CHEEKY ROMANCE_YOONHAE VER. (1)

Gambar

 

 

Author : Nana Lee

Novel Karya : Kim Eun Jeong

Cast :

     1.        So Yoon Pyo a.k.a Lee Donghae

    2.        Yoo Chae a.k.a Im Yoon Ah

    3.        Ki So Yeong a.k.a Kwon Yuri

    4.        Oh Hye Rong a.k.a Hwang Tiffany

    5.        Kim Dae Joon a.k.a Lee Hyukjae

    6.        Yoo Gyu a.k.a Im Sehun

    7.        Lim Eun Yi a.k.a Choi Sulli

    8.        Kang Hee Jae a.k.a Xi Luhan

    9.        PD Nam Guk Hyeok a.k.a PD Cho Kyu Hyun

  10.        Eun Sang a.k.a Byun Baekhyun

  11.        Suster Lee a.k.a Suster Kim Taeyeon

 

 

HAPPY READINGGGGGG………

 

 

Jadwal tugas yang baru telah di umumkan !

Yoona menenangkan hatinya yang berdebar-debar dan menatap jadwal pembagian tugas baru yang ditempel di papan pengumuman di ruang presenter. Tidak ada yang berbeda. Seandainya ia mendapat tugas sebagai presenter tetap, ia pasti sudah diberitahu sebelumnya. Sementara, Yoona sama sekali tidak mendapat tawaran untuk progam apapun. Jadi, ia tahu sekali kalau pengumuman ini sama sekali bukan untuk dirinya. Meskipun demikian, sekadar ‘siapa tahu’ saja… dan ‘ternyata’ memang sesuai dugaannya.

Ia pun tidak bisa menundukkan kepalanya. Ia seharusnya memasang wajah seolah melihat pengumuman itu karena rasa penasaran saja dan pergi meninggalkan ruangan itu. Lagi pula, tidak ada orang lain yang memedulikan bagaimana perasaannya saat itu. Namun karena merasa harga dirinya jatuh, kepalanya terangkat tegak pun terlihat kaku. Rasa kesal perlahan mulai merasuki dadanya. Beginilah jadinya bila terlalu banyak memikirkan sesuatu.

“Oh, tidak apa-apa rupanya,” Yoona bergumam seorang diri dan berusaha mengangkat ujung bibirnya. Ia lantas membalikkan badan. Saat itulah ia bertatapan dengan Luhan yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan kasihan. Si brengsek yang selingkuh dengan wanita lain ketika dinas ke luar negeri…..!

[“Aku tidak serius dengan senior wanita itu. Kami hanya minum bersama dan terbawa suasana saja….”]

Alasan para lelaki yang berselingkuh memang memiliki stereotip yang sama. Mengaku sudah melakukan kesalahan yang fatal, atau menyangkal bahwa itu bukan kesalahan mereka. Awalnya, laki-laki ini juga termasuk kelompok ke dua, yang sama sekali tidak berniat untuk berselingkuh.

[“Memangnya kau minum sampai lupa batasan? Lalu, kalau aku berbuat seperti itu, apa kau akan memahamiku?”

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Seperti itu apanya? Memangnya laki-laki saja yang boleh terbawa suasana dan wanita tidak boleh? Maksudmu kau hanya main-main dengan wanita itu, dengan senior rekan kerjamu itu? ”

Luhan dan Yoona bukanlah topstar, dan orang-orang pun tak tertarik dengan kisah percintaan mereka. Meskipun demikian, sebagai seorang presenter, Yoona juga tidak bisa heboh mengumumkan hubungannya kepada orang lain sehingga selama ini, tidak banyak orang yang mengetahui hubungan mereka. Namun, senior wanita yang di ajak Luhan “bermain-main” itu adalah seorang PD (Program Director) di kantor stasiun TV yang sama tempat mereka bekerja sehingga Yoona mulai khawatir bagaimana ia harus bekerja sama dengan wanita itu. Meskipun senior wanita itu tidak tahu, tetapi Yoona tahu bahwa hubungannya dengan Luhan hancur karena senior wanita itu. Namun, semakin besar amarah Yoona, laki-laki itu malah mulai melempar alasannya berselingkuh pada senior wanita itu.

[“Kita ini hanya namanya saja ‘pacaran’, tetapi sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa kan?”]

Omong kosong apa lagi ini?

 

“Kau tidak pernah mengizinkanku memegang ujung tanganmu walaupun hanya sebentar, kan? Apa sih mahalnya dan hebatnya kau ini sampai tak ada kemajuan dalam hubungan kita selama satu tahun ini?”

Ini bukan saja sekedar amarah, tetapi ia memang sudah melewati batas.

 

“Lalu kenapa? Apa aku garus mengikuti tahap-tahap pacaran seperti orang lain pada umumnya? Kalau begitu, lakukan saja dengan wanita lain !”

“Makanya aku menemui wanita itu kan !” Luhan berteriak putus asa.

“Ya sudah !”

“Ya sudah apanya !” Luhan menarik tangan Yoona yang hendak meninggalkannya.

“Kalau saja kau tidak memperlakukan aku seperti itu, kejadian ini tidak akan terjadi. Menurutmu ini semua kesalahanku?”

“Apa maksudmu? Jangan asal bicara ya! Laki-laki memang menyebalkan !”]

Rasanya kini ia tahu mengapa Yuri sangat membenci laki-laki. Yuri, seorang eonni yang tinggal di sekitar rumahnya, hamil seorang diri dan muak terhadap laki-laki.

[“Kau yang terlalu tertutup juga menyebalkan tahu tidak! Memangnya sekarang jaman Kerajaan Joseon apa?”]

Memangnya selama ini ia memakai pakaian tertutup seperti pakaian besi prajurit? Mereka kan belum menikah, dan ia tidak ingin menuruti permintaan laki-laki itu begitu saja. Ibunya telah meninggal, dan walaupun ia hanya dididik dan dibesarkan oleh ayahnya, ia tidak ingin dikenal sebagai anak yang tidak tahu aturan. Ia tidak ingin disamakan dengan adiknya yang ugal-ugalan. Meskipun keluarganya tidak mampu dan ia hanya dibesarkan oleh ayahnya, ia ingin ayahnya mendapat pujian karena dapat membesarkan putrinya dengan baik. Itu saja. Menurutnya, pemikiran bahwa kemajuan suatu hubungan yang ditentukan oleh ukuran skinship adalah salah.

[“Karena otakku ini bukan made in korea, tapi made in Joseon. Kau puas?”]

Awalnya ia berpikir Luhan berbeda dengan laki-laki lain pada umumnya. Namun, ternyata, ia sama saja. Yoona menatapnya dengan tatapn muka.

[“Yoona, aku mohon. Maafkan aku sekali ini saja. Aki benar-benar menyesal saat ini. Kejadian itu benar-benar di luar kendaliku.”

“Sudahlah. Tidak usah banyak alasan. Sekarang ku beritahu ya. Lebih baik kita putus !”

“Semudah itu?” Luhan bertanya dengan putus asa.

“Kau sendiri, memangnya tidak mudah bagimu?” Yoona berkata dengan dingin dan menatapnya  tajam.]

Yoona sebenarnya tidak senaang menerima tatapan kasihan dari laki-laki itu, apalagi di depan papan pengumuman kantor. Setidaknya, laki-laki itu mendapat satu program tetap. Mungkin ia mengumpulkan banyak rezeki sambil selingkuh. Begitu kembali dari dinas, ia langsung memegang dua acara, bahkan salah satunya sebagai program tetap. Atau mungkin, laki-laki itu bukan mengumpulkan rezeki sambil selingkuh, melainkan keberuntungan tiba-tiba datang menghampirinya karena putus dengan dirinya. Begitulah Yoona. Ia merasa dirinya benar-benar sial dan malang. Kalau tidak, mana mungkin selama lebih dari dua tahun bekerja sebagai presenter, ia belum pernah mendapat program tetap sekali pun. Ia tidak menyangka hidupnya di usia 24 tahun harus dilewati layaknya seorang pengangguran di kantor. Namun, meskipun menyadari bahwa dirinya sangat tidak beruntung, yang muncul dalam dirinya adalah semangat untuk menang dan semangat ‘fighting!’.

Yoona mengacuhkan Luhan yang menatapnya dalam-dalam dan kembali ke tempat duduknya. Kemudian, ia pura-pura sibuk mengetik di komputernya. Sebenarnya, tidak ada situs jejaring yang ia buka, tidak ada data yang ia cari. Yah, paling tidak ia harus punya tugas supaya setidaknya bisa mencari data di internet. Namun, ia tidak ingin terlihat duduk diam dengan wajah bosan setengah mati di ruang kerja presenter yang terlihat sibuk itu. Yoona lantas membuka situs jejaring kantor stasiun TV mereka dengan malas. Setelah beberapa saat keluar masuk tanpa tujuan ke berbagai menu yang ada di sana, gerakan tangannya terhenti pada salah satu kolom ‘pernyataan keluhan’. Kolom ‘keluhan’…..

Awalnya Yoona ragu-ragu, tetapi akhirnya ia mulai menulis huruf demi huruf di bagian kolom ‘keluhan’ itu untuk menghilanghkan rasa bosan.

               Xi Luhan, presenter yang suka selingkuh….

 

Tiba-tiba, tangannya mengetik dengan kecepatan yang semakin tinggi. Tanpa disadari, satu kolom ‘keluhan’ sudah terisi penuh dengan makian yang ditunjukkan pada Luhan. Setelah menulis satu kolom, barulah Yoona merasa tenang kembali. Ia mengarahkan kursor mouse-nya ke tombol ‘unggah’ dan terdiam sejenak.suasana hatinya sedang buruk sehingga tulisannya terlihat kasar dan asal-asalan. Lagi pula, sepertinya tidak masuk akal jika ia mengunggah tulisan seperti ini di situs jejaring kantornya.

Yoona menghela napas dan mengklik tombol ‘hapus’. Namun, tidak terjadi respon apa-apa di layar komputernya. Yoona mengerutkan dahi dengan wajah paniK dan mulai mengklik terus-menerus. Tampilan di layar komputernya tetap tidak bergeming. Sepertinya error. Sama seperti pemiliknya.

Baru saja ia hendak mematikan komputernya, telepon genggamnya berbunyi. Telepon itu dari seorang eonni yang tinggal di dekat rumahnya, seorang fashion designer terkenal, yang memasukkan laki-laki ke kelompok “bukan makhluk hidup”, Yuri.

“Oh, Eonni. Ada apa?”

Yoona menjepit telepon genggamnya diantara bahu dan telinganya, kemudian membungkukkan badannya untuk menekan tombol ‘power’ di komputernya.

“Aku harus pergi ke dokter kandungan hari ini. Temani aku ya.”

“Huh, mentang-mentang kau tidak menikah, lantas tidak bisa pergi ke dokter kandungan sendirian?” Yoona tertawa sambil mendengus pelan.

“Aku bosan kalau sendirian. Aku pun lapar, nanti aku traktir makan siang.”

Begitu Yuri selesai bicara, layar komputer Yoona mati dan ia tersenyum lebar.

“Baiklah!”

Cheeky Romance

 

 

 

Suasan pagi itu sangat sibuk. Baru saja terjadi kasus kecelakaan beruntun dari lima kendaraan dan salah satu korbannya seorang ibu hamil. Seorang suami yang kepalanya berlumuran darah tetap berlari mengikuti istrinya yang terbaring di tempat tidur periksa dan dibawa menuju kamar operasi. Sang suami tetap menempel di sisi istrinya, seolah tidak ingin meninggalkannya sedikit pun. Menyedihkan sekali melihat pemandangan seperti itu.

“Air ketubannya pecah saat kecelakaannya terjadi, dan ketika sampai di ruang UGD, detak jantung bayi tidak terdeteksi!” seorang perawat berkata kepada Donghae yang berjalan tergesa begitu mendapat panggilan.

“Kondisi ibunya?” Donghae bertanya sambil ikut berlari kea rah ruang operasi dan memegangi pinggir tempat tidur pasiennya.

“Detak jantungnya sanagt lemah! Pendarahannya juga parah!”

“Golongan darahnya?”

Begitu Donghae bertanya, suami yang sejaktadi menatap memanggil nama istrinya seketika berteriak, “Golongan darahnya O! Saya juga O! Ambil saja darah saya !”

“Tidak bisa, Anda juga mengalami pendarahan!” Donghae balik berteriak pada suami pasien itu dan segera memerintahkan perawatnya, “Cepat cari golongan darah O!”

Namun, suami itu tidak menyerah dan memegang lengan Donghae erat-erat.

“Tidak apa-apa! Ambil saja darah saya! Saya tidak merokok, tidak pernah minum alkohol!”

“Anda kan sedang berlumuran darah seperti ini! Seandainnya terjadi apa-apa, bukankah setidaknya Anda harus sehat untuk menjaga bayi ini nanti? Sebaiknya Anda obati dulu luka Anda.!” Donghae berteriak tegas. Ia paham sepenuhnya perasaan suami pasian itu. Meskipun hatinya sakit berada dalam situasi seperti ini, tetapi maaf saja….. apa boleh buat. Ia harus dapat menyelamatkan ibu dan bayinya, meskipun demi si suami itu.

Donghae keluar dari ruang operasi mengenakan baju operasi yang penuh keringat. Suasan di luar ruang operasi cukup tenang, berbeda dengan saat ia masuk tadi.

“Suami pasian mana?”

Langkah Donghae berhenti di depan ruang operasi. Ia melepas salah satu ujung maskernya dan menoleh ke arah perawat yang berjalan mengikutinya.

“Baru saja mendapat delapan jahitan di dahinya, sekarang sedang transfusi darah untuk di donorkan.”

Tersungging senyum di wajah Donghae mendengar betapa hebat ikatan keluarga itu.

“Hebat sekali. Ibu dan bayi yang jantungnya berdetak kembali, dan ayah yang mendonorkan darahnya dengan jahitan dikepalanya. Semoga kelak anak itu berbakti pada orang tuanya.”

Kembali muncul di benak Donghae saat jantung bayi itu berdetak kembali, saat bayi itu menangis untuk pertama kalinya di dunia ini. Meskipun badannya terasa letih, tetapi perasaanya seolah melayang ke angkasa.

“Masih ada satu pasien lagi yang sedang menunggu.”

“Oh, ya?” Donghae melirik jam tangannya mendengar perkataan perawat itu. Kemudian, ia memberikan maskernya yang ia pakai kepada perawat itu dan bergegas melangkahkan kakinya.

Begitu selesai melakukan tas USG pada pasiennya, Donghae keluar dari ruang periksa, mencuci tangannya, dan melihat kembali grafik hasil tes tersebut. Sementara itu, seorang pasien wanita keluar dari ruang periksa sambil merapikan bajunya. Ia duduk di kursi yang terletak di hadapan Donghae dan menatap wajah Donghae dengan cemas.

“Untuk pemeriksaan berikutnya, Anda bisa datang bersama ayah bayinya kan?” Donghae bertanya sambil memperhatikan ekspresi wanita itu.

“Ya? Ba….bayi?”

Wajahnya terlihat terkejut. Donghae sudah menduganya. Perlahan tekanan darahnya mulai meningkat. Di awal tahun ini, memasuki usianya yang ke-26, ia sudah berjanji untuk tidak marah dalam menghadapi ibu-ibu hamil seperti ini. Meskipun ia tahu hal itu tidak mudah, apalagi di musim gugur seperti ini, tetapi ia tetap berusaha setidaknya sampai tahun ini berakhir. Lau, ia akan membuat janji itu lagi. Janji untuk lebih bersabar lagi tahun depan.

“Situasi Anda cukup sulit rupanya. Anda belum menikah ya?”

Entah apakah wanita itu takut melihat Donghae yang bertanya sambil mengeryitkan dahi, ia langsung mengangguk dengan wajah yang hampir menangis.

“Apakah Anda akan menikah dengannya?”

Ekspresi wajah Donghae semakin serius. Mendengar perkataan itu, barulah wanita itu berhasil menenangkan dirinya di tengah situasi yang kalut itu  dan menarik kursinya mendekati meja di hadapannya.

“Apa maksud Anda dengan ‘situasi yang sulit’? Toh usia janin ini masih sangat dini.”

Seketika itu juga tekanan darah Donghae seolah menanjak tajam, menembus ubun-ubnnya, dan membuat kepalanya panas. Ia benar-benar kesal di saat-saat seperti ini.

“Kalau Anda bisa menghitung bahwa usia janin itu masih dini, apa Anda sama sekali tidak pernah memperhitungkan kalau Anda bisa hamil karena perbuatan Anda?”

Ia sudah berusaha untuk menahan amarahnya, tetapi tekanan darahnya yang semakin meningkat membuatnya melontarkan perkataan itu begitu saja.

“Apa?” wanita itu terkejut.

“Anda tahu apa yang benar-benar sulit? Orang-orang yang ‘membuat anak’ tanpa pikir panjang seperti Anda ini. Itulah masalah yang paling sulit di zaman sekarang ini!”

Donghae yang tadinya bersabar akhirnya meluapkan rasa kesalnya pada wanita itu. Seketika itu juga, wanita itu gemetar dan mulai menangis sambil menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya. Pedih rasanya melihat seseorang menangisi kehidupan baru yang sangat berharga yang ada di dalam tubuhnya. Donghae menghela napas perlahan dan membuka mulutnya lagi.

“Pada dasarnya, hadirnya sebuah kehidupan baru memiliki makna yang sangat penting. Anda tidak boleh menyambut kehidupan janin di tubuh Anda dengan rasa panic dan kalut seperti itu. Tidak baik untuk janin di dalam di perut anda.”

Di luar dugaan, wanita itu menganggukkan kepalanya sambil tetap tertunduk. Untung saja wanita itu tidak menangis terus-menerus.

“Anda tahu tidak, berapa jumlah pasien saya yang mandul? Mereka ingin sekali mendengar kabar bahwa mereka hamil, meskipun hanya dalam angan-angan mereka. Tetapi Anda malah bingung dan kalut saat mengetahui Anda hamil. Dunia ini memang tidak adil ya,” Donghae berdecak pahit.

“Saya tahu apa yang menjadi beban pikiran para ibu hamil.”

“I…ibu hamil?” wanita itu tertkejut mendengar panggilan baru yang belum pernah ia dengar seumur hidupnya.

“Wanita yang sudah pernah melahirkan atau belum, asalkan ada bayi di dalam perutnya, itu ibu hamil namanya. Itu adalah panggilan yang bisa di dapatkan oleh wanita yang memuat tanggung jawab tinggi. Sebaiknya Anda pikirkan kembali baik-baik dan datanglah dengan ayah dari janin ini saat pemeriksaan  berikutnya. Jangan mendengar perkataan seperti ini seorang diri.”

Wanita itu diam terpaku selama beberapa saat dan kehilangan kata-kata sebelum akhirnya menyahut pelan, “Baiklah……”

Raut wajah wanita itu terlihat semakin serius. Ia lalu membungkuk mengucap salam pada Donghae dan meninggalkan ruang konsultasi dokter.

Setelah wanita itu keluar, Donghae membereskan data grafiknya dan keluar dari ruangannya.

“Aku akan melahirkannya! Aku tetap akan melahirkannya, terserah apa katamu !”

Dari ujung lobi bagian kandungan, di depan pintu darurat, terdengar suara teriakan wanita. Langkah Donghae terhenti dan ia sekilas melihat ke arah pintu darurat itu. Di luar sana, terlihat wanita yang baru saja berkonsultasi dengannya sedang berteriak di telepon.

“Iya! Meskipun aku belum pernah melihatnya, tapi aku akan mempertahankan nyawa janin di perutku ini! Awas kalau kau menyuruhku menggugurkannya! Tidak baik bagi bayi ini!”

Mendengar suara wanita yang berbicara tegas itu, Donghae tersenyum pahit. Masalah memang biasanya ada pada pihak laki-laki. Donghae merasa salut pada jiwa keibuan yang dimiliki setiap wanita dan juga hewan betina yang ada di dunia ini.

“Kadang aku geram melihat kebutuhan biologispara laki-laki,” Donghae bersandar di pagar teras sebuah coffeshop dan berkata pada Tiffany sambil menghela napas pelan.

“Pada dasarnya, dulu manusia hidup di masyarakat matriarkal. Berbeda dengan makhluk lainnya, banyak wanita yang meninggal karena melahirkan anak sehingga para lelaki harus melindungi wanitta demi memenuhi kebutuhan reproduksi mereka. Oleh sebab itu, wanita yang memegang kuasa. Seiring berjalannya waktu, karena alasan perbedaan kekuatan fisik laki-laki dan perempuan, posisi perempuan memang sempat di tekan kembali, tetapi sepertinya sekarang udah tidak lagi ya?”

Tiffany memandang Donghae dan tersenyum penuh arti, seolah tidak lama lagi masa kehidupan suku Amazon kembali datang.

“Tadi pagi katanya ada kondisi gawat darurat ya?”

“Hampir saja berakhir dengan tragedi. Ada seorang suami yang tidak mau meninggalkan istrinya meskipun dahinya bercucuran darah,,,, untung saja tidak berakhir dengan tragedi.”

Donghae mengambil cangkir kopi Tiffany dan meneguknya.

“Biasanya, dokter laki-laki di bagian kandungan tidak memiliki penggemar. Aneh juga ya?” Tiffany menatap Donghae dengan tatapan kosong yang membuatnya tersenyum kecil.

“Selain karena kemampuan dan penampilanku, pasti juga karena rasa sayang dan perhatianku yang mendalam pada anak-anak, kan?”

Donghae mengangkat dagunya dan membentuk huruf ‘V’ menggunakan ibu jari dan jari telunjuk di bawah dagunya. Melihat Donghae seperti itu, Tiffany hanya mendecakkan lidah.

“Kalau saja kata-kata itu tidak keluar dari mulutmu sendiri, pasti tidak akan terdengar menyebalkan. Mereka belum tahu saja kalau kau ini tidak sabaran dan menyebalkan seperti itu.”

“Haha,” Donghae tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tidak jarang tangannya tersiram kopi panas dari mesin penjual kopi karena tidak sabar menunggu kopi itu selesai di tuang.

“Cuaca musim gugur ini enak sekali. Aku jadi ingin pergi ke Gunung Jiri dengan cuaca seperti ini,” Donghae membalikkan badan dan memandang ke arah langit.

“Benar. Kau dulu anggota klub pendaki gunung di kampus kan? Sekarang juga sering mendaki gunung?”

“Tidak, aku tidak punya waktu. Oh, ya omong-omong tentang Dokter Choi, dia sedang apa di Jerman sekarang?”

Di langit terlihat awan putih yang memanjang seperti garis, menyerupai jejak sebuah pesawwat jet.

“Pasti sedang mengurusi bayi-bayi yang baru lahir di Jerman.”

Tiffany mengikuti Donghae menyandarkan lengannya di pagar teras dan memandang langit. Wajahnya terlihat bosan ia lalu menegakkan badannya yang tadi bersandar di pagar itu.

“Aku harus pergi melihat pasien yang dulu di titipkan oleh Dokter Choi.”

“Masih ada pasien?” Donghae pun ikut menegakkan tubuhnya.

“Ya,” Tiffany menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju pintu teras. Donghae dan Tiffany berjalan beriringan di koridor rumah sakir itu. Donghae melirik sekilas ke arah wajah Tiffany yang sejajar dengan pundaknya, kemudian merentangkan tangannya di belakang punggung Tiffany dan memegang sebelah tangan Tiffany yang jauh dari dirinya. Tiffany yang terkejut kemudian menangkap punggung tangan Donghae yang memegang tangannya dan memukulnya pelan. Kemudian ia menoleh pada Donghae dan tertawa.

“Kemarin ibumu menyuruhku untuk main ke rumah. Kau sudah cerita tentang aku?”

Wajah Donghae yang tadinya penuh canda mendadak menjadi serius. Hubungannya dengan Tiffany masih terbilang baru, namun pasti ibunya sudah diam-diam mulai memperhatikan Tiffany. Tidak salah lagi. Ia tidak ingin hubungannya dengan Tiffany berubah menjadi hubungan yang kaku , hubungan yang terlalu di arahkan oleh kemauan ibunya. Ia ingin memiliki hubungan yang normal danwajar dengan Tiffany, tanpa ada campur tangan dari ibunya.

“Aku kan sudah Kemal denganmu sejak kuliah, ibuku bilang kau ini cantik. Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Paling ia hanya iseng-iseng saja.”

Kalau sudah membicaran tentang ibunya, nada suaranya mendadak dingin. Donghae selalu merasa tidak nyaman. Mendengar sebutan “ibu” saja bisa membuat darahnya terasa dingin. Ia tidak ingin terlihat tidak nyaman seperti ini, tetapi sepertinya itu sulit.

“Wah,, berarti aku sudah diperhatikan oleh ibumu ya? Dan harus lebih menjaga sikap?”

Tiffany membuka matanya lebar dan memasang senyum dengan eyesmile andalanya. Seolah memahami raut wajah Donghae yang murung, ia kemudian menepuk-nepuk pundak Donghae. Ia lantas mengedipkan mata kepada Donghae sembari membuka pintu ruang praktiknya. Itulah sebabnya Donghae suka dan merasa nyaman dengan Tiffany. Sewaktu kuliah, ketika Donghae tanpa sadar bercerita tentang dirinya pada Tiffanyy, wanita itu menanggapinya dengan santai dan tenang. ia dapat merasakan sosok seorang ibu dari diri wanita itu.

“Ya, begitulah.”

Donghae tersenyum pada Tiffany. Tiffany melempar seulas senyum hangat pada Donghae kemudian memasuki ruang praktiknya. Begitu wanita itu menutup pintu ruanganny, Donghae berjalan beberapa langkah menuju ruang praktiknya yang berada di sebelah ruang praktik Tiffany. Tiba-tiba, dari pintu darurat di ujung koridor, kembali terdengar suara seorang perempuan.

“Aku tidak akan menghapusnya !”

Suaranya terdengar tinggi dan melengking seolah seperti orang yang tersambar listrik tegangan tinggi. Rupanya ada lagi seorang wanita yang menjadi korban keegoisan laki-laki. Donghae memandang wanita yang sibuk berbicara di telepon itu dengan tatapan prihatin.

“Aku tidak mau! Lantas kenapa?”. Dilihat dari penampilannya, wanita itu sepertinya berwatak keras.

“Itukan kesalahanmu. Aku tidak akan melakukannya! Kau juga harus ikut tanggung jawab kan? Memangnya kau saja yang punya urusan di kantor?”

Apa suaminya tidak boleh punya anak oleh kantornya? Laki-laki egois seperti itu memang harus ditangkap dan diberi pelajaran. Seperti kata Tiffany, seandainya ini masyarakat matriakal, pasti sudah banyak laki-laki yang di tahan.

 

“Memangnya cinta itu di tulis dengan pensil, bisa dihapus seenaknya? Memangnya bayi itu ‘coretan’, bisa di hapus?” Donghae bergumam seorang diri, menggelengkan kepalanya, dan memasuki ruang praktiknya. Sebagai sesama laki-laki, ia pun ikut merasa malu dan prihatin.

Cheeky Romance

 

 

Yoona yang berbicara sambil menempelkan telepon genggamnya ke telinganya akhirnya mendekatkan telepon itu ke depan mulutnya dan berteriak kencang.

“Siapa suruh kau selingkuh dariku! Dasar laki-laki brengsek!”

Kemudian ia buru-buru menutup teleponnya. Amarah seolah menyeruak dari dadanya. Begitu pul dari kepalanya. Tadinya ia pikir komputer kantornya itu error, tetapi ternyata malah memproses tombol “unggah” yang tidak semgaja ia klik tadi. Pasti tadi ia tak sengaja mengklik tombol “hapus” berkali-kali ketika berusaha menghapus tulisannya. Padahal ia tidak bermaksud menyebarkan tulisan itu di internet, tetapi ternyata komputernya “berulah” dan menyusahkan pemiliknya.

Komputer yang sepertinya lebih licik dari pemiliknya itu seakan ikut berkata “laki-laki brengsek tukang selingkuh” kepada Luhan, dan memenuhi kolom situs jejaring itu sebanyak jumlah klik yang ditekan oleh pemiliknya. Begitu mengetahui hal ini, Luhan langsung menghubunginya tanpa henti dan berteriak-teriak menyuruhnya menghapus tulisan tersebut. Entah apakah orang itu sebenarnya menyedari kesalahannya atau tidak. Jelas-jelas kali ini ia yang salah, beraninya ia seenaknya menyuruhku menghapus tulisan itu? Yoona pun sebenarnya tidak bermaksud hal itu, namun Luhan terlanjur meluapkan emosinya tanpa mendengarkan penjelasan Yoona terlebih dulu dan hal ini menbuat Yoona ikut kesal dan berteriak pada laki-laki itu. Yah, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Seharusnya paling tidak hatinya puas.

Akan tetapi, hatinya tidak merasa puas sama sekali. Ia malah merasa aneh dan tidak tenang, karena ia memang tidak ingin melakukan hal ini. Sebenarnya ia ingin segera berlari dan menghapus tulisan itu sebelum ada kepala bagiannya, direktur kantornya, atau siapa saja yang melihat tulisan itu. Namun, ia pun sudah terlanjur marah-marah pada Luhan, sehingga ia tidak bisa langsung menghapusnya. Yoona mendadak diserang rasa panic dan khawatir hanya bisa menggigit-gigit bibirnya dengan cemas sampai kemudian ia menyerah. Ah, terserahlah! Biarlah orang-orang melihat tulisannya itu.

Masih mersa tidak nyaman, Yoona menghembuskan napas ke dahinyanya kemudian melemparkan telepon genggamnya itu ke dalam tas dan memasuki ruang tunggu di bagian spesialis kandungan. Di salah satu kursi panjang di ruang tunggu itu, terlihat Yuri yang sedang hamil tua dengan perutnya yang besar. Ia terlihat asyik merajut. Yoona melangkah dengan gontai dan menghempaskan dirinya duduk disebelah Yuri. Yuri yang sedang menggulung benang rajut sekilas melirik Yoona dan kembali melanjutkan rajutannya. Siapa saja yang sudah ,elihat tulisannya? Yang pasti, orang-orang yang masuk ke kolom di situs jejaring itu sudah melihatnya kan?

Sebagai seorang dengan golongan darah triple A (di korea, orang melihat karakter seseorang melalui golongan darahnya dan orang bergolongan darah A dikenal sebagai si pemikir), tulisan yang tidak sengaja tersebar di internet benar-benar mengusik pikirannya. Yoona menggigit kuku tangannya, kemudian menghela napas panjang dan mulai memainkan benang rajut yang sedang dipakai Yuri. Saat itu, barulah Yuri bertanya padanya.

“Luhan?”

“Ya,” Yoona menyahut dengan nada menggerutu.

“Ada masalah apa lagi?”

“Aku baru saja menyebarkan tulisan disitus jejaring perusahaan kalau dia itu tukang selingkuh.”

Setelah berkata seperti itu, barulah ia menyadari bahwa tindakannya keterlaluan. Seharusnya ia tidak melampiaskan kekesalannya di situs jejaring kantor seperti itu. Harusnya ia menulisnya di buku catatan atau diari saja. Entah mengapa tadi kolom di situs jejaring itu terlihat menggoda.

“Itu saja?”

Yuri melirik Yoona dengan tatapan “tidak mungkin kau hanya berbuat seperti itu”. Yoona tertunduk.

“Aku bilang dia itu tukang selingkuh brengsek dan……”

Sesaat gerakan tangan Yuri yang sedang merajut terhenti.

“Jadi kau memakinya melalui situs jejaring kantor?”

Melihat Yuri yang terkejut dan mulai emosi, Yoona merasa seolah disiram air selokan. Ia pun berteriak dengan kesal.

“Lalu apa yang harus ku lakukan ?!”

Seketika itu juga, para ibu hamil yang berada diruang tunggu dan para perawat yang berada di balik meja pendaftaran terkejut dan saling berpadangan. Yoona merasa panic dan segera menundukkan kepalanya meminta maaf pada mereka. Lalu, ia berbisik pada Yuri, “Ada kesalahan kecil. Aku tidak tahu kalau tulisan itu akan tersebar di internet. Padahal aku sudah mengklik tombol “hapus”. Entah kenapa, saat itu komputerku tiba-ba error….. Tapi, laki-laki itu lebih kurang ajar lagi. Dia malah menyuruhku menghapus tulisan itu, sama sekali tidak sadar kalau dia sebenarnya yang bersalah. Biar tahu rasa dia.”

Yoona mengepalkan tangannya dengan marah dan menghantamkannya pada gulungan benang rajut yang ia pegang. Yuri pun segera mengambil gulungan benang itu dari tangan Yoona.

“sekarang ini sudah tahun 2013, kau bisa tidak sih hidup lebih tenang sedikit di abad ke-21 ini? Kau ini terlalu mudah kesal dan marah di setiap masalah,” Yuri memperhatikan sekelilingnya dan memarahi Yoona dengan suara pelan.

“Jadi, selama ini Eonni juga hidup tenang sambil diam-diam membuat anak?”

“Memang kenapa?” Yuri berlagak tenang seolah hal ini memang sudah ia rencanakan sejak awal.

“Kau kan juga sama. Setelah melihat pria baik-baik seperti Luhan berselingkuh, lantas langsung mengelompokkan laki-laki sebagai bukan makhluk hidup.“

Mau bagaimana lagi. Di hari ketika Yoona tahu bahwa Luhan berselingkuh darinya, ia langsung mencari Yuri, meminum alkohol yang tidak pernah ia minum, dan saat ini marah-marah di depan para ibu hamil.

“Coba kau pikirkan lagi.”

“Apanya?” Yoona menyahut seenaknya karena kesal.

“Mengurus satu anak dengan sepenuh hati saja sudah susah, apalagi kalau sampai harus mengurus laki-laki yang ibaratnya bisa berubah menjadi serigala kalau bulan purnama. Apa perlu hidup seperti itu?”

“jadi, maksud Eonni, aku juga harus mengikuti Eonni menjadi wanita single selamanya? Eonni mau membuat perkumpulan single mom lalu mau jadi ketuannya?”

“Kau ini. Kalau iya memang kenapa? Aku akan membesarkan anak ini dengan bangga, lalu pergi jalan-jalan berdua, makan makanan yang enak dan hidup dengan menyenangkan bersama anak ini. Perkumpulan? Hmm, ide bagus. Bagaimanapun, pasti lebih baik jika ada tempat untuk saling berbagi cerita tentang membesarkan anak seorang diri.”

Mendengar nada suaranya, rasanya seolah perempuan itu benar-benar akan mendirikan perkumpulan single mom dan menjadi ketua perkumpulannya.

“Semoga hal itu tidak menjadi keinginan Eonni semata. Anak di dalam perut itu, meskipun Eonni bisa membuatnya seenaknya, tapi anak itu pasti nanti ingin punya kehidupan sendiri.” Yoona berdecak pelan. Yuri menggerakkan jarumnya kuat-kuat seolah akan menjahit bibir Yoona.

Kemudian ia berbisik pelan sambil membelalakkan matanya, “Kalau sampai ketahuan, bisa gawat. Ini adalah hadiah special dari Dokter Choi selama ia dikirim ke Jerman. Kalau sampai ia di panggil ke Korea kembali karena hal ini, aku bisa mati.”

Yuri memasang wajah ketakutan dan membuat gerakan memotong lehernya sendiri dengan tangannya, seandainnya hal itu benar-benar terjadi.

“Jujur saja, apa itu bisa di katakana hadiah? Itu sama saja tindak kriminal yang disertai ancaman.”

Suatu hari, Yuri baru selesai menoonton film berjudul Mama bersama Yoona, lalu memutuskan untuk melahirkan seorang anak. Saat itu, Yoona mengira bahwa Yuri sedang hamil.

“Jadi siapa ayanya?” Tanya Yoona yang ditanggapi santai oleh Yuri.

“Entahlah, aku baru akan memikirkannya.”

Meskipun melahirkan anak itu butuh perencanaan, bagaimana mungkin orang yang tidak menikah bisa memutuskan untuk melahirkan anak? Menurut Yoona, keputusan Yuri yang kesannya mengharukan itu adalah efek samping dari film yang baru saja mereka tonton, dan setelah menonton beberapa film perang atau action, keinginan itu pasti akan hilang. Namun, keinginan Yuri ternyata sangat kuat, ia bahkan sampai menyusun strategi yang matang. Ia tidak akan membuat gen pria berkualitas mabuk lantas menidurinya, melainkan mengatakan terus terang bahwa ia ingin menerima donor sperma dari gen yang berkualitas.

“Ada salah satu kenalanku yang bekerja sebagai dokter kandungan. Entah apakah ia bekerja di bagian bank sperma atau apa, tapi begitu aku menceritakan rencanaku, ia terlihat antusias. Aku disuruh datang ke rumah sakit tempatnya bekerja. Katanya ia akan memberiku gen berkualitas dari para dokter itu. Bayangkan saja, aku bisa mendapatkan gen salah satu dokter yang pintar dan cerdas itu. Belum lagi kalau sifatnya bagus, benar-benar sempurna.” Yuri bercerita dengan antusias.

“Sebelumnya kau membuat dokter itu mabuk kan?”

“Tentu saja. Mana ada dokter yang mau berkata seperti itu kalau sepenuhnya sadar.”

Yuri sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Dia bukannya membuat mabuk pria dengan gen yang baik, melainkan membuat mabuk dokter yang bisa menyelaksi gen yang baik.

“Dasar penjahat.”

Yuri hanya menanggapi perkataan Yoona dengan polos, “Penjahat apanya. Aku ini hanya ingin memilih gen yang baik untuk anakku”

Yuri kemudian melanjutkan rajutannya dengan santai.

“Kalau nanti ketahuan pun, paling Dokter Choi saja yang hancur. Iya kan?”

Dunia memang semakin aneh. Benar-benar “bangga” rasanya bisa akrab dengan orang seperti ini.

“Ah, entahlah. Semoga saja tidak ketahuan. Toh aku juga tidak akan meminta orang itu untuk bertanggung jawab atas anak ini. Aku hanya ingin melahirkan anak dengan gen yang aku inginkan.”

“Kalau begitu, harusnya sekalian saja memutuskan mau anak laki-laki atau perempuan.”

“Memang……bisa?” Yuri terkejut dan terdiam mendengar perkataan Yoona. Wajahnya terlihat sangat serius dan menyesal karena tidak melakukan hal itu.

“Memangnya apa yang akan kau pilih? Anak laki-laki sempurna seperti ayahnya, atau anak perempuan seperti Eonni?”

“Ah, tapi kalau anak perempuan sepertiku sepertinya biasa saja.” Yuri berkata sambil mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala.

“Aku tidak mau membicarakan hal ini lagi, tidak baik untuk anak di dalam perut ini.”

Barulah muncul sikap keibuannya yang luar biasa. Yoona memandang Yuri dengan heran sambil mendecakkan lidah lalu melirik ke arah rajutannya. Benar-benar jauh dari sempurna.

“Masa buatan seorang fashion designer seperti itu?” Yoona berkata dengan prihatin sambil menatap hasil rajutan Yuri. Tidak jelas apakah itu gendongan bayi atau hanya selimut bayi.

“Warna-warna dasar seperti ini baik untuk bayi. Supaya mata mereka ‘ddar!’ terbuka lebar dan daya kreativitas mereka pun ‘ddar!’ ikut berkembang,” Yuri menggoyang-goyangkan hasil karyanya didepan Yoona dan menjelaskan padanya sambil membelalakkan matanya. Kemudian ia berbalik menatap Yoona prihatin.

“Kau ini, bagaimana mau menjadi presenter kalau pengetahuanmu sempit seperti itu? Pantas saja kariermu begitu-begitu saja.”

Setelah aku mengkritiknya, rupanya ia balas dendam padaku.

 

“Eonni! Mulai besok aku tidak mau menemanimu lagi!” Yoona berteriak kesal pada Yuri.

Yuri berbaring dengan gugup di tempat tidur di ruang USG. ‘Deg deg’ suara degup jantung janin itu terdengar diruangan itu.

“Kelihatan kan bayinya?”

Dokter Choi yang tadinya menangani Yuri sedang menghadiri pelatihan di sebuah rumah sakit di Jerman sehingga sekarang ia di tangani oleh Dokter Tiffany Hwang yang kini menunjuk layar monitor. Yuri menatap layar monitor itu tajam-tajam dengan wajah penuh harap.

“Suara degup jantungnya normal, perkembangannya juga normal. Lalu, apa ada masalah dengan makanan?”

Mendengar pertanyaan dokter itu, Yuri menjawab dengan cemas, “Saya mengalami sembelit.”

Sontak dokter itu tersenyum kecil mendengarnya.

“Wanita hamil memang seperti itu. Banyak mengkonsumsi serat akan sangat membantu. Apa ada keluhan lain?”

“Sampai saat ini masih baik-baik saja. Ibu saya dulu mengalami mual parah di pagi hari, tapi untungnya saya baik-baik saja.”

Apa jadinya kalau wanita sensitif itu mual-mual di pagi hari?  Yoona tanpa sadar menggelengkan kepalanya.

“Sebenarnya itu pengaruh kondisi fisik, bukan gen. Sebaiknya anda makan dengan baik.” Dokter wanita itu menjelaskan dengan ramah. Mendengar penjelasan dokter itu, Yuri yang tadinya menatap monitor dengan wajah bahagia kini memandang ke arah Yoona yang sejak tadi mengawasinya dari balik dokter itu.

“Yoona, anak ini cantik sekali kan? Iya kan?”

Bagaimana aku harus menjawabnya? Yoona kemudian menatap monitor itu tajam-tajam dan berkata dengan suara bergetar, “Eonni…..bisa melihatnya? Bagiku itu hanya kelihatan seperti layar buram saja. Mukanya yang mana? Yang itu?” Yoona menunjuk ke bagian yang berwarna putih di layar itu.

Seketika Yuri menyahut dengan sebal, “Itu pantatnya, dasar kau ini.”

“Oh,,,” Barulah Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya dengan serius.

“Kau ini bagaimana sih? Sudah setiap hari melihat kamera, tapi tetap tidak bisa membedakan mana pantat dan mana muka bayi. Nanti kau mau mencium pantat bayi?” Yuri menggerutu pada Yoona begitu keluar dari ruang periksa.

“Memangnya aku memakai kamera untuk USG? Memang di mana letak perbedaanya?”

Benar-benar perempuan ini.

 

Yoona tetap menggeleng-gelengkan kepalanya di depan pintu ruang periksa yang memiliki papan nama dokter tergantung di depannya. Tiba-tiba, sekelompok dokter lewat disamping mereka dan berjalan menuju ke meja perawat. Melihat hal itu, Langkah Yuri terhenti dan memandang mereka dengan wajah puas.

“Ada kenalanmu?” Yoona memandang datar wajah Yuri yang terpana melihat dokter-dokter itu.

“Entahlah….” Yuri memicingkan matanya dan menatap mereka dengan wajah penuh kagum dan rasa ingin tahu.

“Mau ku beritahu satu rahasia?”

Wajahnya terlihat tidak sabar ingin membagi rahasianya itu. Tanpa kujawab juga ia akan membuka mulut lebih dahulu.

“Di antara dokter-dokter itu…..”

“Dokter-dokter itu….” Yoona meniru ucapan Yuri sambil perlahan mengalihkan pandangannya ke para dokter itu. Mereka terlihhat sedang mendiskusikan suatu masalah yang sepertinya cukup serius. Ditengah-tengah mereka, terlihat seorang pria yang mencuri perhatiannya. Padahal ia berada ditengah-tengah sama seperti dokter yang lain, padahal ia mendapat cahaya lamou yang sama dan tingginya pun tidak terlalu menonjol dari yang lainnya, tetapi entah kenapa, pria itu terlihat paling jelas di mata Yoona dan benar-benar mencuri perhatiannya. Kalau pria setampan itu menjadi dokter kandungan, apa para ibu hamil itu bisa tenang saat diperiksa olehnya?

Memang sih tidak ada aturan khusus yang mengatakan bahwa dokter kandungan harus jelek, tetapi mungkin dokter tampan seperti itu perlu juga untuk mengatur adrenalin para ibu hamil yang diperlukan untuk menhasilkan hormon-hormon tertentu. Penampilannya membuat Yoona berpikir seperti itu dan sesaat ia seperti tersihir meliaht pria itu.

“Dokter Choi yang mengatakan ini padaku, katanya yang memberiku donor sperma ini salah satu dari mereka.”

“Benarkah?” tanpa sadar Yoona bertanya sambil berteriak. Yuri segera menutup mulut Yoona dengan tangannya.

“Ini benar-benar rahasia. Karena aku sangat penasaran dengan orang yang menjadi donorku, jadi Dokter Choi memberitahuku hal ini. Kau tidak boleh bicara sembarangan tentang hal ini,” Yuri meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya dan membelalakkan mata.

Saat itu, dokter-dokter yang berkumpul dimeja perawat mengangguk-anggukkan kepalanya seolah telah mengambil keputusan dan kembali berjalan mendekat ke arah Yuri dan Yoona berdiri. Begitu para dokter melewati mereka, Yuri segera menyembunyikan wajahnya di balik punggung Yoona. Ketika para dokter itu masuk ke ruangan mereka masing- masing, Yoona melihat dokter tadi yang mencuri perhatiannya itu masuk ke sebuah ruangan dengan papan nama “Lee Donghae”.

“Toh tidak ada yang tahu perbuatan Eonni, kenapa sembunyi seperti itu?” Yoona menatap Yuri yang sembunyi dibalik punggungnya.

“Entahlah, kenapa ya? Tanpa kusadari, gerakan refleks?” Yuri berdecak pelan dengan wajah kaku.

“Itulah psikologis seorang kriminal.”

“Begitukah?”

Yuri kembali melangkahkan kakinya dengan berat. Tiba-tiba, ’ugh!’ Yuri memegangi perutnya.

“Setelah tiga hari, sepertinya ‘keinginan’ ini datang juga. Tunggu ya mungkin ini agak lama.”

Yuri memberikan tasnya pada Yoona dan bergegas menuju toilet. Yoona menatap wanita itu menjauh sambil mengerutkan dahi.

“Memangnya simpanan yang ada di perutnya selama tiga hari itu tidak tertangkap oleh USG ya?”

Kemudian ia menatap perutnya sendiri. Coba juga? Yoona mengelus perutnya yang berat karena belum ke belakang itu dan mengangkat kepalanya. Kemudian ia menatap pintu ruang-ruang periksa yang dimasuki oleh para dokter itu.

“Saat menjadi donor, apa mereka sadar bahwa bisa saja anak mereka tumbuh besar tanpa sepengetahuan mereka? Yah, laki-laki seperti itu memang bukan satu dua saja.”

Karena Luhan, kini pandangan Yoona mengenai laki-laki menjadi buruk, sesuai pendapat Yuri. Saat itu, seorang dokter bersin ketika lewat di belakang Yoona. Yoona mengerutkan keningnya. Jangan-jangan bersinnya itu menempel di bajunya, pikirnya. Kemudian ia bergegas menuju ke toilet.

­

 

 

Cheeky Romance

 

 

Donghae keluar dari ruangannya setelah menulis sesuatu di catatannya. Ia bersin di depan pintu dan berpapasan dengan Eunhyuk.

“Hei,, Lee Doc!”

“Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu kan?” Donghae menatap Eunhyuk tajam sambil berjalan ke arah meja perawat.

“Margamu kan Lee, jadinya Dokter Lee kan?” Eunhyuk mengelus hidungnya lalu merangkulkan tangannya di pundak Donghae.

“Kau sebenarnya hanya ingin mengolokku kan?”

Ini bukan hanya masalah marga, namun panggilan antara marga Lee dan “Dokter” terdengar seperti lee dan ayam (Doc [ddak] singkatan dokter, ddak dalam bahasa korea berarti ayam). Ketika jari tangan Eunhyuk mulai mencengkeram pundak Donghae, ia melirik tangan Eunhyuk dan menatapnya dengan prihatin. Kemudian ia memberikan papan catatan yang dari tadi ia pegang kepada salah satu perawat di meja perawat itu.

“Tadi kalian berdua bergandengan tangan kan di koridor rumah sakit?” Eunhyuk mendekatkan wajahnya ke telinga Donghae dan berbisik pelan. Mendengar hal itu, Donghae seketika memperhatikan sekelilingnya lalu menatap Eunhyuk tajam.

“Siapa yang berkata seperti itu?”

“Siapa lagi. Meskipun kau tidak mau mengaku, yang pasti ada yang melihatnya.”

Donghae kemudian menatap ke arah para perawat yang ada di sana. Para perawat it bersikap seolah tak tahu dan menghindari tatapan mata Donghae. Padahal selama ini ia sudah merahasiakannya rapat-rapat, apa kini semua orang telah tahu? Eunhyuk tersenyum puas melihat Donghae panik.

“Kau tahu kan kalau Tiffany itu lumayan banyak penggemarnya di rumah sakit ini? Bahkan pernah ada adik laki-laki dari salah satu ibu hamil mengajaknya berkencan?”

Orang ini benar-benar mau mempermainkanku rupanya. Donghae mengambil papan catatannya kembali dengan kasar dan mengalihkan pandangannya.

“Gosip itu masih ada juga? Padahal aku tidak berpacaran dengannya.”

“Kau pikir hanya itu saja? Dokter Park dari bagian bedah, Direktur Shim dari bagian sekretariat, lalu Dokter Choi yang sedang pergi ke Jerman….”

Seketika itu juga, Donghae meletakkan papan catatannya dengan keras, seolah menggebrak meja itu. Eunhyuk terkejut dan terdiam.

“Jadi maksudmu aku tidak lebih baik dari mereka? Atau, kau menyuruh mundur dan mengalah?” Donghae menatap Eunhyuk seolah menunggu kesempatan.

“Apa maksudmu! Siapa lagi yang lebih cocok dengan Tiffany di dunia ini daripada Lee Donghae? Tentu saja tidak ada!”

Eunhyuk tiba-tiba langsung memijat-mijat bahu Donghae dengan gerakan yang berlebihan.

“Kau mau Green Tea Latte? Mau aku traktir? Atau kau yang mentraktirku?”

Melihat wajah Eunhyuk yang tersenyum riang itu, Donghae akhirnya mengalah dan berjalan ke arah teras.

“Aku yang traktir. Sini kau.” Donghae melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri, diikuti Eunhyuk yang menempel di belakangnya.

“Ah,,, apa aku pindah departemen ya?” Eunhyuk yang sedang berdiri di teras itu tiba-tiba menyandarkan dirinya di pagar teras itu.

“Kenapa? Katanya kau mau menikmati sekali perasaan ketika memegang bayi yang baru lahir di bumi ini, yang terasa lembut dan menakjubkan itu.”

Donghae menyandarkan punggunya pada Eunhyuk yang berdiri di sampingnya dan menyedot habis minumann lattenya.

“Memangnya aku terdengar seperti orang cabul ya?” Tiba-tiba Eunhyk langsung berdiri tegak dan berkata dengan kesal.

“Yah, mungkin saja kau memang terharu dan berseru ‘waaah’ ketika memegang bayi yang baru lahir itu,” Donghae menyahut sambil tetap menggigigt sedotan minumannya.

“Bukan begitu maksudku, waktu itu aku hanya ingin menjelaskan dengan tenang kepada seorang ibu yang takut melahirkan dan membesarkan anak, bagaimana rasanya pertama kali menyentuh kulit bayi, memegang kepalanya. Makanya begitu ku jelaskan, ia langsung minta ganti doter yang menanganinya kan?” Eunhyuk menjelasksn karena merasa tidak adil.

“Menjelaskan dengan tenang?” Entah apakah orang ini tahu arti kata “tenang” atau tidak.

“Jelas-jelas ekspresimu tadi seperti orang yang baru mendapat hadiah game terbaru. Atau seperti orang yang sudah lama mencari senjata rahasia di dalam game dan akhirnya berhasil menemukannya. Aku pun percaya kalau kau berseru ‘waaah’ dengan heboh di depan ibu hamil itu.”

Orang ini adalah orang yang menganggap bayi yang lahir sama dengan game terbaru edisi terbatas. Tanpa melihatnya pun, terbayang bagaimana ekspresi ibu-ibu hamil itu saat pertama melihat orang ini. Malah bisa saja mereka langsung menyumpah ‘dasar dokter cabul’.

“Masa……aku seperti itu?”

Barulah saat itu Eunhyuk terlihat seolah larut dalam pikirannya sendiri, seolah sedang mengintrospeksi dirinya sendiri saat sedang berbicara dengan para ibu hamil yang menjadi pasiennya. Donghae hanya tertawa kecil melihat Eunhyuk seperti itu. Ia tahu pasti bagaimana rasanya memegang bayi yang baru lahir, bagaimana aromanya yang sedikit amis namun wangi. Hanya orang aneh yang mengatakan tidak suka dengan hal itu.

Bayi………

Sesaar, di kepala Donghae terlintas bayangan seorang ibu yang tidak pernah memeluk anaknya, tidak pernah menyentuh jemari anaknya. Ternyata….ada juga, sseorang ibu yang seperti itu.

TBC

LEAVE YOUR COMMENT

Pos ini dipublikasikan di yoonhae dan tag . Tandai permalink.

51 Balasan ke CHEEKY ROMANCE_YOONHAE VER. (1)

  1. ida maryani berkata:

    Bagus chingu, tapi YHM nya kok belum ada..

  2. Santi PyrotecnicsElfYoonhaesuju berkata:

    Wah ini bagus tapi YH nya belum ketmu ya mereka ketemunya kira” di part berapa thor,,?
    Oh ya part selnjutnya jangan lama” aku penasaran ma kelanjutannya^^

  3. nami yuri berkata:

    Keren, lanjut chingu

  4. Lin berkata:

    Keren critanya
    tpi yoonhae momennya blum ada
    next jgn lama”

  5. inggridAnjani berkata:

    Dr ceritanya kayanya seru, tapi pas baca tulisannya bingung banget, agak kurang jelas gitu.

    • sj13215 berkata:

      Hahaha,, begitu ya?? Bacanya pelan pelan, soalnya pertama aku baca novelny juga kurang ngerti. Dibaca ulang ne, soalnya klw blm ngerti nti di part 2 jadi bingung…

  6. muslimahhusin berkata:

    Yoonhae moment nya mana nih??

    Kok donghae sama tiffany??

    Keren thor ff nya. .next part yah.

  7. Citragita berkata:

    Wah, ceritanya bagus thor.
    Bahasanya juga bagus dan rapi.
    Ah, aku penasaran sama next part nn
    Pengen juga rasanya beli novel itu^^
    Next part ditunggu thor

  8. sasumimeida berkata:

    Wah wah seru banget ff nya
    Kira” siapa yah ayah dari anak yuri?
    Next part semoga yoona sama donghae ketemu lagi biar banyak moment nya,
    Di tunggu next partnya

  9. eilistha berkata:

    krennn n kocak ff mu chingu apalagi yv bagian yuri ma yoona pas usg..
    di tnggu lnjutan nya..

  10. Lee Min-nda berkata:

    bagus kok… lanjutkan yaa… aku tunggu part 2 nya…
    semoga udah ada YHM nya… kkkk…

    karena…

    karena masalahnya saya ngarep banget… kkkk LOL

  11. renai berkata:

    wah bagus, suka bgt alurnya..
    Kyknya Yoona udah mulai tertarik sama Donghae tuh xD
    ditunggu lanjutannya thor.
    Fighting!🙂

  12. diiah ciicwejutexs berkata:

    Hae oppa namjachingunya tiffany y???aigooooo trs yoona gmn?
    Next part YHM y thor a tunggu

  13. nikka berkata:

    bagus si thor bikin penasaran critanya tp kok yoonhae momentnya blm ada malah ke haefany yah maaf ya q bias yoonhae couple hehehe

  14. stu kta, daebak ni crtanya ^_^
    aduh udh ga sbr pngen bca part snjutnya..
    jgn lma” ya, kra” kpn da YHM ??

  15. Lawliet berkata:

    Di tunggu kelanjutannya

  16. Lee Sichacha berkata:

    YHM nya belum nongol ya?
    keke~
    ffnya keren cepet dilanjut yaa
    oiya ktnya ff ini mau dijadiin novel yaa

  17. laurencia berkata:

    seru min..hub hae sm tiff apa sbenernya??
    Cpet dilanjut dan bnykin yh moment yaa
    Keep writing and fighting

  18. LoveLy_pyRos berkata:

    yah,YH moment’y Lum ada ya…!? ngkek td paz bcA bgian yoona n yuri pas usg hahaha…!? dtnggu part sLnjut’y…

  19. fauziah love yh berkata:

    daebakk.. Tapi agak membingungkan thor.. Hehe he🙂 next part ada’in & banyakin YHM nya ya thor

  20. Idom09 berkata:

    Hahaha….geli bgt pas percakapan yoonyul saat yul di USG…. Oh jd yul it hamil krena kemauan sndri,kirain diprks ato apa…

  21. im pizza berkata:

    Bingung ane,,gx pham mksud dr prktaan donghae, trus..haefany it udah pcran gtu? Q sangka siwon oppa orang yg nghamili yuri..trnyta cuma mmberi gen aj gtu hehe
    q hrap part 2 klimatnya gx serumit uni^^

  22. widia berkata:

    Yoonhaenya belum ada momentnya dan belum ketemu, hae jangan sama tiff dong sama yoong aja itu juga kalau udah ketemu yoonga
    Ffnya sru thor meskipun masih rada bingung hehe tapi tetep lanjut yaaa. Hwaiting !

  23. iffah rahmah berkata:

    ciee,Lee Doc
    haha,
    next2,

  24. Tya Nengsih berkata:

    next partnya dtunggu

  25. CalysthAiden Lee berkata:

    Ffnya daebakk…!!!walau masih bingung”?”

    dokter choi disini itu choi sulli kah ato dia dokter namja??kalo dia namja apa dia yang jadi pendonor ato dia hanya membantu yuri sedangkan dokter yang lain yang jadi donor??

    Firasat q kalo yang jadi pendonor bukan dokter choi,jangan2 si donghae lagi O.O jangan sampe dech…

    Ditunggu part selanjutnya soalnya Di part ini masih belum jelas semuanya…

    Ditunggu…!!!

  26. regina berkata:

    donghae kata2nya saklek bgt tegas tp tajam tp itulah perlunya seorang dokter kandungan, ngasih edukasi ke pasiennya… jgn cuma mo enak bikin tp ga mau ngerawat dan mengandung, giliran dah lahir main buang anak seenaknya kasian jg ibu2 yg ga bs pnya anak miris liatnya😦

    Di sini blm ada YHM next partnya moga yoona ama donghae dah ketemuan, aku jg penasaran sapa dokter yg donorin spermanya buat yuri, smoga di part berikutnya udah lbh jelas, semangat ya thor di tgg part 2nya, kamsa🙂

  27. hygiene berkata:

    Lanjutt yahh,penasaran,

  28. vhya pyrotechnic berkata:

    Wah ff baru ya.
    Ceritanya seru dan beda.
    Pantas yoona eonnie gg punya program tetap, soalnya yoona eonnie pengetahuannya sempit sih #dihajaryoonaddict

    ditunggu nextnya.
    Fighting.

  29. vhya pyrotechnic berkata:

    Wah ff baru ya.
    Ceritanya seru dan beda.
    Pantas yoona eonnie gg punya program tetap, soalnya yoona eonnie pengetahuannya sempit sih #dihajaryoonaddict

    ditunggu nextnya.
    Fighting..

  30. haznia amri berkata:

    yoona kasianjuga diselingkuhin sama luhan, tapi masih bingung yuri dapet sprema dari siapa?
    ok lanjut

  31. friska berkata:

    q suka jlan critanya
    dri citanya spertinya pengrangnya tahu sedikit ttg bayi
    bidan ya atau dokter sungguhan??
    soalnya deskripsiin bayi dan ibu hamilnya ngerasa nyata

  32. Luluyoong berkata:

    Yg donorin sperma bkn donghae kn thor. Aduh need yoonhae moment ni

  33. wulandariiyang berkata:

    keren,keren,keren…seru abis..curiga nih kaya ny yg jadi pedonor Yuri, Donghae deh..
    Lucu cerita ny Chingu..tapi YH blum ketemu yah..
    Ijin next bca yah..

    • sj13215 berkata:

      hahaha, gomawo ne. ah, kamu ma sok tahu,,, tau darimana itu yg donorin donghae?? wakwak. moment yh nti ne, sekitar part 6 seterusnya..

      sip sip silahkan dibaca. gomawo ^^

  34. setelah ngutak-ngatik internet baru dapat ff ini..🙂

    aku pernah baca novelnya.. tebel banget
    tapi admin banyak buat perubahan kok.. jadinya gak berat waktu baca ..
    apalagi castnya yoonhae.. jadi tambah senang bacanya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s