubung membentuk tiga sistem rangka sel yang berlainan tapi terintegrasi dengan baik. Mikrotubul adalah silinder panjang yang berongga terdiri dari molekul protein bundar yang disebut tubulin. Fungsi mikrotubul diduga berkenaan dengan gerak yang mengarah , khususnya di kromosom saat sel membelah atau di organel sel. Gerak itu meliputi pengendalian arah mikrofibril selulosa pada dinding sel atau gerak sel itu sendiri.

Mikrofilamen merupakan stuktur padat yang lebih kecil, yang bertindak sendiri atau bersama-sama dengan mikrotubul untuk menggerakkan sel. Mikrofilamen terdiri dari protein aktin yang juga menjadi kandungan utama jaringan otot hewan. Fungsi lain mikrofilamen adalah mengatur arah aliran sitoplasma, kalau arah mikrofilamen berubah maka berubah juga arah aliran sitoplasma (Hasnunidah, 2007).

– Ribosom
Sintesis protein merupakan fungsi sel yang vital yang berlangsung di ribuan ribosom. Ribosom tersebar di sitoplasma atau bergabung dengan ER kasar di dalam sel, dan selalu di membran rangkap ER di sisi sitosol. Ribosom juga menempel di membran luar selimut inti di sisi sitosol. Ribosom nampak sebagai bintik hitam pada mikrograf elektron. Sering juga membentuk rantai seperti untaian, khususnya dalam pola spiral (terpilin). Struktur ini dinamakan poliribosom atau polisom. Dalam ribosom, informasi genetik dari mRNA diterjemahkan menjadi protein (Hasnunidah, 2007).

Ribosom merupakan tempat sel membuat protein. Sel yang memiliki laju sintesis protein yang tinggi secara khusus memiliki jumlah ribosom yang sangat banyak. Ribosom bebas tersuspensi dalam sitosol, sementara ribosom terikat dilekatkan pada bagian luar jalinan membran yang disebut retikulum endoplasmik. Sebagian besar protein yang dibuat oleh ribosom bebas akan berfungsi di dalam sitosol; contohnya ialah enzim-enzim yang mengkatalisis proses metabolisme yang bertempat di dalam sitosol (Campbell, 2002).

– Mitokondria
Pada mikroskop cahaya, mitokondria terlihat seperti bulatan, batang atau kawat kecil yang beragam bentuk dan ukurannya. Terbungkus membran rangkap, permukaan luarnya berlubang-lubang sedang permukaan dalamnya membentuk tonjolan-tonjolan (kristae) yang masuk ke dalam stroma. Membran dalam membungkus matriks, dan banyak enzim yang mengendalikan berbagai tahap dalam respirasi sel khususnya dan metabolisme umumnya ditemukan di sana atau di dalam matriks. Mitokondria memiliki DNA dan ribosom kecil di dalam matriksnya, sehingga mampu mensintesis porteinnya sendiri (Hasnunidah, 2007).

– Plastida
Plastida adalah organel berbentuk lensa yang terdapat pada semua sel tumbuhan, diselimuti oleh sistem membran rangkap. Plastida mengandung DNA dan ribosom yang terbenam dalam matriks cair yang disebut stroma. Plastida terbentuk dari hasil pembelahan plastida terdahulu atau sebagai hasil diferensiasi proplastida. Plastida tak berwarna disebut leukoplas, contohnya: amiloplas yang mengandung butir-butir padi atau proteinoplas yang mengandung protein cadangan. Ada dua macam plastida berwarna, yaitu kloroplas yang mengandung klorofil dan berbagai pigmen yang menyertainya, dan kromoplas yang mengandung pigmen lain (karotenoid). Plastida terpenting adalah kloroplas, karena menjadi tempat berlangsungnya fotosintesis.

Kloroplas mengandung suatu sistem mebran yang bernama tilakoid, yang sering sambung-menyambung membentuk tumpukan membran yang disebut grana. Grana terbenam dalam stroma. Enzim yang mengendalikan fotosintesis terdapat di membran tilakoid dan di stroma (Hasnunidah, 2007).

2. Nukleus
Nukleus merupakan pusat kendali pada sel tumbuhan eukariotik. Nukleus mengendalikan seluruh fungsi sel dengan menentukan berbagai reaksi kimia dan juga struktur dan fungsi sel. Nukleus merupakan organel berbentuk bulat atau memanjang yang terbungkus selimut inti. Plasma nukleus (nukleoplasma) berbutir-butir merupakan sistem koloid, mengandung kromatin yang pada pembelahan sel berubah menjadi kromosom. Fungsi kromosom adalah membentuk m-RNA yang mengatur sintesis protein. Di dalam plasma nukleus juga terdapat nukleolus yang jumlahnya tiap sel khas untuk tiap jenis. Nukleolus itu padat, bentuknya tak beraturan, merupakan massa serat dan butiran, dan berwarna gelap. Fungsi nukleolus adalah untuk sintesis r-RNA dan ribosom (Hasnunidah, 2007).

Nukleus mengandung sebagian besar gen yang mengontrol sel eukariotik (sebagian gen terletak di dalam mitokondria dan kloroplas). Nukleus ini umumnya merupakan organel yang paling mencolok dalam sel eukariotik, rata-rata berdiameter 5 µm. Di dalam nukleus, DNA diorganisasikan bersama dengan protein menjadi materi yang disebut kromatin. Kromatin yang diberi warna tampak melalui mikroskop cahaya maupun mikros-kop elektron sebagai massa kabur. Sewaktu sel bersiap untuk membelah (bereproduksi), kromatin kusut yang berbentuk benang akan menggulung (memadat), menjadi cukup tebal untuk bisa dibedakan sebagai struktur terpisah yang disebut kromosom. Nukleus ini mengontrol sintesis protein dalam sitoplasma dengan cara mengirim mesenjer molekuler yang berbentuk RNA.  (Campbell, 2002).

3. Vakuola
Badan khas di sel tumbuhan selain dinding sel dan plastida adalah vakuola. Vakuola mengerjakan beberapa fungsi. Bentuk dan ketegangan jaringan yang hanya memiliki dinding primer adalah akibat adanya air dan bahan terlarut yang menekan dari dalam vakuola. Tekanan tersebut timbul karena osmosis. Konsentrasi bahan terlarut di dalam vakuola cukup tinggi, termasuk garam-garam, molekul-molekul organik kecil, beberapa protein (enzim) dan molekul-molekul lainnya. Beberapa vakuola mengandung pigmen yang menimbulkan warna pada banyak bunga atau dauh. Pada beberapa bagian tumbuhan, vakuola dapat mengandung bahan-bahan yang mungkin berbahaya bagi sitoplasma.

Sel muda yang aktif membelah di titik tumbuh batang dan akar mempunyai vakuola sangat kecil. Sebagian besar terbentuk dari ER, lalu tumbuh bersama sel, mengambil air secara osmosis dan bergabung satu sama lain. Sel dewasa sering memiliki vakuola yang mengisi 80-90% atau lebih volume sel, dan protoplasmanya tersisiih hingga hanya berupa lapisan tipis di antara tonoplas dan plasmalemma. Beberapa sel yang aktif membelah juga dapat bervakuola besar 

Dipublikasi di yoonhae | Tag | 2 Komentar